Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 8


__ADS_3

Kujejaki laman bebatuan rumah ibu. Mengetuk pintu rumah, dan tak lama ibu keluar dengan wajah sumringah.


Kucium tangan dan kedua pipi ibu begitu ia membuka pintu rumah. Kupeluk erat tubuh mungil ibu. Aku ingin, ibu merasakan betapa rindu aku padanya.


Rumah kelihatan sepi, si kembar masih ada di sekolah dan bapak masih di posnya. Jadi seperti ini keadaan ibu bertahun-tahun dirumah? Sendiri, sepi dan senyap. Tapi ibu tidak pernah merasa bosan.


Sedangkan aku, baru sehari di tinggal sudah bosan gak karuan. Ibu memang wanita yang sabar dan kuat, bahkan aku jarang sekali melihat ibu duduk dan mengobrol bersama tetangga.


"Nduk, seminggu gak kelihatan kamu kok makin cantik?"


"Iya dong, kan aku anak Ibu." Aku tertawa kecil.


"Ayo sini masuk." Ibu menarik tanganku dan kami pun duduk di ruang depan.


"Nduk," panggil Ibu lembut.


"Iya, Bu," jawabku tak kalah lembut.


"Ibu mau tanya sesuatu, tapi kamu jawab jujur ya." Ibu bertanya ragu.


"Mau tanya apa toh, Bu?" tanyaku penasaran.


"Suamimu, baik terhadapmu kan, Nduk?" tanya ibu takut.


"Iya, mas Leon sangat baik, Bu. kenapa toh?" Aku menaikan sebelah alis.


"Syukurlah, Ibu hanya khawatir padamu." nada ibu terdengar lega


"Mas Leon bukan cuma baik, Bu. Sikapnya juga lembut padaku."


"Syukurlah, Nduk. Ibu senang mendengarnya."


"Rumah kok sepi toh, Buk?"


"Iya, adikmu kan masih pada sekolah. Makanya kamu sering-sering main kesini, biar Ibu ada temannya."


"Iya." Aku tersenyum.


Setelah mengobrol lama, aku membantu Ibu memasak makan siang. Hal yang hampir tidak pernah aku lakukan sewaktu aku masih gadis. Karena aku jarang sekali libur kerja, jadi aku jarang sekali membantu Ibu dirumah.


Aku juga meminta Ibu mengajarkan aku beberapa masakan, aku takut jika kejadian tadi pagi terulang lagi. Kurasakan waktu yang kami lewati bersama sangat lah membahagiakan. Kemana saja aku dulu, kenapa aku tidak merasakan ini semenjak dulu?


Aku memeluk tubuh Ibu dan menangis haru. Sedangkan Ibu hanya memelukku dan mengelus pucuk kepalaku. Dibiarkan aku menangis beberapa saat, lalu Ibu menguraikan pelukanku dan menghapus buliran air mataku.


"Ada apa toh, Nduk?"


"Aku hanya sedih, Bu."


"Sedih, piye toh? Cerita ke Ibu."


"Aku sedih, kenapa baru sekarang aku bisa menghabiskan waktu begini sama Ibu?"


"Oalah, Ibu pikir kenapa toh."


"Andai dari dulu aku bisa menikmati waktu sama Ibu begini."


"Kalau dulu kamu begini pasti kamu akan kesel sama Ibu, toh."


"Eh ... mana mungkin, Bu."


"Mungkin, seperti Shima yang sekarang. Ibu tahu dia sering kesel kalau di suruh bantu masak."


"Itu kan Shima, Bu. Aku kan beda."


"Kamu, karena sekarang sudah menikah dan pisah rumah toh, Nduk. Kalau enggak, ya kesel juga."


"Tidak juga, Bu. Aku kan berbeda dengan Shima."


"Sekarang bisa kamu bilang begitu, karena sekarang kamu sudah rasakan jadi istri dan pisah sama keluarga. Kalau kamu masih gabung sama Ibu, maka lain lagi ceritanya."


"Aku malah ingin gabung terus sama Ibu." Aku kembali memeluk Ibu.


