Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 17


__ADS_3

POV Leon


"Assalamualaikum." ucapku saat masuk ke dalam rumahku.


Shena menjawabnya dengan suara yang serak. Dia mencium tanganku sedikit lebih lama dari biasanya. Saat dia mengangkat kepalanya, air matanya jatuh berderai.


Aku yang bingung kenapa dia menangis ingin menanyakan, belum sempat aku menanyakan ia sudah lari ke belakang. Aku mengikuti langkahnya dan mengelus pucuk kepalanya dari belakang.


Ia menangis sesegukan, apa yang terjadi dengan wanitaku saat ini.


Dia seperti ingin meraih kedua pipiku namun berhenti sebelum ia menyentuhnya.


"Mas maafkan aku, maafkan aku." ucapnya sambil menundukan kepala dan menangis kembali.


Aku menarik badannya dan mendaratkannya di dadaku, sungguh Shena jangan siksa aku seperti ini. Sungguh aku tidak sanggup melihat air matamu itu.


Ku hapus air matanya itu dan ku kecup dahinya, lalu pindah ke ujung hidungnya, aku berhenti sebelum mencium bibirnya, ia sedang menangis, aku tidak ingin menyakitinya lagi.


Aku menempelkan dahiku di dahinya, ku sapu wajahnya dengan satu jariku. Sejenak tangisannya berhenti menyisakan sesegukan yang terlihat menyiksa nafasnya.


"Mas, apa yang kamu lakukan jika kecewa dengan seseorang, Mas?"


"Entah lah, Shena. Aku gak tau."


Kembali dia menangis sesegukan, oh ya ampun bagaimana aku harus menghentikan tangisannya. Ku lihat nafasnya yang semakin tersiksa karena tangisannya itu.


Bingung harus berbuat apa, aku malah mencium bibirnya, sehingga jantungku bertabuh semakin cepat tak berarah.


Aku melepaskan nya dan pergi meninggalkannya, dasar Bodoh.


Makiku dalam hati, bukannya menghentikan tangisannya malah mencari kesempatan di atas lukanya.


Kurasakan tangannya menyentuh lembut bahuku, aku menoleh dan ku lihat dia sudah berhenti menangis. Kutarik pinggangnya untuk menempel di perutku.


"Maksud aku bukan ciuman itu mas. Kenapa kamu lakukan itu, bukankah aku asing bagimu?"


Ternyata wanitaku masih merasa asing dirumahnya sendiri. Aku gagal, gagal membuatmu nyaman disisiku.


Aku memutuskan mengajaknya makan di luar, sekedar untuk menghibur hatinya.


Ku setir mobilku melaju ke tengah kota, ku pikirkan alasan kenapa ia menangis seperti itu. Kenapa wanitaku begitu takut untuk menceritakan masalahnya padaku.


Apakah aku ini terlalu kejam padanya?


Apakah sikapku selalu menekannya selama ini?


Kenapa dia begitu sulit hanya untuk bercerita kepadaku. Ku singkap rambut yang dari tadi jatuh menghalangi pandanganku.


Tanpa kusadari wanitaku menyingkapkan rambutku dengan lembut.


Kembali jantungku berdegup sangat kencang, ya Tuhan kenapa dia harus selembut ini.


Ku buka katalog menu makan malam ini, ku sadari ia yang sedari tadi terus menatapku. Kembali ia ingin bercerita namun takut saat aku melihat matanya.


"Mas aku... Ehm... bertemu Randy."


Jleb ... Seperti ada ribuan panah menembus hatiku. Pantas saja wanitaku dari tadi maju mundur untuk bercerita, ternyata ini masalahnya.


Aku menutup katalog ku dan memesan makanan kami. Ku lihat ia yang berusaha untuk menjelaskan lagi. Aku sedang tak ingin membahas ini, ku mohon wanitaku janga rusak suasana hatiku.


Cukup kamu lukai aku dengan air matamu jangan lagi dengan ucapanmu. Ku lihat ia yang kembali menangis dan menutupi wajahnya itu.


