Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 11


__ADS_3

POV Leon


Ku lihat jam di tanganku sudah menunjukan pukul tujuh malam. Ku jejaki tangga gedung seminar ini, telat sekali pulangnya.


Aku masih harus mengurus seminar pada saat cuti pernikahanku. Dasar Riany ini, demi kencan nya aku harus mengorbankan cuti hari terakhirku.


Ku laju mobilku dengan cepat melewati ramainya kota malam hari, kasian Shena harus ku tinggal sendirian dirumah. Ku parkirkan mobilku tepat di samping rumahku.


Ku buka pintu rumah dan kulihat wajah Shena yang baru keluar dari dalam kamar. Terlihat sendu dan bercahaya.


"Sudah makan?" tanyaku padanya.


Dia hanya menggeleng, dan menundukan kepala. Oh ya ampun kenapa dia sangat menggodaku. Aku ingin mengajaknya keluar, namun badanku terlalu lelah karena kegiatan ini.


"Aku agak lelah, aku pesankan makanan saja ya."


Ekspresi wajahnya langsung berubah cemberut, eh ada apa dengannya? Apa ada yang salah dengan perkataanku.


"Mas saja yang makan, aku tidak lapar." wajahnya terlihat kesal, dia langsung masuk kekamar.


Loh kenapa dengan dia? Aku hanya lelah, tidak sanggup juga aku memasak untuknya. Apa dia sedang merajuk padaku.


Aku hanya menggaruk-garuk kepalaku dan membuka laptopku. Ku ketik beberapa laporan hasil seminar tadi, aku lihat suasana dapur yang masih sama seperti saat ku tinggal tadi, bahkan loyang kuenya masih terletak di atas pantry.


Apa saja yang dilakukan wanitaku seharian ini?


Dasar...


Aku tersenyum sendiri tidak tahu harus memikirkan apa, bahkan dia juga tidak masak untuk dirinya sendiri.


Aku melangkah ke dapur dan ku buka lemari es, ku tuang segelas air putih dan ku potong kue buatan wanitaku.


Rasanya tidak buruk, mungkin dia memang berbakat di bidang ini.


Aku kembali ke meja makan untuk melanjutkan membuat laporan. Ku renggangkan badanku untuk mengusir lelah ini, sudah jam sebelas malam, apa wanitaku tertidur dalam perut kosong?


Ku pastikan dia di kamar nya, benar saja dia sudah tertidur pulas. Wajah polosnya itu selalu membuat aku lemah, kenapa dia selalu bisa membuat hatiku begitu lemah?


Ku cium dahinya dan ku tarik sedikit selimutnya, kadang tingkahnya seperti anak kecil saja.


Aku lanjut ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan beranjak tidur.


Pagi. Ku lihat sebelah kasurku sudah tidak ada orang, kemana dia pergi pagi-pagi?


Ku jalankan tugas ku sebagai seorang muslim. Selesai sholat aku mendengar banyak kegaduhan yang terjadi di dapur.


Apa yang sedang di kerjakan wanitaku itu?


Ku lihat dia yang sibuk di dapur, lucu melihatnya yang sedang kewalahan seperti itu.


"Tumben kamu pagi-pagi sudah sibuk di dapur, Shen?" Ku lihat dia yang sedang memasak itu terkejut.


"Kelaperan?" goda ku padanya.


Kembali rona wajahnya yang ingin tersenyum malah mengerucut.


Aku tertawa dalam hati, setiap hari ada saja yang di buatnya untuk menghiburku.


Ku lanjutkan untuk menulis laporan hasil seminar semalam. Kulihat dia yang sibuk mondar mandir menawariku sesuatu. Dia ini, berusaha menjadi istri yang baik kah?


Tidak perlu sampai seperti ini aku pun tetap akan mencintainya.


Kembali dia datang ketempatku dan menanyakan cake yang semalam aku makan.


"Kalau kamu sakit gimana, mas?"


Pertanyaan nya itu membuat aku senang setengah mati, dia perhatian kepadaku, apa tidak salah?


"Kok kamu makan sih, kan itu bantat."


