Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 31


__ADS_3

Hari ini kami mengadakan acara pengajian, untuk kandungan aku yang sudah memasuki bulan ke empat. Ibu bilang saat usia kandungan berumur 4 bulan, Allah akan meniupkan roh ke janin. Maka nya itu,


Ibu menyarankan acara pengajian untuk menyambut roh sang janin.


Aku mendengarkan lantunan ayat suci yang di bacakan oleh ustadz dengan hikmat. Sampai ketika mas Leon mengajikan beberapa ayat, dan air mata ku pun mengalir deras. Bukan sedih, tapi ada rasa yang berbeda saat mendengar mas Leon mengaji. Sepertinya janinku mendengarkan nya juga, dan bersorak gembira mendengar suara calon Ayahnya itu. Ia terus bergerak aktif, menendang kesana dan kesini, terkadang aku merasa begah karena ke aktifannya itu.


Entahlah, mungkin memang bukan Ayah yang mengandung, tapi dari dalam kandungan pun si bayi telah memakan keringat Ayahnya. Mungkin itulah yang membuat ada batin di antara anak dan Ayah.


Suara mas Leon masih ada medok Prancis nya saat berbicara. Tapi dia bisa mengaji dengan fasih, tak kalah dengan suara tahfidz al-quran yg ada di tv-tv itu. Hanya saja irama nya masih sedikit sumbang.


Dengan balutan yang serba putih dari atas kepala sampai ke ujung kaki, membuat mas Leon tampak lebih bersinar dari biasanya.


Cahaya di wajahnya memancar lebih terang hari ini. Aku tidak sanggup melepaskan pandangan ku darinya.


***


Ibu dan kedua adik kembarku membereskan sisa-sisa keberantakan acara tadi. Sementara Bapak dan mas Leon masih duduk di ruang tamu dengan pak Ustadz dan beberapa tamu dari Rumah sakit tempat mas Leon kerja.


Aku meletakan bokongku di sofa depan tivi, ya ampun perut ini memang sudah agak membesar tapi belum terlalu besar. Tapi aku sudah mulai susah bergerak dan bernafas. Selalu ada yang menyondol di ulu hati, membuat aku begah, walaupun mabuknya sudah berkurang.


Aku mengelus-elus perutku, tak menyangka aku akan jadi Mama sebentar lagi. Ternyata pejuangan wanita itu berat sekali, dari awal kehamilan sampai saat ini saja, aku sudah merasa lelah. Bagaimana nanti jika dia sudah lahir?


"Shena, kok sendiri. Ibu mana toh?" suara bapak mengagetkanku.


"Oh, masih di belakang sama Shima dan Shine." jawabku.


Bapak menuju ke dapur dan tak lama Bapak keluar bareng Ibu. Lalu Shine dan Shima yang ikut menyusul.


"Ibu, pulang dulu toh, Nduk."


"Loh, kok pulang sih? makan malam disini saja loh, Bu'." pintaku.


"Bapakmu udah gak betah, pingin istirahat katanya." Ibu menjelaskan.


"Ih, kayak rumah siapa saja. Ayo Bapak istirahat di dalam." Aku beranjak dari dudukku.


"Gak usah toh, Nduk. Bapak mau jaga malam, Bapak gak bisa tidur nyenyak kalok bukan di kasur Bapak." terang Bapak, tegas.


"Iya, lagian kamu pasti capek. Langsung istirahat ya." timpal Ibu.


"Yasudah, Ibu, Bapak hati-hati ya. Kalian juga dek, pelan-pelan bawa motor ya, Shine."


Ibu dan Bapak menciumku sementara adik-adikku memeluk ku dan kemudian berlalu.

__ADS_1


Sesaat rumah yang tadi ramai sekejap menjadi sepi, seperti biasa.


Aku merebahkan badanku dan memainkan gawaiku, ku lihat beberapa pesan masuk di handphone ku. Beberapa kawan kerjaku dulu, mengucapkan selamat atas kehamilanku. Mataku membelalak lebar saat ku lihat ada pesan dari Randy.


Ku hapus tanpa ku baca, aku takut malah ada salah paham lagi antara aku dan mas Leon. Bisa saja mas Leon nanti bakal menaruh curiga pada kehamilanku ini, kalok dia melihat Randy masih menghubungi aku.


"Shen," aku melempar gawaiku saat mendengar suara mas Leon memanggil. Untung saja jatuhnya di kasur. Aku mengelus-elus dadaku.


"Ada apa? Kamu kok buang-buang ponsel? minta di belik in yang baru?" tanya nya dengan sedikit bercanda.


"I-i- i itu ada video hantu di situ." kataku tergagap. Debaran jantungku sangat kencang, aku takut mas Leon tau.


"Oh...." mas Leon mengambil ponselku dan meletakan nya di atas buffet.


Dia duduk di bibir ranjang, dan mengelus-elus perutku. Ada reaksi yang berbeda saat tangan mas Leon menyentuh perutku. Seperti ada tendangan di dalam, kadang membuat aku kesakitan.


