
Seminggu di rawat inap, akhirnya aku di bolehkan untuk pulang. Tapi aku memilih untuk pulang kerumah aku. Tempat dimana aku menghabiskan waktu dengan mas Leon. Memang Ibu dan Bapak tidak mengizinkan aku untuk tinggal sendiri, apalagi dengan keadaanku yang lemah begini. Setelah berdebat panjang dengan Ibu, akhirnya Ibu luluh juga.
Jadi Ibu dan Bapak mengizinkan aku kembali kerumah ini dengan syarat Shima dan Shine akan tinggal bersamaku disini.
Terserah Ibu saja, aku hanya ingin kembali kerumah ini. Setidaknya aku masih bisa mencium aroma wangi mas Leon dirumah ini. Hanya itu yang mungkin bisa membuat aku tetap bertahan.
Seminggu sudah berlalu semenjak gempa itu, tapi aku tidak ada mendapatkan kabar apapun dari mas Leon. Apa yang harus aku lakukan? kandunganku tidak cukup kuat untuk menyusulnya kesana. Lagian dimana dia sekarang aku juga tidak tahu. Kamu menghilang begitu saja mas.
Aku membuka perlahan pintu rumah ini, baru satu jengkal aku melangkah, namun seribu bayangannya sudah muncul di pandanganku. Aroma wangi ruangan ini, sofa ruang tamu, dan beberapa bingkai foto kamu yang terpajang di dinding putih itu. Semuanya mengingatkan aku bagaimana terakhir kali kita meninggalkan rumah ini.
Kamu menciumku dan berkata untuk tetap setia menunggumu pulang.
Aku sudah pulang mas, lalu dimana kamu mas?
Kita meninggalkan Rumah ini bersama, lalu kenapa hanya aku yang kembali.
Kembali buliran bening ini menlintasi pipi cabiku. Ku jejaki lantai keramik abu-abu rumah ini. Ku sentuh setiap barang yang selalu di pegang mas Leon dulu.
Buku-buku tentang cardiology, perpustakaan kecil tempat mas Leon sering menghabiskan waktu saat libur. Bangku kecil di depan rak buku yang selalu menjadi saksi betapa sering mas Leon menyapa mereka. Kini buku-buku disini sudah di hiasi debu tebal, rumah ini sudah aku tinggali hampir setengah bulan.
Tapi kenapa aroma tubuh mas Leon masih terasa sangat menyengat di hidungku. Aku duduk di bangku kecil itu, dan semua tangisan yang ku pendam meluap. sesak sekali rasanya, bayangan mas Leon selalu hadir di setiap sudut rumah ini.
Aku berjalan menuju kamarku, kulihat ruangan makan yang biasa ramai dengan canda tawa kami, kini sepi bagai takĀ berpenghuni. Aku melihat dapur yang biasa hangat dan harum wangi masakan mas Leon kini dingin sekali.
Disana, tempat yang biasa paling sering mas Leon menggodaku. Tempat biasa mas Leon meletakan barang yang biasa ingin dia berikan padaku. Aku melihat punggung badan mas Leon yang sedang memasak dalam pandanganku.
Untuk kesekian kalinya tangisanku kembali pecah, aku melihat bayangannya dimanapun. Mungkin ini yang membuat Ibu dan Bapak tidak mengizinkan aku kembali kesini. Pasti banyak kesedihan yang kurasakan. Tapi inilah yang membuatku mampu bertahan, bayangan mas Leon yang masih hangat kurasakan. Semua ada disini, semua kenangan yang membuat aku hidup. Walau aku hanya hidup dalam bayangannya.
Aku membuka pintu kamarku, dan entah berapa banyak kenangan yang hadir di kamar ini. Ini tempat yang paling banyak menyimpan kenangan kami, air mataku, air mata mas Leon menetes di tempat ini. Tempat kami untuk bercanda setelah lelah.
Ku buka lemari bajuku dan masih tersusun beberapa pasang baju mas Leon. Ku cium aroma parfume lembutnya itu menyapa hidungku. Membuat anganku kembali terbang ke waktu pertama kali dia melamarku. Bagaimana aku berulang kali terjebak oleh pesonanya karena wangi ini.
Aku bersumpah mas, kamu harus menebus setiap tetes air mata ini jika kembali nanti. Iya kamu harus menebusnya dengan sangat mahal. Itupun jika kamu kembali, bagaimana jika kamu tak pernah kembali?
Aku merebahkan badanku dan menenggelamkan wajahku dibantal. Bahkan bantal ini pun masih menyisakan bau kamu mas. Bagaimana aku jika harus tanpa kamu mas?
Apa aku mampu mengurus bayi kita sendiri?
Entah sudah berapa kali aku menangis begitu dalam seperti ini. Namun airmata ini hanya mampu menghadirkan bayangan mas Leon saja. Ia tidak mampu membawa kamu kembali kesini mas.
Bayanganmu selalu muncul setiap kali aku membuka pintu di rumah ini. Kamu selalu tersenyum manis, bayanganmu selalu tersenyum padaku mas. Bayanganmu selalu mengejek air mataku ini mas.
__ADS_1
Aku hanya mampu berdiri mengikuti bayanganmu mas, aku mohon kembalilah kesini, Kesisiku.
