
POV Leon.
Pyaaarrr... Suara pecahan dari sebuah kaca membangunkanku. Aku segera bergegas keluar dan melihat apa yang terjadi. Ku lihat wanitaku sudah berdiri di dapur dengan melihat rangkaian pecahan kaca itu.
"Shena, apa kamu terluka?" tanyaku khawatir.
"Mas maaf... aku... aku..." dia berlalu meninggalkanku.
Dia dengan cepat berlari dan meninggalkan dapur menuju ketaman samping. Ku lihat dia dari jejeran kaca vertikal dapurku. Dia yang sedang duduk dan memejamkan matanya, lelah. Memang matanya sangat tampak lelah, mungkin semalaman dia tidak tidur karena kesalahanku.
Maaf Shena, aku tidak bermaksud melukai hatimu. Aku takut, aku tidak sanggup menjelaskan nya saat ini. Aku baru saja bahagia denganmu, aku tidak ingin luka masa lalu aku mengganggu kehidupan kita saat ini.
Kuraih tubuh Shena dari sebalik kaca ini, inilah kamu sekarang Shena. Memang tampak nya kamu mampu ku raih, namun sebenarnya kamu berada jauh dariku, ada kaca tinggi yang kamu bangun di hadapanku. Aku selalu melihatmu namun aku tidak bisa menyentuhmu.
Ku siapkan dua piring omelet, ku bawa keluar untuk memberikan kepadanya.
"Hari ini sarapan di luar ide yang bagus!" aku mencoba untuk membawa dia kembali kehadapanku.
Kusodorkan piring omelet ini namun dia menolaknya dengan alasan tidak lapar.
Aku tidak ingin memaksanya, jadi aku membawanya kembali kedalam.
"Mas..." panggilnya lembut sebelum aku beranjak jauh.
"Aku kerja ya, Mas."
Aku kembali ke sampingnya dan melemparkan bokongku di sampingnya. Kuletakan dua piting itu diantara duduk kami.
Aku tau, saat ini dia sedang mencari alasan agar bisa mencari kesibukan. Aku tau dia pasti kecewa denganku.
Bukan aku mau mengekangnya, tapi aku takut, takut jika dia terlalu banyak di luar maka sisi polosnya akan menghilang. Aku takut kehilangan Shena yang sekarang. Aku takut tidak melihat jati diri Shena lagi. Aku terlalu takut melihat Shena yang kehilangan siapa dirinya seperti aku yang kehilangan diriku.
"Aku buka olshop ya, Mas." bujuknya padaku.
Aku tahu dia bosan, tapi aku tidak mau kalau dia terlalu capek. Tapi jika itu bisa membuat dia senang aku tidak akan melarangnya.
Ku lihat rona wajahnya yang berseri saat mendapatkan izin dariku. Dia memang wanita kecilku, dia bisa berubah-ubah sewaktu waktu. Tingkahnya itu yang tidak mampu membuat aku melupakannya selama ini.
***
Aku membuka laptopku di atas meja makan. Ku lihat wajahnya yang lesu sambil mengaduk-aduk tepung. Pasti usahanya tidak berjalan baik.
Aku terkekeh dalam hati melihatnya seperti itu.
"Bagaimana bisnismu?" tanyaku menggodanya.
Dia hanya menggeleng lesu, Aku semakin tertawa melihat ekspresinya, namun masih ku tahan dalam hati.
Beberapa kali aku menanyakan pertanyaan kepadanya namun dia hanya menggelang dan mengangguk.
"Baru juga berapa hari, kok udah lembek gitu sih, Shen? capek?"
"Capek kenapa mas? aku gak semangat karena gak ada yang pesen."
Aku tidak sanggup lagi menahan geli di hatiku. Aku tertawa meledak di buatnya, ku lihat dia yang mulai mengerucutkan bibirnya. Ekpresinya semakin membuat aku tertawa lagi. Ku coba untuk menahan tawaku dan membujuknya.
"Kok cemberut sih, sini aku bantu promosi."
Dia berjalan kesampingku, dia menarik kursi dan duduk di sebelahku. Ku masukan beberapa foto kue yang sudah di fotonya kemarin.
