Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 18


__ADS_3

POV Shena.


Aku menyiapkan sarapan setelah mengompres dahi mas Leon tadi. Ku lirik jam di dinding dapur sudah hampir jam 7, tapi mas Leon belum keluar. Apa panas nya meninggi lagi?


Baru ingin aku masuk untuk memeriksanya tapi mas Leon sudah keburu keluar.


Ku lihat dia yang sudah rapi, apa dia gak merasa demam ya semalam?


Ku siapkan teh hangat untuk nya sambil ku sentuh sedikit punggung tangannya. Syukurlah dia sudah membaik, ku siapkan makanan tanpa banyak berbicara.


Sebaiknya tetap seperti ini saja, sama-sama saling menjaga hati mas. Agar tidak ada yang saling menyakiti satu sama lain.


Jika kita masih saling terikat oleh masa lalu satu sama lain, mau sampai kapan rahasia di antara kita terus berlanjut mas?


Tidak adakah salah satu dari kita yang ingin memulai menceritakan masa lalu satu sama lain.


Mau sampai kapan hubungan ini terus seperti ini.


Mau sampai kapan pernikahan kita berjalan seperti ini mas?


***


Tak terasa pernikahan kami sudah hampir memasuki umur satu tahun. Aku masih berusaha untuk menarik diri sampai saat ini. Bukan tanpa alasan, Aku masih sering mendengar nama Sera di sebut dalam tidur mas Leon.


Selama ini mas Leon juga gak pernah meminta haknya padaku, aku juga gak pernah menawarkannya. Padahal jika ia mau, ia bisa saja melakakukannya, aku tidak akan keberatan jika harus melakukannya tanpa cinta, karena hak ku selalu di penuhi oleh nya.


Aku juga sering sekali berjumpa dengan Riany, saat mas Leon mengajak aku menghadiri acara amal ataupun acara formal lain nya. Tetapi mas Leon tidak pernah bercerita apapun tentang Riany. Mereka berdua selalu terlihat akrab di setiap acara, bahkan banyak di antara rekan kerja mas Leon yang masih mengira mereka berdua pasangan suami istri.


Padahal aku dan mas Leon sudah menikah cukup lama.


Begitu juga denganku, Randy masih berusaha untuk menemui ku beberapa kali. Walaupun aku berusaha untuk menghindari, jika ia mau maka kami akan berjumpa.


Sudah beberapa kali ia mengganti nomor handphone nya untuk menghubungi aku, nomornya akan selalu berakhir dalam daftar blacklistku. Beberapa kali sebuah akun meminta aku yang menghantar langsung, namun aku memilih hari libur untuk menerima pesanannya, biar mas Leon yang mengantar itu.


Aku tidak pernah menceritakan itu semua, karena sama saja, mas Leon juga gak pernah memberikan penjelasan kepadaku tentang Sera ataupun Riany. Bukan ingin balas dendam, hanya saja aku tidak ingin menyakiti mas Leon lagi.


Lebih baik menyimpan racun ini di dalam dagingku dari pada harus ku muntahkan dan hasilnya mas Leon yang akan menelannya.


Walaupun mas Leon masih banyak menyimpan rahasia nya, aku juga gak bisa menyakitinya. Bagiku mas Leon adalah lelaki yang baik, aku gak bisa menyakiti hati lembutnya itu. Tidak tega rasanya.


Aku tidak punya cukup keberanian untuk menanyakan tentang Sera ataupun Riany secara langsung. Aku takut dengan jawaban mas Leon, aku takut tidak sanggup mendengar jawabannya.


Sinar matahari terasa hangat menyapa wajahku. Saat hari sabtu begini aku terbiasa menghabiskan lebih banyak waktu bermanja di kasurku. Biasa kalau hari libur mas Leon akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar dan pulang agak siang. Dia ada kegiatan bersepeda atau pun hanya lari pagi.


Aku selalu menghindar jika ia mengajakku olahraga pagi. Kalau bukan hari libur, aku tidak bisa bermanja mesra di atas kasur. Sebelum punya bayi yang mengganggu tidurku, biarkan aku puasin masa mudaku dulu.


