
Mas Leon menguraikan pelukannya dan manghapus air mataku, lalu kami berjalan kembali ke rumah. Sudah ada Shine yang menunggu kami di depan rumah. Dia menyerahkan Leona kepelukanku saat aku sampai di depan rumah.
"Aku mau balik ke studio ya, mbak." aku mengangguk dan ia beranjak pergi.
"Shine." panggil mas Leon sebelum dia pergi.
"Terima kasih, sudah menjaga Shena untukku." sambungnya.
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya, jika mas meninggalkannya lagi. Aku berjanji tidak akan mengembalikan dia padamu!" ancam Shine pada mas Leon.
"Tidak akan pernah lagi, aku janji." mas Leon menarik badan Shine dan memeluknya.
Sementara Shine mencium dahiku sebelum dia pergi. Kemudian dia berjalan kearah motornya dan berlalu dengan cepat. Kami masuk bersama kedalam dan kuletakan bokongku di sofa ruang tivi. Aku kembali memberikan ASI yang sempat terputus tadi.
Mas Leon melihat Leona dengan sedikit tersenyum, dia memberikan satu jarinya untuk di genggam oleh Leona.
"Genggamannya sangat kuat, Siapa namanya?"
"Leona." jawabku dengan melihat ekspresi mas Leon yang sedikit terkejut mendengar namanya.
"Leona?" dia menaiki sebelah alisnya.
"Lihat dia sangat mirip denganmu kan Mas. Makanya aku kasih nama dia Leona. Leona Kyra Mc.Kanzee." jelasku.
"Dia sudah sangat besar ya, padahal umurnya baru dua bulan, kan?" pandangan mas Leon masih tertuju pada gadis kecil kami.
"Umurnya empat bulan, Mas."
Mas Leon sedikit terkejut mendengar perkataanku, dia langsung melihat kearahku dan ekspresinya berubah sedih.
"Dia lahir prematur?" tanyanya ragu.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum sendu, mas Leon meraih kepalaku dan mencium lembut dahiku.
"Maafkan aku, Shena. Seharusnya aku tidak meninggalkan kamu. Seharusnya aku ada saat kamu kesulitan. Maafkan aku yang membiarkan kamu sendiri menghadapi semua itu." raut wajah mas Leon semakin terlihat depresi.
Aku meletakan kepalaku di bahunya. Ku genggam tangan kirinya erat.
"Asal kamu disini sekarang dan tidak akan meninggalkan aku lagi. Maka semua akan baik-baik saja Mas."
Aku meraih wajahnya dan ku kecup lembut di bibirnya.
"Aku tidurkan Kyra dulu, kamu makan gih Mas."
Aku berlalu meninggalkan dia sendiri, aku tahu saat ini dia sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Ku letakan Leona di boxnya hati-hati.
Suara ponselku berdering saat sebuah pesan masuk. Aku duduk di pinggir kasurku dan ku buka pesan yang masuk.
'Aku dan Shima akan pulang kerumah Ibu, Mbak.'
Aku tersenyum membaca pesan itu, sejak kapan adikku bisa sedewasa ini. Kunaiki kakiku keatas kasur dan ku senderkan badanku di dinding. Syukurlah kamu kembali mas, semoga ini bukan hanya mimpi indahku saja.
__ADS_1
Ku pejamkan mataku yang sedikit lelah karena insiden hari ini.
Setelah beberapa menit mataku terbuka kembali saat mas Leon meletakan kepalanya di pangkuanku. Aku membelai rambutnya lembut, dan ku lihat bekas jahitan di sudut dahi sebelah kirinya.
"Mas... ini?" tanyaku sambil meraba bekas itu, tidak panjang memang, paling ada dua senti meter.
"Kenang-kenangan dari sana." jawabnya santai tanpa membuka matanya.
Aku baru ingat, jalan dia juga sedikit pincang tadi. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?
"Mas, kamu... kaki kamu... kenapa?" tanyaku hati-hati.
Matanya terbuka lebar, di pandangnya wajahku lekat-lekat.
"Aku sudah cacat Shena. Apa kamu masih mau menerima aku?" ucapnya ngelantur.
"Kamu ngomong apa mas? Aku tidak peduli bagaimana fisikmu, asalkan itu kamu. bagaimanapun rupamu, yang penting asalkan itu kamu mas, aku akan tetap menerima kamu."
"Kenapa? kenapa asalkan itu aku kamu masih mau menerimanya?" mas Leon menaikan sebelah alis matanya.
Hem aku tau pertanyaan ini menjebak aku. Aku hanya menggelangkan kepalaku dan melipat kedua tanganku di dada.
"Kenapa kaki kamu bisa begitu mas?" tanyaku serius.
Terdengar helaan nafasnya yang panjang.
"Kamu dengar kan, balai desa tempat aku menginap runtuh karena gempa."
Aku menganggukan kepalaku, dan kembali ku elus rambutnya.
"Aku mengalami patah kaki di sebelah kiri, begitu juga rekanku, dia mengalami patah di tulang rusuknya. Kami dipindahkan ke pengungsian di kota lain untuk menghindari bencana yang lebih parah. Percayalah padaku, Shena. Tidak ada apapun disana yang bisa memberitahukan bahwa kami masih hidup. Barang-barang kami tertimpa reruntuhan. Aku tidak bisa menghubungimu ataupun Rumah sakit. Keadaan disana sangat kacau."
