
POV Shena
"Mas, apa maksud kamu? kamu tau kan, kamu bisa menjatuhkan talak, Mas." nada ku sedikit kecewa. Tak percaya mas Leon mampu mengucapkan kata itu.
"Aku belum menjatuhkan talak, Shena Assegaf. Aku masih bertanya padamu. Aku membutuhkan seorang saksi disini, jika aku bener-bener ingin menjatuhkan nya." nada mas Leon terdengar santai.
Bagaimana mungkin kamu bisa sesantai ini mas?
Aku kecewa mendengar pernyataanmu ini. Seperti tanpa alasan dulu kamu meminangku, dan sekarang tanpa alasan kamu ingin berpisah dariku. Apakah ini hanya permainanmu?
"Lalu apa maksud kamu menawariku sebuah perpisahan, Dokter Leon Zack Mc.Kanzee?"
"Lalu apa yang harus aku tawarkan padamu? Heemm?" tanya mas Leon lembut.
"Saat aku melihat istriku, Shena Zein Assegaf berpelukan di tempat umum dengan mantan kekasihnya?" nada nya memang terdengar lembut, tapi aku mendengar ada kemarahan yang di pendamnya.
Aku terkejut mendengar kalimat yang di ucapkan mas Leon. Dia, dari mana dia bisa tahu?
Oh ya Tuhan bagaimana aku menjelaskan padanya?
Jadi ini alasan dibalik sikapnya belakangan ini.
"Mas ... Mas. A-a-a aku bisa jelaskan. Kamu salah paham, Mas." aku terbata mengatakan nya. Aku sangat terkejut mas Leon bisa mengetahui hal ini.
"Kenapa? kenapa kamu tidak menjelaskan nya dari awal?"
"Mas, aku hanya takut melukai hati kamu, Mas." Jelasku hati-hati.
"Kenapa kamu tidak menceritakan apapun, Shena? Kenapa baru sekarang?"
Entah lah, mas Leon sangat marah, tapi dia seperti sangat lihai menyembunyikan nya. Nada nya bahkan masih sangat santai dan lembut.
"Aku pikir, tidak ada apapun antara aku dan Randy, Mas. Jadi aku tidak ingin bercerita kepadamu." Sungguh aku merasa bersalah sekali.
"Ada atau tidak, seharus nya kamu cerita. Jika kamu hanya diam, berarti kamu memiliki sesuatu yang lain." mata mas Leon terlihat memerah.
"Mas aku berani bersumpah, tidak ada apapun antara aku dan Randy." nada ku mulai meninggi.
__ADS_1
mas Leon yang marah tapi aku yang bicara nya gak selow.
Mas Leon jalan mendekat kearahku, ia melemparkan bokongnya di bibir ranjang. Menatapku dengan wajah sendu. Mas Leon meraih kedua pipiku dan mencium bibirku.
Apa seperti ini cara kamu melampiaskan amarahmu mas?
Maka lakukanlah sepuasmu jika itu bisa membuatmu tenang. Seperti ada rasa kecewa yang mendalam di hatiku.
Perlahan mas leon mulai melepaskan ciuman nya dariku. Dia berbalik dan kembali ke depan jendela. Aku tidak tau harus bagaimana menjelaskan nya, agar kamu bisa percaya padaku mas. Tapi melihatmu seperti ini pun membuat hatiku begitu hancur.
Aku berjalan mendekati mas Leon. Ku peluk badan tegap mas Leon dari belakang. Perlahan buliran air mataku mulai melintas ke pipi cabiku. Aku yang salah tetapi aku juga yang merasakan sakit dan kecewa. Aku tidak tau apa yang sedang mas Leon rasakan saat ini.
"Mas, ku mohon percayalah padaku. Aku sudah tidak terikat lagi oleh masa laluku. Aku mohon, Mas." mas Leon hanya terdiam dan menatap kosong keluar jendela
"Mas, tolong jangan ucapkan kalimat itu lagi, Mas. Aku sangat takut."
Aku melepaskan pelukan ku dan kuraih wajah mas Leon. Ku tatap wajah nya lekat-lekat, dia marah tapi kenapa kemarahan nya hanya sebuah kebisuan. Percayalah sebuah omelan saat marah itu lebih baik dari pada kebisuan saat marah.
Aku menjijitkan kedua kakiku dan ku tundukan kepala mas Leon. Aku mencium bibir mas Leon lembut dan perlahan dia mulai memeluk tubuhku erat. Aku tidak tau bagaimana membuatmu agar bisa memarahiku mas, tapi jika ini memang caramu, maka aku akan melakukan nya dengan caramu.
Kurasakan tangan mas Leon yang membelai lembut ujung kepalaku. Dia mengangkat tubuh mungil ini ke tempat tidur. Mas Leon membisikanku dengan nada yang nyaris tak tedengar.
Aku bisa saja menolak nya, tapi kenapa seperti ada keinginan di dalam hatiku untuk menerimanya. Seperti ada gejolak di dalam diriku yang menginginkan ini terjadi. Hasrat yang tertidur dan tidak pernah terbangun selama ini, perlahan mulai menampakan kehadiran nya.