Tidak butuh waktu lama, respon mulai berdatangan. Beberapa meminta pesanan dengan free ongkir.
Ku tanya dia namun wajahnya masih terlihat lesu juga. Dia malah mengerucutkan bibirnya saat masuk lagi pesanan dari aku. Hem apalagi ini?
Banyak pesenan cemberut, gak ada pesenan pun cemberut.
Wajahnya itu membuat aku gemas saja, ku tatap lekat-lekat wajahnya. Semakin aku tatap wajahnya semakin aku ingin menyentuhnya.
Ku tarik kepalanya dan ku daratkan ciuman di pipinya.
Ku lihat wajahnya bersemu merah, apa dia marah padaku. Ku lihat dia menundukan wajahnya dalam-dalam.
Aku membuatnya marah lagi. Semakin aku menatapnya wajahnya semakin bertambah merah.
"Maaf." ku ucapkan karena rasa bersalahku.
Dia menatapku dengan ekspresi bingung dan ku lanjutkan untuk membantunya promosi. Aku hanya ingin menghiburnya, namun malah membuatnya marah. Kenapa aku gak bisa sabar sih nungguin dia.
***
__ADS_1
Ting... Sebuah pesan masuk kedalam ponselku. Jadwal seminar kesehatan jantung untuk lansia. Ku lirik spionku dan kulihat bangku belakang mobilku masih ada dua pesanan lagi yang belum aku antar.
Ku keluarkan ponselku dan ku pesan ojek online untuk mengantar pesanan cake Shena.
Setelah kang ojol datang dan mengambil pesanannya, ku lajukan mobilku cepat ke gedung pertemuan seminar. Sebagai dokter muda, aku harus bisa merelakan waktu weekend ku untuk melakukan kegiatan seminar.
Dua jam lamanya, aku menghabiskan waktu untuk menjelaskan bagaimana merawat jantung agar tetap sehat walaupun sudah lanjut usia. Ku sapu buliran keringat di dahiku, kini giliran Dokter lain yang menjawab sesi ini. Ku cek ponselku beberapa pesan masuk dan panggilan tidak terjawab.
Ku buka pesan itu ternyata kang ojol yang tadi.
'Mas, lagi dimana?'
'Mas ini ada titipan dari mbak nya, saya antar kemana ya?'
'Mas, dimana?'
Tiga pesan dari kang ojol itu membuat aku menghela nafas panjang. Di bagasi mobilku saja sudah banyak kantong plastik dari fans Shena. Setiap aku mengantar pesanan pasti ada aja yang memberikan aku sesuatu. Risih sih sebenarnya, tapi buat Shena aku tidak bisa mengelak, mau nolak pemberian para gadis itu pun takutnya usaha Shena bakal surut lagi.
Huft aku menggaruk-garuk kepalaku.
'Mas, kok gak di jawab sih. Saya antar kemana ini?'. Masuk lagi pesan dari kang ojol itu.
'Ambil buat mas nya aja.' balasku singkat.
'Wah... Benar nih mas? makasih ya mas.' balasnya cepat kepadaku.
"Kenapa sih, kok nampak nya capek banget?" tanya Andra yang baru saja selesai memberikan teori.
"Capek, memang. Pingin cepet pulang biar capeknya hilang." jawabku menggoda.
Aku memang tidak pernah menceritakan masalahku pada siapapun, bahkan sama Andra yang sudah memgenalku dari pertama kali aku pindah ke Indonesia. Kami berada satu kampus dan satu lingkungan kos, tapi seperti ada sesuatu di dalam diriku yang tidak mengizinkan aku untuk menceritakan segala isi hatiku pada orang terdekat sekalipun.
"Hemmm. Sombong yang baru nikah."
"Kamu kapan lagi? tunggu apa lagi?"
Dia hanya mengangkat kedua bahunya, tidak peduli. Aku menggelengkan kepalaku, memang Andra ini cuek banget jadi laki-laki. Mengalahkan cueknya aku, dia gak sadar kalau ada wanita yang selalu memperhatikan dia selama ini.
Akhirnya seminar ini berakhir juga, kulihat jam di tangan kiriku sudah hampir jam delapan malam. Ku renggangkan badanku dan sedikit menguap.
