Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 22


__ADS_3

Aku, mana mungkin jatuh cinta. Hatiku sudah cukup merasakan patah yang tidak pernah sembuh, aku tidak ingin lagi merasakan luka karena cinta.


Aku mencoba untuk membuka pelukan tangan mas Leon yang melingkar di perutku.


"Mas, bukan nya kamu mau pergi ya? kenapa masih disini?"


"Kenapa? Kamu mengusirku dari rumahku?" nafas mas Leon terdengar berat.


"Bukan begitu, nanti Riany menunggu kamu."


"Bukan nya kamu tadi, yang tidak ingin aku pergi dengan Riany, kan?" Dia semakin menempelkan badan nya kepadaku.


"Mas jangan begini"


"Memang kenapa?" Mas Leon semakin membenamkan wajahnya di bahuku.


"Mas, apa kamu mau aku mati muda? Jantungku, tidak baik Mas."


"Jantung mu, kenapa?" mas Leon meletakkan tangan nya di dadaku. Dengan cepat aku memukul tangan nya. Terdengar suara nya tertawa dengan pelan.


"Tangan mu, Mas." nadaku kesal.


"Tanganku? kenapa? Aku hanya mau memeriksa jantungmu. Tenang saja suamimu ini Dokter Jantung. Tidak akan terjadi apa-apa dengan jantungmu, selama ada aku disini."


Aku yang tidak yakin jantungku tidak akan kenapa-napa, jika dia terus seperti ini. Tingkah nya ini membuat jantungku berdetak tidak beraturan. Memompa darah lebih cepat dari biasanya.


Aku bahkan sudah mengeluarkan keringat dingin dari tadi.


"Aku gerah mas, tolong lepaskan aku." aku berusaha membujuk nya.


"Yasudah, kita mandi bersama saja."


"Mas..." ucapku sedikit malu.


"Baiklah, cium aku. Maka aku kan melepaskanmu."


Huuhh tipu daya seperti apalagi ini? dia ini benar-benar deh.


"Baik, lepaskan dulu pelukan mu, bagaimana aku akan mencium mu jika kamu di belakang ku?" aku tersenyum sinis.


"Tidak, aku bukan anak kecil yang dengan mudah tertipu denganmu. Kau bisa menciumku begini."


Dasar kau ini Mas, kamu yang terlalu pintar atau aku yang terlalu bodoh sampai bisa terjebak pada situasi seperti ini. Aku akan menghajarmu sampai lumpuh jika kamu bukan suamiku.


"Yasudah, longgarkan saja tanganmu, aku akan berbalik untuk menciummu."


Mas Leon melonggarkan pelukan nya yang sedari tadi sangat erat. Aku membalikan badanku dan mundur satu langkah kebelakang untuk membuat jarak. Ku letakan kedua tanganku di atas pundaknya. Ku jinjitkan kakiku untuk menyamai bibir nya.


Namun aku masih juga tidak sampai untuk menyamainya, mas Leon tersenyum dan menundukan wajahnya.


Ku belai lembut dahi mas Leon dan ku raih pipi kanan nya. Dia tersenyum lembut dan menutup kedua matanya, saat wajahku mulai mendekat ke arahnya. Ku tempelkan bibirku pada bibirnya, lalu dengan cepat aku melepaskan pelukan nya dan berlari keluar.


Terdengar suara mas Leon yang tertawa geli.


"Dasar kamu ini."


Ini tidak benar, dia bukan mas Leon, pasti bukan. Mana mungkin mas Leon seagresif itu. Apa dia setan yang menyerupai mas Leon?


Seperti di film-film itu.


Tapi mana mungkin setan bisa seharum mas Leon. Masak sih, masak iya? siang-siang ada setan.

__ADS_1


Aku menepuk-nepuk dahiku sendiri dan tersenyum geli mengingat kejadian tadi.


Tok...Tok... Suara pintu kaca dapur di ketuk. Ku lihat mas Leon sudah berpakaian rapi berada di sebalik pintu.