"Itu adalah masakan pertama buatan istriku, aku tetap akan memamakannya bagaimana pun hasilnya." jawabku serius.

__ADS_1


Ada rona merah di pipinya, seperti ingin tersenyum namun dia berusaha untuk menutupinya.


Lagi, semua tingkahnya membuat aku terpana.


Aku beranjak pergi setelah memberikan salah satu kartu ATM ku padanya. Polos sekali, bahkan dia bertanya untuk apa aku memberikan kartu yang selalu di incar para gadis itu.


Dia memang berbeda, itulah kenapa sebabnya aku memilihnya.


***


Sore. Seharian aku hanya terbayang oleh wajahnya, wajah nya yang selalu memberikan kesan tersendiri di hatiku. Aku tersenyum sendiri, membayangkan akan ada yang menyambutku saat pulang nanti.


Yang membuat hatiku berdebar adalah karena wanita itu Shena, mungkin aku tidak akan semangat seperti ini jika wanitanya bukan dia.


Ku buka pintu mobilku dan kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan parkiran Rumah sakit. Aku teringat saat ini dia dirumah orang tuanya, aku pun dengan cepat memutar balik arah mobilku, ku telepon dia untuk memastikan dia masih berada disana.


Tak lama berselang aku sampai dirumahnya, ku lihat Bapak sedang asyik bersantai menikmati keindahan langit sore.


"Assalamualaikum pak." Sapaku saat beranjak masuk.


"Waalaikum salam, eh nak Leon silahkan duduk."


Aku hanya tersenyum dan mengikuti perintahnya, Aku memang sempat akrab dengan Bapak dulu, tapi sekarang aku malah canggung dengan nya karena posisi dia yang sekarang menjadi mertuaku.


"Baru pulang?" tanyanya.


"Iya pak." jawabku kaku.


"Gimana? Enak toh menikah?" tanya dia dengan menyunggingkan bibirnya sedikit.


Aku hanya mengangguk malu, entah malu, entah kaku.


Tawanya lepas setelah melihat gelagatku. Bapak memang orang yang humoris, tapi sekarang aku tidak tahu bagaimana harus bersikap dengannya.


Bahkan debaran jantungku lebih cepat dari pada harus melamar Shena dulu.


Aku, yang tidak terbiasa bercerita pada seseorang, bagaimana bisa menghadapi situasi seperti ini.


"Jangan tegang toh nak, kan masa-masa itu sudah lewat. Santai toh santai." ucapnya sambil menepuk-nepuk lenganku.


Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, gelagat dia yang sambil sesekali melihat kedalam seperti ada rahasia yang ingin di sampaikannya.


"Masa dimana kamu dan Shena akan memberikan cucu ke Bapak." jawabnya sedikit berbisik.


Aku yang mendengarnya langsung tertawa dan menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.


Aku menggeleng kan kepalaku mendengar perkataan orang tua yang satu ini, tidak berubah setelah lima tahun.


"Mas kok kamu disini sih?" tanya Shena yang baru keluar dari dalam rumah.


"Yah kenapa memangnya kalok dia disini, toh ini juga rumahnya kan."


Ku lihat wajah Shena yang sedikit bingung, di tambah jawaban Bapak yang asal kena aja. Pantas saja wanitaku ini polos sekali, keluarganya begitu hangat, dia mendapatkan segalanya di dalam rumah ini.


Jelas di umur dia yang saat ini seharusnya dia paham bagaimana dunia luar, namun dengan kepolosannya itu dia hanya bagaikan seorang anak kecil yang harus di lindungi.


"Nak Leon, ayo makan malam dulu." ajak Ibunya yang tak kalah lembut dengan Shena.


Sekarang aku benar-benar paham, kenapa dengan mudahnya aku bisa meminta wanitaku pada orang tuanya. Itu karena wanitaku tumbuh dengan segala kehangatan yang membuat dia selalu terlihat menarik bagiku, aku yang tidak pernah merasakan hangat kasih itu seperti tertarik untuk lebih mendekat ke dia.


Seperti ada magnet yang terus menarikku untuk mendekat kearahnya, aku berharap bisa merasakan kehangatan itu dari keluarga ini.