"Udah tinggal minta pijitin aja nanti sama bini mu." senggol Andra saat keluar dari gedung.
"Eh... nak Dokter jomblo? mau gak jadi cucu menantu Oma?" Tanya seorang nenek peserta seminar tadi.
Kami berdua hanya melempar pandangan, ingin tertawa sih tapi takut si nenek tersinggung.
"Aku duluan ya." ku senggol bahu Andra untuk menggodanya.
"We... parah lu Leon..." panggilnya.
Aku hanya tersenyum dan meninggalkan dia, dengan cepat menuruni anak tangga gedung ini dan memasuki mobilku.
Siapa suruh udah umur segitu masih betah aja jomblo, padahal ada wanita yang selalu memberinya perhatian. Mungkin aku juga, jika tidak bertemu Shena, aku juga belum menikah saat ini.
Aku ingat saat banyak pegawai Rumah sakit yang mengira aku dan Andra pacaran. Andra memang ganteng sih, tapi aku juga masih normal. Ada-ada saja drama di Rumah sakit itu.
Semua pegawai terkejut saat menerima undangan dariku. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat aku pergi dengan perempuan, kok malah tiba-tiba nikah sih. Banyak juga yang bilang pegawai wanita Rumah sakit patah hati, tapi aku bahkan gak tau siapa aja yang patah hati. Gak penting juga sih, buat aku kerja ya kerja aja, gak sempat tebar pesona. Kalau ada yang suka, ya berarti keberuntungan aja.
Mereka malah menggoda Andra yang galau aku tinggal nikah. Andra itu memang asisten ku, jadi kemana ada aku pasti ada dia. Karena dari itu, mulai bermunculan gosip miring antara aku dan Andra. Mungkin awalnya iseng, tapi banyak sebagian pasien yang menganggapnya beneran.
Aku sih masa bodo aja. Toh buat aku mau bagaimana pun image aku di mata pegawai soal asmara itu gak penting. Karena kinerja kerja yang membuat aku begini, bukan gosip drama murahan begitu.
Ku starter mobil hitamku, dan dengan cepat ku lajukan menembus gelap malam kota ini. Ku lihat beberapa pedangang kaki lima berjejer dipinggir jalan. Ingin membelikan Shena makanan, tapi aku gak tau Shena suka apa. Ah lagian juga di bagasi banyak apa itu, aku pun tidak melihatnya tadi.
Ku parkirkan mobilku sempurna di samping rumah kami. Aku bergegas masuk dan meletakan barang-barang itu di atas pantry. Segera aku berlalu masuk ke kamar untuk mandi.
Aku tarik salah satu kursi di meja makan dan kumainkan gawaiku. Melihat hasil foto seminar tadi.
Shena sibuk menata hidangan di atas meja makan, kulihat matanya yang sesekali melirik ke gawaiku.
Ku tumpuhkan sikuku di atas paha dan ku letakan daguku di atas telapak tanganku yang ku gepalkan. Ku perhatikan wajahnya yang mencoba mengintip isi gawaiku.
Dia menyadarinya dan mencoba untuk kabur, dengan cepat aku menarik lengan tanganya dan memberikan ponselku.
"Nih, kalau kamu penasaran!"
Tidak ada apapun yang aku sembunyikan darinya, jadi buat apa aku takut dia melihat isi ponselku.
Dengan cepat dia mengembalikan ponselku. Seperti seorang anak kecil yang ketahuan mencuri, ekspresinya sangat menggemaskan.
__ADS_1
Aku hanya menggodanya namun dia salah tingkah dengan menghujani ku cubitan manja nya itu.
"Echm... jangan lupa ada aku disini, mbak."
Adiknya Shena menganggu keasyikan ku menggoda kakaknya. Dengan cepat dia menyiapkan makanan di meja makan. Sesekali aku menganggu Shima yang sedang makan bersama kami. Aku suka suasana ini, suasana yang begitu hangat dan banyak canda tawa.
Suasana yang sudah lama hilang dari hidupku.
***
Aku segera menjejaki koridor rumah sakit ini. Melewati beberapa kamar pasien sebelum masuk keruanganku.