Oh ya ampun aku mengunci pintu nya.


Aku berlari membukakan pintu, sebelum mas Leon menerkamku kembali, aku mengambil langkah seribu untuk pergi. Namun tangan panjang nya itu dengan cepat menarik tanganku.


Oh ya Tuhan sudah cukup, aku tidak sanggup lagi mengikuti permainan nya. Atau tidak jantungku akan berlari keluar dengan cepat.


"Aku mau pergi, kamu dirumah hati-hati ya." ucapnya serius.


Eh kok mas Leon udah sembuh ya?


"Kamu panggil ojol aja untuk mengantar pesanan ya."


Dia meraih kepalaku dan mengecupnya dengan lembut.


Ku raih dahi mas Leon, ku letakan punggung tanganku di dahinya, untuk memeriksa suhu badan nya.


"Kamu udah sembuh, Mas?" aku agak heran melihatnya begitu tenang dan santai.


"Kenapa? Kamu mau kita melanjutkan yang tadi?" mas Leon menaikan sebelah alis nya.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mas Leon belum sembuh, dia cuma sok cool aja.


"Aku yang pergi antar saja ya, aku mau sekalian tempat Ibu."


"Yasudah, aku pergi dulu ya. Kamu hati-hati ya." dia mengelus ujung kepalaku dan berlalu dengan cepat.


Aku bergegas bersiap-siap untuk mengantar pesanan.


Huft... Ku hela nafas panjang setelah mas Leon berlalu pergi meninggalkan rumah.


**  **  **  **


"Mbak, aku minta maaf ya. Aku udah kasar sekali sama kamu, Mbak." suara Shima terdengar menyesal.


"Yasudah lah, Shima. Mbak sudah memafkanmu, tapi kamu harus janji sama mbak untuk belajar dengan sungguh-sunguh ya. Buat mbak, Ibu dan Bapak bangga."


Shima mengangguk dan memelukku erat, tak lama dia berlalu pergi.


"Nduk, semua baik kan? Ibu lihat kamu berbeda hari ini, ada apa? cerita ke Ibu."


"Ndak ada apa-apa kok, Bu." aku tersenyum malu.


"Kamu bohong, Ibu kenal kamu lebih dekat dari pada siapapun. Wajah mu ini seperti orang jatuh cinta. Kamu sudah jatuh cinta pada suamimu kan?"


"Cinta? aku sudah tidak bisa merasakan jatuh cinta lagi, Bu. Cinta itu sudah tidak akan ada lagi dalam hatiku."


"Jangan terus membohongi dirimu, Shena. Jatuh cinta itu bukan hal yang buruk. Kamu gak perlu terus menghindarinya. Suamimu itu lelaki yang baik, Ibu percaya dia bisa membuatmu bahagia."


"Tidak, bu. Aku tidak jatuh cinta. Aku tidak mau jatuh cinta. Cinta itu hanya bahagia di awal, Bu. Setelah itu dia akan terus membuat luka di hati."


aku berjalan membelakangi Ibu dan menatap keluar jendela.


"Leon itu pemuda yang tulus, dia begitu tulus padamu. Bahkan saat dia marahpun dia masih memperlakukan dirimu dengan sangat baik. Kamu tidak akan menemukan lelaki seperti dia lagi, Shen. Jangan sampai kamu menyesal nanti."


"Dia sangat baik memang, Bu. Tapi hatiku memang tidak pernah mencintainya, mau bagaimana?" ku dengar Ibu menghela nafas panjang. Dia meraih ujung bahuku.


"Ketulusannya akan mengalahkan kerasnya penolakan di dalam dada. Kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu kamu, Shen. Ini sudah setahun, mau sampai kapan kamu terus menabur cuka di atas lukamu itu? Leon dan Randy itu berbeda. Leon tidak akan memperlakukanmu seperti Randy."

__ADS_1


"Tapi, Bu..." belum sempat aku berbicara, ibu sudah lebih dulu memotong kalimatku.