Tunggu dulu, bayi?


Haduhhh, buat nya juga gak tau kapan, kok bisa mikirin bayi sih?


Aku menggelengkan kepalaku dan ingin beranjak bangun.


Ku lihat sebelah kasurku sudah rapi dan tak berpenghuni. Ku renggangkan badanku dan ku peluk kembali gulingku. Males banget mau gerak. Ku raih jam di atas nakas dan ku lihat sudah jam delapan lewat.


Dengan mengulet aku bangun dari kasurku, berjalan kearah jendela untuk menyingkapkan kain gordennya.


Ku langkahkan kakiku menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Saat ku buka pintu kamar suara riuh terompet dan dan kertas klap klip berjatuhan di hadapanku.


"Selamat ulang tahun, Sayang." mas Leon datang memelukku.


Ya ampun aku lupa hari ini ulang tahunku.


"Makasih, Mas." aku membalas pelukan mas Leon.


Pernikahan aku dan mas Leon tanpa di dasari cinta, tapi ntah kenapa selama ini hubungan kami terlihat akrab bak sepasang suami istri yang saling mencintai. Walaupun saat ini aku masih selalu menarik diriku, untuk bertahan pada dinding yang ku bangun, menahan perasaan untuk tidak jatuh cinta padanya


"Mbak, selamat ulang tahun ya." ucap Shima sambil mencium pipiku.


"Makasih." ku cubit pipinya itu.


"Ih... Yang ulang tahun masih jorok."


Mas Leon membawa kue tart yang sudah berhiaskan lilin kehadapanku.


Kue tart cantik dengan hiasan bunga yang dominan hijau muda, entah mungkin hijau muda itu warna kesukaan mas Leon.

__ADS_1


Ku lihat Bapak dan Ibu sudah duduk di meja makan dengan segala masakan kesukaanku. Ada ikan kerapu asam pedas salah satunya. Yang membuat cacingku meronta-ronta ingin di isi.


Ku lihat wajah Ibu yang padam dan menggeleng kepalanya.


"Apa seperti ini, Shena setiap hari nak Leon?" tanya Ibu yang sepertinya marah.


"Tidak juga, bu'. Kalok Shena kecapek an aja."


Terlove lah buat mas Leon yang selalu belain aku. Ku lingkari tanganku di pinggang mas Leon.


"Ya mbok, jangan terlalu di manja kali Shena nya. Nanti dia kebiasaan loh." ucap Bapak yang lebih setuju ke Ibu


"Saya gak keberatan, yang penting Shena bahagia, Pak."


Aku tersenyun dalam hati, mas Leon memang Best banget deh.


"Yaudah, ayuk duduk. Ini dimakan." perintah Ibu


Suasana begitu riuh pagi ini, bahagia sekali melihat keluarga ku lengkap disini. Tambah lagi tahun ini ada seseorang yang hadir melengkapi kebahagiaanku.


Selesai makan, aku membereskan sisa piring kotor pagi ini dan juga sisa semalam. Ibu membantu aku di dapur, sedangkan Bapak dan Mas Leon sedang santai di taman samping. Kalok si kembar, entah gak tau dimana.


"Kamu sering begini, nduk?" tanya Ibu sambil mencuci piring.


"Kalau hari libur saja, Bu."


"Jangan begitu, suami kamu bisa bosen lihat tingkah kamu."


Iya aku tahu, tapi Ibu juga gak paham bagaimana posisiku saat ini. Mas Leon gak selamanya bersikap jujur padaku, ada sesuatu yang selalu di simpannya rapat-rapat.


Aku juga gak tau, mau dibawa kemana hubungan kami jika terus seperti ini.


"Mbak." Panggil Shima di sebalik pantry.


"Hemm."


"Aku masuk universitas mbak juga loh." ucapnya antusias


"Benarkah, bagus donk."


"Aku ambil jurusan Hukum, Mbak."