Aku menerima tawaran Ibu mertuaku dan memasuki rumah sederhana mereka, namun disini atmosfernya sangat berbeda. Atmosfer yang tidak pernah ku rasakan dimana pun tempatnya, bahkan dirumah tante Ranti sekalipun.


Aku terpaku saat melihat rentetan menu makanan yang tertata di atas meja. Bukan makanan nya yang membuat aku terpaku, namun suasananya, yang membawa pikiranku jauh ke belasan tahun lalu silam.


Sebuah pemandangan yang telah aku lupakan selama belasan tahun. Aku tidak pernah ingin mengingatnya walaupun sedetikpun, terlalu dalam luka yang pernah terukir pada kenangan itu. Aku tidak sanggup membuka luka itu walaupun hanya sedetik.


Tanpa suara, tanpa bergeming, aku sadar bulir bening ini mulai menjelajahi pipiku. Suara perintah Ibu membuat aku sadar dan beranjak dari keterpakuan ini.


Aku menarik kursi dan duduk di sebelah Shena. Ku perhatikan lagi isi di dalam meja itu, semua hidangan itu mengingatkan aku pada mama, papa dan dia. Wanita yang selalu berusaha untuk aku hidupkan lagi dalam diriku, namun menjadikan aku kehilangan jati diriku. Wanita yang selalu ku jalani keinginannya, namun membuat aku lupa akan keinginanku.

__ADS_1


Aku berusaha untuk menata hidup sepertinya , namun aku melupakan hidupku. Wanita yang bahkan sedetikpun aku tidak ingin mengingatnya lagi. Bukan karena dia terlalu dalam melukaiku, namun karena aku yang menjadikan kenangannya sebagai luka dihatiku.


Aku memakan butiran nasi ini dengan nikmat, aku menikmati setiap suapan itu. Bukan hanya rasanya, namun juga kenangan yang terdapat di dalamnya. Ku lihat kedua kembar itu bertengkar di meja makan. Mirip sekali dengan aku dulu, aku yang masih berumur sepuluh atau sebelas tahun, aku yang selalu ceria dan membuat keonaran.


Setelah makan malam itu, kami izin untuk pulang. Ku lihat wanitaku yang memeluk erat kedua orang tuanya dan adik kembarnya itu.


Aku melajukan mobil hitamku dengan cepat, pulang dari rumah orang tua nya Shena. Aku hanya berusaha untuk melupakan rentetan peristiwa silam dari hidupku, semakin aku ingin lupakan maka semakin terang ingatan itu kembali.


Ku buka pintu rumah dan langsung aku menjejaki masuk ke kamar mandi. Ku biarkan wajahku tersiram oleh air ini. Berharap aliran air ini mampu membawa pergi seluruh kenangan burukku. Aku tidak pernah bisa melupakan kenangan ini, semakin ku coba lupakan maka seluruh rentetan peristiwa kelam terlihat. Sampai mampu menghapus semua kenangan indah yang pernah di ukir wanita itu di ingatanku.


Aku buka pintu kamar, ku lihat Shena yang telah duduk di pinggir bibir kasur. Sepertinya dia memang telah menunggu momen itu, momen dimana aku selalu memintanya untuk mengeringkan rambutku.


Hehhm, aku menggelengkan kepalaku, bagaimana mungkin aku melupakan wanita itu, jika pertama kali aku jatuh cinta sama Shena karena melihat wanita itu dalam dirinya.


Aku yang selalu menghadirkan sosok wanita itu dalam hidupku, aku yang tidak pernah melepaskan bayang-bayangnya. Sampai aku menjadikan wanita lain untuk menggantikannya.


Lihatlah, aku telah menggantikanmu dengan wanita lain, dan wanita itu jelas mampu lebih baik dari pada kamu. Dia membawa kembali cahaya yang kau redupkan dalam hidupku. Dia yang menyelamatkan aku dari ingatan butuk tentangmu, jadi mari mulai malam ini kita akhiri saja.


Aku akan melepaskan bayangmu dari dalam diriku. Aku hanya ingin merasakan nya sekali lagi, sebelum aku menghilangkannya selamanya. Aku ingin merasakannya sekali lagi, ku mohon hanya sekali ini, lalu pergilah sejauh mungkin. Pergi tinggalkan aku disini tanpa kenangan apapun lagi tentangmu, Sera.