--- ---- ----
Aku membereskan seisi rumah ini seharian. Lelah sudah mulai merasuki setiap tulangku, keberadaan Shine dan Shima membuat keadaan rumah ini lebih berwarna sekarang.
Perutku sudah mulai membesar karena kandunganku saat ini sudah mulai memasuki minggu ke 28.
Syukurlah dia baik-baik saja, padahal setiap hari aku masih sering menangis karena mas Leon yang masih belum ada kabar. Aku mencoba untuk bertanya pada pihak Rumah sakit, namun mereka juga kehilangan kabar kedua Dokter muda itu.
Sudah dua bulan mas, dan kamu tidak pernah memberiku kabar sedikitpun. Kamu hanya punya waktu satu bulan lagi untuk kembali. Atau tidak, aku tidak akan menerimamu kembali.
Karena itu kamu harus kembali kesini, karena rumah mu disini, disiku.
Kamu tidak boleh hanya meninggalkan kenanganmu disini, sudah dua bulan berlalu tapi aroma ruangan ini masih tercium bau kamu mas. Walaupun kadang dia hanya tercium samar dihidungku.
Bayanganmu juga masih sering mengejekku saat ku buka mata ini di pagi hari. Atau punggung badanmu yang memasak sarapan. Aku masih melihat itu semua disini. Aku masih merasakan hangat pelukmu di tengah dinginnya malam.
Aku akan gila jika kamu tidak kembali mas. Aku akan gila jika tidak ada bayi ini dalam perutku mas.
Aku akan gila jika kamu benar-benar pergi dari sisiku mas.
Aku membereskan debu-debu yang berada di ruang tivi. Selama dua bulan aku membereskan semuanya, tapi masih saja berantakan begini. Sebenarnya aku sudah lelah sekali, tapi dari pada termenung saja, itu akan membuat aku lebih terpuruk.
Aku membuka pintu buffet paling bawah, buffet ini tidak pernah ku bereskan sebelumnya. Karena jarang sekali terjamah oleh tanganku.
Aku mendapati sebuah album foto yang tak pernah kulihat selama ini. Aku mengambil album foto yang abunya sudah melebihi sepuluh inchi itu. Ku bersihkan dan kucoba untuk membukanya.
Di lembar pertama ada seorang gadis muda, berambut pirang, ada lesung pipi di kedua pipinya. Seyumnya sangat manis dan warna matanya biru seperti mas Leon.
Aku membuka kembali lembaran-lembaran itu, dan lagi-lagi foto wanita itu dengan topi musim dingin dan memegang gitar. dan memang hanya foto gadis itu di setiap lembarnya, dengan berbagai macam model gaya.
Saat lembaran terakhir, ku lihat sebuah foto keluarga. Laki-laki yang sangat mirip dengan mas Leon namun lebih tua, seorang wanita cantik berhijab merah muda. Gadis muda dengan kerudung putih dan seorang lelaki remaja dengan baju koko putih.
Apa ini keluarga kecil mas Leon? pertanyaan yang muncul dalam benakku saat pertama kali melihat foto itu. Berarti gadis muda ini Sera?
Aku kembali memperhatikan fotonya satu persatu dan memang pandangan matanya meneduhkan. Sera begitu cantik, dengan semua gaya polosnya itu.
Bagaimana bisa mas Leon membandingkannya denganku dulu.
Bukan lagi langit dan bumi, tapi bagaikan inti bumi dan antariksa.
__ADS_1
"Mbak." suara Shima mengagetkan aku.
"Ngapain duduk di lantai, mbak?" tanyanya yang sedang melihatku duduk bersimpuh di lantai.
"Mbak, lagi beresin ini." jawabku pasrah.
"Aduh ... Mbak ngapain sih? nanti kalok kenapa-kenapa gimana? aku dan Shine yang bereskan." Ucapnya bawel.
"Gak apa-apa. Dari pada mbak gak tau mau ngapain." jawabku membela.
"Sudah mbak istirahat saja. Nanti aku bereskan. Aku mau berangkat kuliah dulu ya."
Shima mencium punggung tanganku dan beranjak pergi.
"Eh.... Shima. Tunggu!" panggilku sebelum dia keluar pintu.
"Ada apa mbak?" tanya nya sambil berjalan mendekat.
"Ada uang jajan?" tanyaku spontan, Shima hanya menggeleng pasrah.
Aku meraba saku dresku tapi tak menemukan yang kucari.
"Shima, bantu mbak berdiri ya." ucapku sambil.mengulurkan tanganku, semenjak kehamilanku membesar hanya untuk bangun dan berdiri saja aku susah.
Shima menarik kedua tanganku dan akupun berjalan menuju kamarku.
"Mbak. Mbak kencing ya?" tanya Shima sebelum aku pergi.
"Enggak." jawabku bingung.
"Jadi itu, dan rok mbak?" Dia menunjuk tempat dudukku tadi dan rok ku bergantian.
Aku langsung melihat rok ku dan melihat tempat aku duduk bergantian. Air apa itu? aku baru sadar saat ku rasakan seperti ada aliran air di selah pahaku.
"Mbak, itu air ketuban mbak pecah ya?" tanya Shima, cemas.
Ini belum waktunya, kenapa air ketubanku sudah pecah?
Shima dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menelpon Shine.
Setelah lumayan lama aku baru meraskan kontraksi yang menyakitkan dari perutku.
__ADS_1
Lagi dan lagi, kehamilanku terus bermasalah.