"Kenapa gak ambil jurusan Akuntan aja sih? Kan itu sesuai kepintaran kamu." ucapku sambil membilas piring-piring yang ku cuci.


"Tidak mau, aku mau masuk jurusan Hukum, Mbak."


"Yakin kamu mau masuk jurusan Hukum? Hukum itu bukan sesuatu yang mudah, banyak yang harus kamu pikirkan, dek." Aku berusaha membujuknya.


"Yakin mbak, aku suka mbak."


"Kuliah itu bukan hanya perkara kamu suka atau tidak, Shima. Hukum itu bukan jurusan yang gampang, yang hanya karena kamu sukai bukan berarti kamu kuasai begitu saja. Hukum itu butuh banyak pertimbangan, harus punya keadilan dan harus di landasi agama yang kuat. Saat kamu jadi Lawyer nanti, pekerjaan kamu punya tanggung jawab yang berat, bukan hanya di dunia tapi juga ke akhirat, sayang." ucapku berusaha meyakinkan ia sebelum ia salah melangkah.


Jujur saja, dulu aku juga sempat kewalahan mempelajarinya. Makanya saat mas Leon menawariku untuk kembali kuliah aku menolaknya.


"Terus kalau Mbak gak mampu, mbak pikir aku juga gak mampu gitu?" ucapnya kesal.


Aku yang mendengar perkataan nya itu, menjatuhkan gelas yang sedang aku bilas. Karena suara pecahan itu mas Leon dan Bapak masuk kedalam, begitu juga Shine.


"Shima, apa yang kamu katakan?" Ucap Ibu sambil membereskan pecahan beling di bawah.


Sementara aku masih terpaku, tidak percaya Shima berbicara kasar padaku.


Memang aku tidak mampu, namun kenapa rasanya begitu menyakitkan saat mendengar perkataannya.


Aku tahu, aku memang tidak mampu membagi waktu kuliah dan bekerja, karena itu aku lebih memilih untuk meninggalkan mimpiku demi keluargaku.


Belum siap aku menerima itu, Shima mengatakannya lagi.


"Terus, mbak pikir aku tidak bisa seperti mbak gitu? mbak pikir mbak lebih hebat dari aku dan shine, iya? aku gak kalah pintar dari mbak kok, aku bisa lebih baik dari pada mbak."


Serr... seperti di dorong dalam jurang. Ada perasaan kesal dan juga marah mendengar perkataan Shima yang seperti itu. Sejak kapan gadis manis yang ceria itu jadi begitu lantam.


Bulir-bulir bening telah menghiasi pipi cabiku.


Aku masih tidak percaya sama yang aku dengar barusan, ya Tuhan, niatku hanya ingin agar ia tidak kesulitan. Aku sayang dengannya, aku gak mau ia sampai putus di tengah jalan seperti aku.

__ADS_1


Aku saja yang begitu memimpikan bisa bekerja di bidang Hukum tak mampu untuk menyelesaikannya. Aku takut jika ia hanya sebatas suka, lalu bagaimana jika ia bosan?


Akan ia tinggalkan begitu saja?


"Terserah kamu aja!" aku berjalan memasuki kamarku, ku tutup pintu kamarku, dan duduk bersimpuh di depan jendela kamar. Angin masuk dari cela-cela jendela yang terbuka menyapa pipiku lembut. Bukan untuk menyeka air mataku, tapi malah membuat air mataku semakin meleleh.


Tidak kusangka adik kecilku berkata seperti itu kepadaku. Ucapan nya masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku ini memang tidak lebih baik darinya, karena itu aku tidak mau dia mengalami kesusahan seperti aku.


Aku tidak meminta nya untuk tidak kuliah, aku hanya takut dia akan bosan jika tidak mengambil jurusan sesuai kemampuannya. Tapi kenapa kata-kata nya sangat mengiris hati, terasa setiap sayatan nya begitu perih.


Aku yang salah, semua ini salahku, seharusnya aku menjadi kakak yang baik. Agar adik-adikku bisa mencontoh yang baik dari diriku.


Aku memang sudah gagal, aku gagal.