Aku berjalan mendekat ke sisi Shena, ku letakan kepalaku di dalam pangkuannya. Ku rasakan lembut belaian Shena di kepalaku.


Maafkan aku, wanitaku. Aku menjadikan pangkuanmu untuk melepaskan segala kerinduanku pada Sera. Mungkin jika kamu tau, kamu akan terluka.


Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya, aku meminjam pangkuanmu untuk Sera. Untuk merasakan hangat tangan Sera, sekali ini saja, aku mohon maafkan aku, suamimu.


Aku membenamkan kepalaku di atas pangkuan Shena, dengan sabar Shena mengeringkan rambutku. Setelah beberapa lama tangannya mulai berhenti, di mengelus kepalaku dengan sangat lembut.


Seketika, ingatanku kembali ke masa itu. Dimana Sera yang dengan sabar mengeringkan rambutku. Dengan celoteh bawelnya itu, namun dia tidak pernah mengabaikanku. Aku teringat masa itu, masa dimana Sera selalu memanjakan aku seperti ini, dia selalu mengacak rambutku yang ku anggap keren. Selalu membuat aku marah, hanya kepada Sera aku mampu menunjukan segala sisiku.


Hanya kepada Sera aku mampu melihatkan kelemahanku, aku rindu kamu Sera. Aku sangat rindu, aku mohon kembalilah ke padaku, walau hanya sekali, walau hanya sedetik.


"Mas... kamu tidur?" suara Shena memecahkan kenangan masa laluku. Sesaat aku lupa aku berada di dalam pangkuan siapa.


"Mas, ayo pindah ke kasur." Dia mengelus pundakku.


Tapi aku memeluk kedua betisnya dengan erat. Jangan sekarang aku ingin sebentar lagi. Aku mohon jangan akhiri ini. Belum, aku belum sempat merasakan kerinduanku berakhir.


"Jangan... Ku mohon biarkan aku seperti ini." Aku berusaha untuk tetap seperti ini.


Aku melihat bayangan Sera yang sempat hadir lalu memudar, aku telah kembali ke dunia ini, tapi aku bahkan tidak sempat memeluknya lagi.


Semakin ku eratkan pelukanku dan perlahan air mataku tak dapat ku bendung lagi.


Cengeng... dasar Cengang. Aku lelaki kenapa secengeng ini?


"Mas."panggil dia lembut.


"Sebentar saja. Aku mohon sebentar saja." aku semakin melekatkan wajahku di pangkuannya.


Shena, aku minta maaf tapi kumohon untuk kali ini. Biarkan aku merasakan Sera yang hadir dalam dirimu. Untuk kali ini jangan sadarkan aku akan adanya dirimu.


Maafkan aku Shena, sekali ini saja ku mohon jangan panggil aku lagi.


"Kamu kenapa mas?" tanyanya, nadanya terdengar khawatir.


"Aku sangat merindukan nya. Rindu sekali."


"Biarkan aku seperti ini, aku ingin merasakannya lagi, aku rindu, sangat rindu."


"Rindu? rindu siapa mas?" Dia bertanya kembali dengan nada yang hati-hati.


"Sera." suaraku lirih.


"Louissera." sambungku.


Sejenak aku terdiam, apa yang aku lakukan, tanpa sengaja aku menyebutkan nama Sera. Oh apa yang akan di pikirkan wanitaku sekarang?


Aku terlalu dalam masuk ke dalam ingatan masa laluku sampai aku ingin menggantikan posisi Shena dengan Sera.


Aku ini terlalu bodoh, apa yang sudah aku lakukan, bahkan untuk mengangkat kepalaku pun aku sudah tidak berani. Bagaimana aku harus menatap wajah wanitaku sekarang?

__ADS_1


Dia pasti akan salah paham padaku, Aku belum siap untuk menjelaskan apapun tentang keadan ini.


Maaf Shena, maafkan aku. Hanya itu yang mampu ku ucapkan, dan itupun hanya dalam batinku saja.


__ADS_2