Aku sedih? tidak, aku kecewa. Kecewa karena mas Leon melampiaskan nya dalam kemarahan. Seandai nya mas Leon tidak marah, apa dia akan melakukan nya begini?
Mungkin marah atau tidak mas Leon juga tetap akan melakukan nya, mas Leon telah menahan nya selama setahun, mana mungkin dia bisa menahan nya lebih lama lagi.
Tapi kenapa harus dengan amarah mas? jika tidak, mungkin aku akan bahagia, karena aku telah menerimamu dalam hatiku.
Sinar matahari pagi menyapa hangat wajahku. Aku sudah tidak mendapati mas Leon di sampingku. Kuraih jam di sebelah kasurku sudah menunjukan pukul 8 pagi. Kenapa alarm ku tidak berbunyi?
Aku segera turun dari kasur dan bergegas ke kamar mandi. Oh tapi ini masih terasa sedikit perih.
Aku raih ponselku dan ku kirim pesan ke tempat mas Leon, tapi jangankan di balas, di lihat saja pun tidak. Huhhh ya sudahlah, mungkin dia masih sedikit kesal padaku.
Eh ... tunggu dulu, dia masih kesal dengan apa yang sudah dia lakukan padaku semalam?
__ADS_1
Aku yang dirugikan kenapa juga dia masih marah?
Memang laki-laki itu membingungkan. Kadang isi hati mereka tidak bisa tertebak sama sekali.
Aku membereskan seisi rumah dan kurapikan pohon-pohon di taman kecil kami. Tapi itu tidak bisa mengurangi kegelisahan hatiku, aku begitu gelisah melihat sikap mas Leon yang seperti ini. Dia membisu dan itu membuat aku bingung harus bagaimana menghadapinya.
Seharian aku menunggu balasan pesan dari mas Leon. Tapi mas Leon tak mengirimi apapun, bahkan dibaca juga tidak.
Malam mulai larut, tapi mas Leon belum juga menampakan wajahnya. Sesibuk apa kamu disana mas, sampai kamu tidak membaca pesanku?
Kulihat jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Kemana sih kamu mas?
Aku merebahkan badanku dan ku tatap layar ponselku berharap mas Leon mengirimiku pesan, kenapa dia terlambat pulang. Perlahan kesadaranku mulai menghilang dan aku pun tertidur.
Aku kembali terbangun di pagi hari dengan mas Leon yang sudah tidak ada disampingku. Apa mas Leon semalam tidak pulang nya?
Aku menatap sekeliling kamarku, ku lihat beberapa pasang baju di keranjang baju kotor dan handuk mas Leon yang sudah di jembreng di atas jemuran. Dia pulang tapi kenapa dia tidak membangunkanku. Bahkan alarmku juga tidak berbunyi pagi tadi.
Lagi, mas Leon juga belum menampakan wajahnya padahal malam sudah semakin larut. Lagi lagi dia pulang larut malam, tapi aku bahkan tidak bisa menghubunginya walaupun sekedar menanyai keadan nya. Kenapa aku mulai merasa, kamu menghindariku mas. Aku merasa kehilangan kamu, Mas.
Dan kejadian ini terus berulang sampai 5 hari lamanya. Aku tidak bertemu sekalipun dengan mas Leon. Kami masih tertidur di kasur yang sama, tapi kenapa sulit sekali aku untuk menemuinya. Aku bahkan tidak keluar rumah walau sejengkalpun, karena aku takut bertemu Randy lagi. Aku takut kesalah pahaman kami terus meruncing.
Aku selalu melihat sarapan yang sudah tertata di meja makan setiap pagi, tapi mas Leon tidak pernah membuat pesan apapun, bahkan ribuan pesan yang ku kirim satu pun tidak ada yang dilihatnya. Apa yang terjadi padamu?
Kenapa kamu begitu misterius mas, aku pikir aku telah mengenalmu. Tapi ternyata sedikitpun aku tidak mengenal siapa kamu.
Mas, aku akan menjelaskan nya padamu, aku akan menceritakan setiap detilnya jika kamu minta. Tapi aku mohon jangan begini, aku kesepian mas. Aku merindukanmu mas, bisakah kamu merasakan hatiku?
Aku merasa aku telah kehilangan kamu mas.
Bahkan mas Leon juga meninggalkan aku di hari sabtu. Dia membiarkan aku sendiri disini. Apa jangan- jangan mas Leon sudah punya rumah lain untuk pulang ya?
Apa mas Leon hanya menjadikan ini sebagai sebuah alasan dia ingin berpisah dari aku?
Enggak, mas Leon tidak bisa mencampakan aku begitu saja. Mas Leon tidak bisa meninggalkan pernikahan ini begitu saja.
Aku harus bicara dengan nya. Permasalahan ini harus jelas, tapi bagaimana aku bisa berbicara dengan nya. Bahkan di sabtu malam begini dia juga belum pulang, padahal jam sudah menunjukan pukul 11.30 malam.
__ADS_1
Apa mas Leon bermain-main dengan wanita di luar sana ya? mas Leon tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan mas, aku mohon padamu