"Eh ... kamu ini sudah menikah pun masih manja."


"Assalmualaikum, Ibu." Terdengar suara kembar memasuki rumah.


"Wa'alaikum salam. Kalian sudah pulang," jawabku riang.


"Eh ... ada mbak Shena." Shima berjalan mencium dan memelukku.


Sementara Shine dengan santai mencium dahiku. Seperti dia saja yang kakakku, padahal dia ini adikku. Memang aku dan Shine lumayan dekat, karena Shine yang selalu menjemputku jika aku pulang malam. Shine juga yang sering cerita ke aku soal Randy. Aku juga sering curhat ke dia, dia lebih dewasa pemikirannya di bandingkan Shima.


Karena itu aku suka curhat ke dia, karena itu juga Shine jadi sering mencium dahiku saat aku menangis. Dia memperlakukan aku seperti aku adik yang harus dilindungi. Mungkin karena dia laki-laki, jadi dia berusaha untuk melindungi.


Tak payah diperintah mereka langsung mengganti baju dan duduk di meja makan. Dibantu Shima kami menyiapkan makan siang. Tak lama berselang makanan tersaji di meja makan. Dengan lahap kami memakan bersama, sambil sesekali bercanda. Kembali aku meneteskan air mata karena haru yang kurasakan.


Jarang sekali aku menikmati waktu seperti ini. Walaupun tidak ada Bapak saat ini, tapi tetap saja suasananya terasa hangat.


Memang semenjak menikah aku jadi merasakan setiap detik waktu bersama keluarga lebih bermakna. Kemana aku dulu saat masih gadis, kenapa aku tidak berusaha untuk menikmati waktu ini?


Tak terasa waktu berjalan cepat, saat aku berada di sini, baru rasanya aku datang, sekarang sudah hampir senja.


Rasanya aku belum puas main sama kedua adik ku. Walaupun Shine sering jadi tempat aku cerita, tapi aku juga tidak terlalu memperhatikan mereka. Apalagi Shima, jarang sekali aku bisa bercerita ria dengannya.

__ADS_1


Tak terasa bulir bening ini menetes begitu saja, teringat telah banyak waktuku terbuang tanpa kenangan bersama mereka.


Aku selalu ingin mereka tidak mengalami kehidupan sepertiku, tapi aku juga membiarkan mereka kehilangan sosok kakak selama ini.


Pasti mereka lelah, pasti mereka butuh tempat untuk cerita, tapi aku tidak pernah mendengarkan mereka. Aku selalu mengabaikan mereka dengan alasan lelah.


Aku minta maaf, telah membiarkan kalian tumbuh tanpa perhatianku.


"Nduk." Aku menyeka kedua mataku.


"Iya, Bu. Ada apa toh?"


"Makan dulu, Shima sudah masak makanan kesukaanmu."


"Tidak usah, Bu. Sudah mau malam, aku takut mas Leon mencariku nanti."


"Kamu sudah minta izin tadi, kan?"


"Sudah kok, Bu."


"Yasudah, bilang saja kamu masih tempat Ibu."


"Gak usah, Bu. Dia pasti lapar saat pulang nanti. Aku pulang saja."


Terdengar deringan dari ponselku, kulihat layar ponsel tertera nama mas Leon. Dengan cepat aku mengangkat nya.


"Assalamualaikum, Mas," ucapku saat mengangkat telepon.


"Wa'alaikum salam. Kamu masih di rumah Bapak, Shen?"


"Iya, Mas."


"Baiklah." Mas Leon menutup teleponnya begitu.


Aku mencium kedua pipi Ibu, lalu beralih ke tangannya. Berpamitan untuk segera pulang.


Padahal di rumah ini aku dibesarkan, tetapi sekarang ada rumah lain untuk tempat aku pulang.


"Mbak, mau kemana?" tanya Shima kepadaku saat aku ingin berjalan keluar.


"Pulang, Shima," jawabku singkat.


"Makan dulu lah, aku sudah masak banyak buat, Mbak," pintanya, membujukku untuk tetap tinggal.