Oh cukup, jangan lagi siksa aku dengan Air matamu itu. Ku geserkan kursiku dan ku letakan kepalanya di bahuku, dia menatapku dengan mata berembunnya itu. Kembali ia masukan wajahnya kebawah ketiakku.


Ku hela nafas panjang, tak mungkin aku memeluknya di tempat umum seperti ini.  Aku tidak bisa melihatnya menangis, aku juga gak ngerti harus bagaimana menghadapi situasi ini.


Ku bisikan sebuah kalimat untuk menghentikan tangisan itu, syukurlah dia berhenti menangis.


Kami melahap makanan yang sudah tersaji, aku sudah tidak semangat memakan ini.


Tak ku duga wanitaku mengelap ujung sudut bibirku. Heran dengan sikapnya itu, kembali ia menyuapi aku, belum selesai menelan ia sudah mengelap bibirku lagi. sampai aku tersedak, jangankan menelan makanan, menelan ludah pun aku akan tersedak saat ini.


Ku ajak ia ke taman kota untuk bisa membuka masalahnya, semoga saja suasana tenang dari taman kota mampu mendinginkan pikirannya.


Dia berjalan memutari dinding pembatas kolam air mancur. Sambil ku genggam tangannya yang kecil itu, takut jika ia terpeleset nanti.


Sampai ia bosan dan duduk di pinggir kolam. Tingkahnya yang polos itu memainkan telapak tanganku yang besar.


Mungkin malam ini akan indah jika nama itu tak pernah tersebut sebelumnya.


"Dimana?"

__ADS_1


"Dimana ketemu Randy?"


Seperti terkejut setengah mati, ia menjawab dengan terbata-bata. Matanya kembali mengembun.


Oh sudahlah, aku lupakan saja masalah ini, sebelum wanitaku menangis lagi.


Ku putuskan untuk memeluk wanitaku dan mencoba untuk tidak membahas apapun lagi.


Aku buka pintu rumah dan langsung masuk ke dalam kamar. Ku rebahkan badanku untuk melupakan kejadian malam ini. Shena menyiksa batinku.


Kurasakan tangannya yang melingkar di perutku dan ia berusaha menjelaskan kejadiannya.


Dia bercerita panjang lebar tapi aku sadar ia mencoba menyembunyikan intinya.


Masalahnya tidak mungkin sesederhana itu, dilihat dari susahnya ia bercerita tadi. Ada sesuatu yang ia sedang sembunyikan. Tapi biarkan saja, mungkin itu hal yang akan menyakiti aku.


Bug... suara nangka jatuh membangunkan tidur indahku. Ku lihat Shena yang sudah duduk di lantai.


"Shena, ngapain?"


"Mas kok masih tidur sih? kok gak olahraga?"


Mendengar ucapannya, aku menguletkan badanku dan kembali tidur. Aku ingin istirahat melupakan masalah yang mengganggu pikiranku dari tadi malam.


Saat ku buka mataku Shena sudah berdiri di hadapanku. Ku ajak ia liburan, setelah menikah kami gak pernah kemana-mana, mungkin ia butuh liburan, begitupun aku.


Dia memilih perkebunan kopi untuk Destinasi liburan dadakan kami. Ku lihat ia yang antusias ingin pergi, menyiapkan perlengkapan jalan-jalan secara berlebihan.


Dasar wanita, perginya sehari persiapannya berhari-hari.


Ku ikat tali sepatu sport putihku, ku lihat ia yang berdiri di hadapanku. Sangat manis dengan bibir merah mudanya itu.


Ku lajukan mobilku selama empat jam lebih, sampai disana kami masih harus berjalan jauh untuk mencari warung makan.


Kusiapkan tempat romantis untuk menghabiskan malam indah kami berdua di atas bukit perkebunan ini.


Melihat indahnya bintang dari atas perbukitan di tambah suasana dingin yang akan menambah indah nuansa malam ini. Ah... pikiranku mulai berangan jorok.


Tapi semua gagal karena suhu badan Shena yang meninggi sesaat setelah bulan muncul.


Kurawat ia semalaman, untuk menurunkan suhu badannya, tapi malah makin tinggi.