"Mas, kamu bisa ngaji, belajar dimana?" tanyaku santai.


"Mama ku adalah seorang muslimah yang sangat baik, Shena. Dia mengajariku agama dari aku kecil. Walaupun dulu aku suka kabur kalau Mama lagi ceramah." ada senyum pahit di bibirnya.


"Mama itu wanita berhijab, aku rasa itu yang membuat papa jatuh cinta dulu. Mama cantik saat pakai hijab. Wajahnya selalu terlihat berseri seperti bulan." matanya menatapku kosong.


"Aku harap, kamu bisa mengajari anak kita tentang Al-qur'an dari kecil ya." mas Leon mengecup dahiku lembut.


"Insha Allah, ya Mas." ku raih kedua pipi mas Leon.


"Beri aku sedikit lukamu, Mas. Aku akan membasuhnya dengan lembut, aku ingin menyembuhkannya."


Ku tatap mata mas Leon dalam. Mas Leon mengambil tanganku dan mencium lembut pada punggungnya.


"Jangan, mimpiku indah bersamamu. Aku tidak ingin membuatnya cacat, walau hanya dengan satu titik hitam dari masa laluku."


"Tapi, Mas."


"Tidak, Shena. Tidak akan ada yang berubah dari masa laluku. Cukup aku, tidak dengan kamu." mas Leon beranjak dari bibir ranjang.


"Memang tidak akan ada yang berubah dari masa lalu kamu, Mas. tapi akan ada yang berubah dari luka hati kamu, percayalah, aku akan Menjadi orang itu. Orang yg akan membasuh luka masa lalumu. Tidak instan memang, namun perlahan."


Mas Leon berbalik dan tersenyum, dia mengecup dahiku, lagi. Lalu berlalu pergi. Tidak mudah memang membuka luka yang sudah lama terbenam. Tapi jika luka itu tidak di buka dan di bersihkan, maka luka itu akan menjadi busuk di dalam. Dan akan jauh lebih sulit untuk di sembuhkan.


Mungkin itu hal yang sangat menyakitkan untukmu mas, tapi percayalah karena luka itu kita di pertemukan dan di persatukan. Jika dulu kamu tidak terluka, maka mungkin kamu tidak akan melihat aku disini.


Mungkin kamu dan aku tidak pernah di pertemukan, karena pertemuan kita adalah untuk saling menyembuhkan. Bukan untuk saling menyembunyikan.

__ADS_1


--- --- ----


Ku nikmati suasana sore dengan santai depan tivi, melihat acara sore hari. Ku lihat mas Leon masuk dengan wajah yang sedikit muram. Aku beranjak dan mencium punggung tangan nya dengan takzim. Seperti biasa mas Leon akan mencium dahiku, tapi kali ini dia melupakannya. Dia langsung masuk ke dalam kamar.


Setelah satu jam mas Leon datang dengan membawa segelas susu untuk ku. Dia meletakan kepalanya di atas pangkuanku.


"Ada apa mas? sepertinya kamu lelah sekali?" tanyaku saat melihat gelagatnya yang sedikit aneh.


"Kapan jadwal USG lagi, Sayang?"


"Minggu, depan." jawabku sambil membetulkan posisi duduk ku. Sudah begah karena anak nya, kini ayahnya juga ikut-ikutan buat Mama nya begah juga.


"Udah masuk bulan kelima kan?" mas Leon mencium perutku yang sudah agak besar.


"Iya, Mas." aku terus mengubah posisi duduk ku karena serba salah. Tapi mas Leon tidak mengerti juga.


"Kamu maunya anak laki-laki atau perempuan, mas?"  aku bertanya, sengaja aku tidak melihat jenis kelamin nya dulu. Biar jadi kejutan nanti.


"Apa aja boleh, yg penting kamu dan bayinya sehat." jawab nya dengan wajah yang semakin di tekuk.


"Mas, kita cari nama yuk. Kamu mau kasih nama apa kalok anak kita laki-laki mas?" tanyaku gembira.


"Belum tau." jawabnya cuek.


"Kalok perempuan, aku mau kasih nama Kyra ya, Mas. Kyra Mc.Kanzee. Bagus tidak?" aku berbicara dengan nada yang berapi-api.


"Bagus." jawabnya singkat.


"Kamu kenapa sih, Mas? kok gak semangat gitu?" tanyaku heran dengan sikapnya itu.


Mas Leon terduduk, dia menggaruk-garuk kepalanya. Dia menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraan.


"Shena, begini." dia menggantung kalimatnya.


Aku menatapnya bingung, ada apa sih sebenarnya? ini pasti ada yang gak enak. Perlahan hatiku mulai deg-deg an. Mas Leon pasti mau ngomong hal yang pahit. Kalau tidak, gak mungkin gelagat dia begini.


"Ada apa, mas?" tanyaku mencoba tenang.


"Aku..." mas Leon menggaruk-garuk kepalanya dan membuang wajahnya.


"Aku, aku harus pergi, Shena." uacpanya Lirih.


Benarkan dugaanku, pasti ada yang gak beres.

__ADS_1


__ADS_2