Aku malu, Shima bahkan lebih pintar di dapur dibandingkan aku. Mungkin waktu dia dirumah lebih banyak dibandingkan waktu aku dulu. Tapi aku tau, itu bukan alasan untuk aku mengabaikan urusan dapur.


Apalagi kejadian tadi pagi, aku sadar sebenarnya mas Leon bohong. Tapi demi menjaga perasaanku dia memakannya. Bahkan dia makan lebih banyak dari porsi biasanya.


"Besok Mbak kesini lagi. Sekarang Mbak pulang dulu," bujukku pada Shima.


"Iya, sudah mau malam."


"Sekalian makan malam di sini sajalah, Mbak."


"Sayang kalau nanti mas Leon pulang  gak ada mbak, Shine."


"Orang mas Leon juga lagi nyantai sama Bapak di teras," jawab Shine datar.


"Loh ... sejak kapan dia datang?"


"Dari tadi," jawab Shine cuek


Aku berjalan menuju teras, memastikan kebenarannya. Memang benar, mas Leon dan Bapak sedang santai bercengkerama di teras rumah.


"Loh, Mas. Kok di sini?" tanyaku bingung.


"Iya, kenapa kalau disini? Wong ini kan juga rumahnya nak Leon juga, toh," jawab Bapak ngasal.


"Bukan gitu, Pak. Maksud Shena sejak kapan mas Leon di sini?"


"Aku baru saja sampai kok," jawab mas Leon lembut.


"Yasudah, mari masuk, Nak. Kita makan malam sama-sama," bujuk Ibu pada mas Leon.


"Yasudah, ayo," ajak Bapak.


Mas Leon dan Bapak bangkit dari kursi mereka masing-masing, berjalan menuju ruang makan.


Sampai di depan meja makan, aku melihat beberapa hidangan yang sangat familier bagiku.


Ada tempe orek, tempe mendoan dan pecel lele. Aku rindu sekali masakan Ibu, selama tinggal dengan mas Leon hidangan yang di buat selalu masakan western. Walaupun terlihat mewah, entah kenapa aku tidak terlalu menyukainya.


Aku langsung menarik kursi, tapi mas Leon masih berdiri terpaku menatap hidangan-hidangan itu. Seperti ada sesuatu yang sedang ditatapnya dengan penuh makna.


"Ayo duduk, nak Leon. Kenapa berdiri saja?" ajak Bapak saat melihat mas Leon yang masih berdiri terpaku.


"Tidak suka masakan Ibu, ya? Maklum Ibu orang desa, cuma bisa masak ini," sambung Ibu merendah.


"Tidak, Bu. Saya cuma teringat masa lalu saja."


Mas Leon menarik kursinya dan  duduk di sebelahku, entah kenapa ada perasaan aneh saat aku melihat wajahnya yang saat ini, seperti dia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sudah lama sekali, Bu. Saya tidak pernah memakan masakan rumah."

__ADS_1


"Jadi selama ini nak Leon makan apa toh?" tanya Ibu polos, membuat aku ingin tertawa.


"Maksud saya, sudah lama saya tidak makan, makanan seperti ini."


"Biasa mas Leon masak makanan western, Bu." sahutku menjelaskan.


"Apa itu, Nak?" tanya Bapak bingung.


"Itu loh, Pak. Makanan yang seperti di restoran mewah itu. Kayak Steak dan kawan-kawannya," jelas Shima.


"Wah, enak itu. Kamu harus buatkan untuk Bapak sekali-kali."


"Iya, nanti saya buatkan, Pak," sahut mas Leon seperti tidak bersemangat.


"Ibu gak bisa masak begituan, apa nak Leon gak suka masakan ini?" tanya Ibu ragu.


"Saya malah suka sekali masakan seperti ini, Bu."


"Syukurlah kalau nak Leon suka."


"Boleh tidak kalau lain kali saya makan di sini lagi, Bu?"


"Kapan saja nak Leon mau, nak Leon boleh ke sini. Ibu malah seneng."