Belum lagi mataku terpejam puas Shena sudah memgajakku untuk kembali. Ku berhentikan mobilku untuk kesekian kalinya, tak bisa lagi aku membuka kelopak mataku walau sedetik.


Ponselku berdering keras, ku lihat layar ponselku menunjukan nama Andra. Ah... aku lupa, ada seminar di yayasan sore ini.


(Dokter ganteng, Bahan untuk seminar kapan mau dikirim?) ucapnya sesaat setelah ku angkat telepon.


"Handle lin aja gak bisa? aku lagi di luar kota, aku gak sanggup nyetir, ngantuk banget." Aku menggaruk-garuk kepalaku, lupa bahannya pun aku tidak buat.


(Wah... gimana kencan aku nanti? Aku banyak acara nanti malam. Gak bisa lembur buat hasil laporan ).


Heleh... Kencan segala, jomblo aja betingkah. Ucapku dalam hati


"Kirim laporannya aja, nanti biar aku yang buat." Ku peluk setirku dan ku pandangi wajah Shena yang sedikit pucat. Enak kali, ya. kalau dia yang aku peluk.


(Nanti kalau Dokter disini pada protes gimana? Belum lagi harus berurusan dengan Dokter kepala. Kamu yang kasih alasan kalau mereka rewel ya.).


Ini asisten rewel banget sih.


"Iya... aku yang akan serahin ke Dokter Kepala. Kamu gantiin aku aja. Kamu bilang sama Dokter disitu, kamu gantikan aku." ucapku sedikit menekan.


Ku acak-acak rambutku dan kembali menegakkan badanku. Aku kenapa bisa lupa begini sih, panjang bakalan urusannya ini.


(Kalau begitu, Separuh gajimu berikan ke aku ya.).


"Ha...ha...ha. Iya... Gajimu separuhnya untuk aku kan?"


(Weits... udah aku yang di rugikan waktunya, aku juga yang dirugikan uangnya. Gak sayang lu lihat gue jomblo gini?).


"Gimana sama cucu menantu oma?" tanya ku untuk meledek dia.


(Ah parah lu, jangan ingatkan gue itu lagi donk.)


"Aku kasih separuh gajiku jika kamu menikah dengan cucu Oma." aku tertawa membayangkan ekspresi Andra bagaimana disana.


Kulihat wajah Shena yang mulai bosan, ia menggeserkan posisi duduknya.


(Seneng banget lu ya ngejek in temen. Bahagia gitu.)


"Oke... nanti aku telepon lagi ya. Kamu bisa Handle kan?"

__ADS_1


(Oke... Serahkan aja sama asisten Andra. Semua pasti beres.)


Ya Tuhan, sejak kapan dia bocor begini, apa karena pengaruh cucu oma?


Ku lihat wajah Shena yang dari tadi menatapku, seakan ingin bertanya namun tidak berani.


"Andra... Dia bilang sore ini ada seminar di yayasan penderita kebocoran jantung." ucapku menjelaskan. Aku tahu ia pasti sedang curiga padaku.


Aku menstrarter mobilku namun Shena mengingatkan tujuan awalku yang ingin meminum kopi tadi.


Aku bahkan belum menyiapkan bahan laporan, pasti bakal memakan waktu lama kalau ngopi lagi.


Namun ia masih berusaha agar aku tetap tidur, Sekalian saja aku menggodanya.


Ku letakan jariku di atas dahi, tidak ku duga ia mengerti dan mencium dahiku, lalu ku pindahkan keujung hidung ia mengikutinya, ku pindahkan lagi ke pipi begitupun bibirnya. Sampai ku letakan di atas bibir matanya membelalak lebar.


Aku tau ia tak mungkin mau melakukannya, aku hanya bermaksud menggodanya tadi, syukur kalau dia mengerti.


Ku jalankan mobilku cepat menembus jalanan yang lumayan padat.


Aku langsung beralari ke kamar mandi setelah pulang, masih harus ngirim bahan, semoga setelah mandi mataku masih sanggup terbuka.