Apa yang selama ini aku pikirkan, mas Leon berjuang hidup disana namun aku disini berpikir yang aneh-aneh. Bahkan aku sempat berpikir mas Leon punya wanita lain disana. Maafkan aku mas, aku bersalah padamu.
"Aku hanya tergeletak semala dua bulan. Untuk duduk pun aku butuh bantuan, untunglah disana mereka saling bantu. Ada seorang kakek tua yang sabar mengobati aku. Dia seorang tukang urut patah tulang. Mungkin kalau bukan karena keterampilan dia, aku belum bisa pulang sekarang. Bahkan kalaupun aku di rawat dengan ilmu medis, jelas memakan waktu yang lebih lama." sambung mas Leon pilu, matanya menatap kosong lurus kedepan.
Kembali mas Leon menutup matanya. Senyumnya terlihat penuh dengan luka.
"Jangan tanya sakitnya bagaimana, pengobatan alternatif jauh lebih sakit. Tapi aku hanya ingat wajahmu saat aku ingin menyerah, wajahmu kembali menyelamatkan aku, Sayang."
Aku tersenyum malu mendengar perkataannya itu, bahkan dia mampu menggodaku di saat serius begini.
"Gombal kamu, Mas." aku mencubit lengannya dan dia hanya tersenyum.
"Kalau kamu bilang aku gombal, berterima kasihlah sama gombal itu, karena dia aku masih hidup sekarang."
jawabnya tanpa membuka kembali matanya.
"Kamu udah makan mas?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.
"Aku hanya ingin istirahat, Shena. Aku hanya ingin merasakan saat seperti ini, saat aku berada di pangkuanmu."
Aku kembali mengelus dahinya. Ku raba bekas jahitan itu, dengan adanya ini kamu semakin terlihat keren mas. Ku raih setiap lekuk wajahnya yang selama ini ku rindukan. Wajah ini masih sama persis waktu dia pergi.
__ADS_1
Jemariku berhenti saat menyentuh bibir tipisnya itu. Mas Leon menarik tanganku.
"Jangan suka mencuri ciumanku saat aku tertidur." ucapnya.
"Eh... siapa yang mau cium kamu?" jawabku kaget.
"Kamu."
"Tidak ada yang mencuri miliknya sendiri mas, kamu milik aku. Jadi bibirmu juga milik aku."
Mas Leon langsung duduk mendengar perkataanku.
"Eh... pintar sekali kamu sekarang."
Aku hanya tersenyum, lalu mas Leon menarik wajahku, dia mencium dahiku, lalu turun kehidungku dan kemudian...
Leona terbangun dan merengek. Dengan cepat ku lepaskan pengangan mas Leon.
"Kyra bangun, Mas." ucapku sambil berlari menghampiri boxnya Leona.
Aku berlari menuruni kasur, terdengar helaan nafas disana. Dia menggaruk-garuk kepalanya. Ku gendong Leona yang sudah terbangun dan ku pok-pok pantatnya agar tertidur lagi.
Mas Leon turun dari kasurnya dan memelukku dari belakang.
"Kita sudah tidak seleluasa dulu lagi." ucapnya sambil menempelkan dahinya ke dahiku.
Aku mengedipkan sebelah mataku untuk menggodanya.
Kembali dia meraih pipiku dengan kedua tanganya, sementara dahinya masih menempel di dahiku.
Di ciumnya lembut bibirku, kemudian dia melepaskannya.
"Katakan kau mencintaiku, Shena." ucapnya sambil tetap menahan dahiku agar menempel kuat di dahinya.
"Kenapa aku harus mengatakannya?" tanyaku menggoda.
"Sesuai janjimu, kamu akan mengatakannya jika aku kembali. Dan pastinya dengan banyak tambahan." ucap mas Leon sambil kembali memeluk tubuhku erat.
Sungguh, tak ada yang membuat aku bisa lebih bahagia selain berada dalam dekapanmu, Mas. Aku rela menunggu seribu malam sekalipun, asalkan rasa ini tak pernah berubah.
Asalkan aku masih bisa selalu mendengarkan detak jantungmu. Asalkan rasa hangat ini tak akan pernah memudar dan menjadi dingin.
Ku leraikan pelukan mas Leon, ku tatap wajah mas Leon sendu. Kembali aku tersenyum dan meletakan Leona kembali dalam boxnya.
"Shena." Mas Leon menarik pergelangan tanganku sesaat setelah aku meletakan bayiku. Memeluk badanku kembali dengan sangat erat.
"Apa sih mas?" tanyaku sambil meleraikan pelukannya.
"Katakanlah,"
Aku tersenyum dan mengangguk pasrah.
"Katakan, jangan hanya mengangguk."
__ADS_1
Ku hela nafasku, ku lingkari kedua tanganku di leher mas Leon. Kembali bibirku menyunging lebar, saat ku lihat kedua bola mata biru milik mas Leon.
"Aku, mencintaimu, Suamiku."