"Makasih, Bu. Saya sudah lama sekali tidak makan makanan seperti ini."


"Sekarang kalau nak Leon ingin makan masakan desa, nak Leon tinggal bilang Ibu saja. Ibu akan buatkan."


"Terima kasih, Bu."


Mas Leon menyuapi satu persatu makanan yang ada di piringnya. Dia terlihat sangat menikmati setiap suapan makanan itu. Walau samar tapi aku bisa melihat ada buliran bening di sudut matanya.


Suara Shima dan Shine yang memenuhi ruangan membuat mereka tidak sadar dengan apa yang terjadi dengan mas Leon.


Mereka memang sering ribut di meja makan, mungkin karena mereka kembar berbeda gender, membuat mereka sering bertengkar namun juga saling melindungi. Shine itu memang terlihat pendiam, tapi dia juga jahil, suka sekali mengganggu Shima.


Aku terus memperhatikan mas Leon yang sedang makan dengan sesekali mengelap pipinya.


Aku tahu sekali kalau saat ini mas Leon tidak baik-baik saja.


Seperti ada sesuatu yang sangat dia rindukan. Mungkin dia rindu rumahnya, atau juga rindu kedua orang tuanya.


Bagaimana juga pasti berat melewati hari-hari dengan kesendirian. Tidak ada tempat untuk bercerita, tidak ada tempat untuk mengadu dan mengeluh. Kasian kamu Mas, kamu sudah mengalami hari-hari yang menyedihkan seorang diri.


Tapi aku salut denganmu, dengan keadaan yang seperti itu kamu mampu berdiri di atas kakimu sendiri dan menjadi lelaki yang begitu lembut.


Kamu besar sendirian, tapi kamu pintar membuat aku nyaman. Kamu bisa memberikan rasa aman dan bisa membuat aku percaya padamu.


Selesai makan kami langsung berpamitan pulang. Selama di perjalan pulang mas Leon tidak mengucapkan sepatah katapun.


Sampai di rumah pun sikap mas Leon masih begitu asing. Dia bersikap begitu dingin, aku seperti tidak mengenal lelaki yang aku nikahi seminggu lalu ini.


Mas Leon keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Sama seperti kemarin, ia masih saja memintaku membantunya mengeringkan rambut.


Dia ini manja sekali sih? Selama ini siapa yang membantunya mengeringkan rambutnya?


Terkadang memang ada sisi ia yang begitu manja, seperti anak kecil yang mencari perhatian. Atau memang kamu kurang perhatian selama ini kah Mas?


Tapi kali ini sedikit berbeda, biasa ia duduk membelakangiku, hari ini ia duduk berhadapan denganku, membenamkan kepalanya di atas pangkuan.


Ada apa dengan dia?


Apa perkerjaan nya hari ini buruk?


Atau ada hal lain yang membuatnya begini?


Kubelai lembut kepalanya, rambutnya sudah mengering, tapi dia belum juga beranjak dari duduknya.


Apa dia ketiduran?


"Mas, apa kamu tidur?" tanyaku lembut.


Dia tidak bergeming sedikitpun, tidak ada juga suara yang keluar dari mulutnya.


"Ayo pindah ke kasur." Aku mengelus pundaknya sembari membangunkan.


Namun ia semakin membenamkan wajahnya kedalam pangkuan, dia memeluk kedua kakiku sangat erat.


"Jangan ... kumohon biarkan aku seperti ini," ucap mas Leon serak.


"Mas," kupanggil ia lembut.


"Sebentar saja ... aku mohon sebentar saja." Mas Leon masih membenamkan wajahnya di ats pangkuan.


"Kamu kenapa, Mas?" tanyaku khawatir.


"Aku sangat merindukannya ... rindu sekali." Suaranya semakin serak, dia menangis kah?


"Biarkan aku seperti ini, aku ingin merasakannya lagi, aku rindu, sangat rindu."


"Rindu? Rindu siapa, Mas?" tanyaku hati-hati..


"Sera," jawabnya lirih.

__ADS_1


"Louissera," sambungnya.


__ADS_2