Ku pilih beberapa bahan dari file lama tentang menjaga jantung sejak dini. Ku copas aja file lama aku dan ku edit sebagian. Ku kirim ke email Andra dan merentangkan badanku. Lelah sekali.


Kurasakan tangan lembut menyentuh bahuku. Shena, ia bisa mengembalikan semangatku yang sudah habis terbuang.


"Mas tidur yuk."


Mataku terbelalak lebar, ya Tuhan ambigu sekali perkataan mu itu wanitaku.


Dia langsung menjelaskan sesaat setelah mataku melebar, aku tau maksudnya, aku hanya suka menggodanya saja.


Ku baringkan badan lelahku dan tak lama aku tertidur.


Suara dalam perutku menampakkan kehadirannya, aku terbangun dan kulihat hari mulai senja. Ku lihat Shena yang masih tertidur pulas. Kembali ku cek suhu badannya sudah lumayan turun. Mulai ada pergerakan dari bola matanya, ku tempelkan badanku ke belakang badannya dan ku lingkari perutnya.


Tak lama ia membalik dan wajahnya terbenam di dadaku, sengaja aku memeluknya erat. Terasa cubitan di dadaku dan suara manja dia yang berbicara kesal.


Ku tarik pinggangnya saat ia duduk terdiam di atas kasur dan ku pindahkan ke pangkuanku. Ingin ku tumpahkan hasratku padanya. Namun ia menutup matanya dan rona wajahnya memerah sekali.


Tak sanggup menahannya aku pun tertawa lepas. Dia yang sembunyi di balik bantal mungkin malu karena aku.


Dia terus menatapku saat makan malam, bibirnya memerah karena kepedasan, ingin sekali aku mencium bibir nya itu.


Ku lihat Wa dari Andra, oh Ya ampun, aku masih harus buat laporan, tidak mungkin terus menggodanya.


Ku buka laptopku dan ku buat laporan di atas kasur.


Sesekali ku lirik apa yang di lihat Shena di ponselnya, Huh... lagi lihat drama cengeng Oppa apa gitu. Kembali aku fokus pada laporanku, tiba-tiba dia melemparkan ponselnya, bibirnya mengerucut selama berjam-jam.


"Mas aku bosan." ucapnya mengkek.


Ku lihat ia yang mulai lasak kesana dan kesini, aku lelah sekali, gak sanggup lagi kalau harus menemaninya keluar.


"Mas aku mau itu."


O o kembali dia mengucapkan kalimat yang ambigu, menantang hasratku untuk berkorbar.


Ku tatap wajahnya lekat, dan ingin ku tumpahkan hasrat itu malam ini.


"Aku ingin pinjam ponselmu, Mas." ucapnya yang membuat aku malu setengah mati.


Kenapa gak langsung ngomong aja sih, kan aku jadi salah paham.


Ku tepok jidatku dan menggelengkan kepalaku, malu sekali rasanya.


Ku berikan ponselku padanya, aku langsung membuat laporanku kembali, malu deh. Tahan sedikit Leon, jangan buat dia tidak nyaman, atau ia akan melepaskan diri.


"Mas kuotaku habis, boleh aku lihat drakor."


Ya drakor lagi, memang suamimu ini gak lebih menarik dari pada Oppa itu ya?


Yang di luar sana aja bisa tergoda dengan parasku sekejap mata, tapi kenapa kamu sudah menikahi aku, seperti tak peduli padaku.


Kembali ia bosan bermain dengan ponsel, kini ia mulai balik kesana dan kesini mencoba untuk tidur. Aku memegang tengkuk leherku dan memiringkan kepalaku, untuk mengusir lelahku.


Ku lihat jam di ponselku sudah hampir lewat tengah malam, bergegas aku menyiapakan laporan. Badanku sudah mulai lelah, jangan sampai aku jatuh sakit juga karena kelelahan. Aku menutup laptopku dan mencoba untuk tidur.


Saat aku terbangun pagi ku lihat sikap Shena yang kembali dingin kepadaku.


Oh ya Tuhan, apa aku harus kembali dari awal?

__ADS_1


__ADS_2