"Dulu kamu jatuh cinta pada saat yang salah. Kamu mencintai seseorang yang memang seharusnya tidak kamu cintai, Shen. Kamu mencintai Randy yang belum halal untuk kamu cintai. Bukan cinta nya yang salah, tapi kamu yang salah menaruh tempatnya."


"Iya, aku tau, Bu. Tapi mas Leon dan aku... Pernikahan kami tanpa cinta, Bu. Aku hanya menerimanya saja."


"Kamu sudah mencintainya, Ibu tahu. Tapi kamu selalu menolak kehadiran nya. Pikiran dan hatimu sudah tidak sejalan, Shen. Tanyakan pada hatimu, jangan pada pikiranmu. Kamu akan tahu jawaban nya."


Setelah hari menjelang sore, aku memutuskan untuk kembali kerumahku.


Sepanjang jalan aku selalu memikirkan perkataan Ibu.


Masak iya sih aku jatuh cinta pada mas Leon. Ah tidak Ibu pasti salah, aku mana mungkin jatuh cinta padanya. Aku hanya terbiasa padanya, hanya itu.


Aku duduk di sebuah bangku taman deket rumah Ibu. Perkataan Ibu masih terus terngiang di telingaku. Aku cinta mas Leon?


Aku tersenyum dan menggeleng, tidak mungkin lah. Hatiku sudah cukup merasakan luka dulu, aku akan melindunginya. Aku tidak akan membiarkan hatiku direbut lagi, lalu dicampakan kembali.


"Aku selalu merindukanmu, Shen."


Aku memalingkan wajahku ke tempat suara itu berasal. Ku lihat Randy telah duduk di sebelahku.


Oh ya ampun mau apalagi dia.


"Randy." Aku memalingkan wajahku.


"Shen, ku mohon jangan pergi. Aku hanya ingin bertemu sebentar."


"Maaf, Randy. Tapi tidak seharusnya kita bertemu." tolakku padanya.


"Aku masih sangat mencintaimu, Shen. Bahkan bayangmu masih terus bermain di ingatanku."


"Oh ya ampun, kamu membicarakan cinta? Aku rasa kamu tidak tau cinta itu apa."


Aku bangun dari tempat dudukku dan beranjak pergi. Randy melingkari tangan nya dan memeluk ku dari belakang. Sontak aku melepaskan pelukan nya dan melayangkan tamparan keras di pipinya.


"Ingat! Jaga batasan kamu, Ran. Aku ini istri orang!"


Sesaat rona wajahnya berubah, yang tadinya menampakan wajah sendu, kini berganti memerah karena amarah.


Sudah lama tak bersama, bahkan ia masih tak mampu mengendalikan amarahnya.


"Oh... Apakah laki-laki itu yang mengajari kamu berbuat sekasar ini? Setahu aku kamu itu perempuan yang sangat lembut, Shen."


"Itu bukan urusan kamu."


Aku beranjak pergi, tapi tangan Randy mencengkram tanganku. Dia memegang kedua bahuku dengan kuat.


"Shena. siapa dia sampai kamu harus membelanya seperti itu di depan aku?"


"Dia suamiku, dan kamu... Kamu bukan siapa-siapa."


"Iya, dia memang suamimu. Tapi apakah dia bisa menggantikan aku di hatimu?"


Perkataan Randy tepat mengenai hatiku, bagaimana dia bisa tahu ini? Aku berusaha keras untuk melupakan kamu, Ran. Tolong jangan buat ini semakin sulit bagiku.


Bibirku kelu, aku tidak tahu harus berkata apa.


Ucapan Randy benar adanya, tapi aku? aku tidak mau Randy kembali menghancurkan benteng yang sudah aku bangun selama ini.


Aku melepaskan tangannya dari bahuku, dan dengan cepat pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


"Shena. Ceraikan dia dan kembalilah padaku. Aku akan menerima apapun statusmu."


Aku menghentikan langkahku. Aku membalikan badanku dan berjalan kearahnya.


__ADS_2