Ku lihat sebuah undangan tergeletak di atas mejaku.
Ku buka dan hanya acara amal.
Males sih sebenarnya berada di acara ini, namun Shena jarang sekali aku bawa keluar, mungkin dia akan suka jika aku ajak keacara malam ini.
Aku berjalan keluar ruanganku dan menuju area bersalin, ku buka pintu ruangan Dokter Kandungan itu begitu sampai di depannya.
"Ri, bisa bantu aku?" tanyaku saat melihat Riany sedang duduk di bangkunya.
"Tolong apa? tumben pagi-pagi kesini?" jawabnya cuek.
Ku lihat beberapa suster di sampingnya Riany, kemudian Riany tersenyum dan meminta mereka keluar sebentar.
"Bantu aku carikan sebuah dress, dan juga kalung." pintaku to the point.
"Kamu mau ngamen di pinggir jalan?" goda Riany.
Ku sipitkan mataku tajam, dan ku buka pintu untuk keluar.
"Aku tunggu sore ini di mejaku, Terima kasih." ku ucapkan saat aku berada di bibir pintu.
Sore. Ku lihat sebuah kotak berwarna putih dan juga sebuah kotak perhiasan, sudah terletak di atas mejaku saat aku kembali dari ruang operasi. Ku buka dan ku lihat ukurannya, cocok sama Shena. Bagus, Riany memang bisa di andalkan.
Ting... sebuah pesan masuk dari Riany.
'Sudah lihat? suka kan? kalok suka bayar dua kali lipat.'
Dasar... Dia tidak kekurangan uang kenapa mau memerasku sekarang.
Segera aku meninggalkan Rumah sakit dan pulang kerumah. Sengaja ku tinggalkan kotak itu di mobil karena biasa Shena akan memyambutku saat pulang.
***
Ku renggangkan badanku saat masuk kedalam mobil, kulihat jam di tanganku masih jam enam kurang. Lelah banget, males sekali kalau harus keluar malam lagi. Tapi aku sudah ngajak Shena. Gak mungkin juga aku batalkan gitu aja.
Ku parkirkan mobilku di depan rumah. Aku masuk kedalam kamar dan kulihat Shena yang sedang berhias di depan kaca. Sangat menggoda, dia cantik dalam balutan warna hijau. Sama seperti gaun pengantinnya dulu.
"Kok udah jemput mas?" tanyanya padaku.
"Mau mandi dulu, aku gerah." jawabku sambil berlalu kekamar mandi.
Sebenarnya masih ingin menatapnya lebih lama lagi. Tapi nanti dia malah curiga. Dengan cepat ku basuh tubuhku dengan air. Ku buka lemariku dan kupilih kemeja hitam polos dengan lengan panjang.
Ku sisir rambutku dan menyemprotkan parfume ku. Ku lihat Shena yang memandangku terpaku, sepertinya dia terpesona.
Kulangkahkan kaki menuju belakang tempat duduknya dan ku keluarkan kalung yang ku beli kemarin.
"Suka?" bisikku di telinga kirinya.
Dia hanya mengangguk, wajahnya merona merah. Ku letakan daguku di pucuk kepalanya dan ku lepaskan ikatan rambutnya.
"Kamu cantik, tapi aku lebih suka jika rambutmu terurai." kembali wajahnya bersemu merah.
Aku berniat ingin meninggalkan dia karena debaran jantungku yang tidak dapat aku kontrol saat melihat rona wajahnya yang seperti itu.
"Mas." panggilnya lembut sebelum aku berlalu meninggalkannya.
Dia menarik tanganku dan menggulung tangan kemejaku sampai setengah tiang, dia merapikan kerah kemejaku dan mengelus bahuku.
Deg... Debaran jantungku kini semakin bertabuh kencang.
"Aku suka lihat kamu begini." aku yang malu hanya bisa menggaruk kepalaku. sampai rambutku jatuh ke mata kananku dan dia melihatnya dengan wajah yang terpana.
"Yaudah... ayuk." ajaknya sambil mengambil lengan tanganku dan di gandengnya.
Oh ya ampun Shena, bagaimana kamu mampu melakukan ini kepadaku?
__ADS_1