Terdengar suara daun pintu kamarku di ketuk lembut.


"Shena." suara lembut terdengar dari sebalik pintu.


Aku melipatkan kedua kakiku dan ku letakan daguku di atas dengkulku.


"Aku masuk ya." aku masih tidak begeming dari dudukku. Terdengar suara langkah kaki mendekat.


Terasa tangan mas Leon mengelus lembut pucuk kepalaku. Ia hanya terdiam, di genggamnya tanganku dan menghela nafas berat.


"Maafkan adikmu, dia belum dewasa." ucap mas Leon lirih


"Dia sudah dewasa Mas, aku yang salah Mas, semua ini salahku." aku mandekap kedua kakiku, dan membenamkan wajah diatas lututku.


"Kamu gak salah, sayang. Dia hanya terbawa emosinya."


Mas Leon menarik kepalaku dan menyenderkan kebahunya, di hapusnya buliran air mataku.


"Jangan menangis, sayang. Jangan menyiksaku." ucapnya sambil merangkul bahuku.


"Salahku, Mas. Aku sudah gagal Mas." aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.


Dibiarkannya aku menangis sejenak, ia memberikan ruang untuk aku menumpahkan kesedihan hatiku.


Ada amarah saat aku mengingat ucapannya, ucapannya selalu terngiang di telingaku.


"Shena, maafkan adikmu. Dia hanya belum mengerti..."


"Jadi kapan? kapan dia bisa belajar Mas?" ucapku memotong kalimatnya.


Mendengar mas Leon yang membela Shima buat aku semakin emosi, apa aku salah jika khawatir sama dia?


"Di umur dia yang sekarang, aku sudah bekerja, Mas. Pikiranku sudah bisa mengerti bagaimana memperlakukan orang lain." ucapku kesal.


Seperti tak ingin melawanku, mas Leon hanya diam dan mendengarkan aku.


"Dia berpikir dia lebih pintar dariku, jadi kenapa dia tidak bekerja sambil kuliah saja, atau tidak dia bisa mengambil beasiswa, jadi dia tidak perlu menyusahkan...."  mas Leon menempelkan satu jari di bibirku.


"Jangan lanjutkan kalimatmu lagi, Shen. Dia tidak buruk, niat dia baik Shen." Dia berbicara namun matanya kosong menatap keluar jendela.


"Kamu tau apa, mas? Kamu tidak tau apa-apa, Mas."


"Aku tau, aku sangat tau bagaimana isi hati Shima. Kamu mungkin gak akan tau, tapi aku tau, tau sekali karena Sera....."


"Sera lagi, Sera lagi. Aku bosen mendengar kamu menyebut namanya terus Mas." aku memotong kalimat mas Leon.


Mas Leon seperti tertegun mendengar ucapanku.


Mata mas Leon menatapku tajam, seperti ada kemarahan yang di pendamnya mendengar aku menyebut nama Sera. O...o ada apa sebenarnya, apa aku menyinggung perasaan nya.


"Jangan berkata seperti itu, Shena. Ku mohon jangan ucapkan apapun tentang, dia jika kamu tidak mengenalnya." kali ini ia terlihat sedang menahan amarah.


"Kalau gitu, kenapa kamu gak berusaha kenalin ke aku?" ucapku yang mulai kesal jika mengingat mas Leon yang selalu menyebut namanya.


"Shena, ku mohon hentikan." ucapnya sedikit keras, namun itu mampu membuatku bungkam dan kembali menangis.


Kenapa? mas Leon membentakku hanya demi wanita itu.


Kenapa? mas Leon membela ia di bandingka aku istrinya?


"Kamu tidak tau dia amat berarti bagiku." ucapnya kembali.

__ADS_1


Seperti tak cukup membentakku, kini ia harus mengatakan kalimat yang menyakitkan itu lagi.


Oh... my, mas Leon kamu menyebut wanita lain berarti di depanku. Siapa dia di dalam hatimu? apakah sebesar itu artinya bagimu, sampai matamu menyimpan kemarahan saat aku menyebut namanya? apa dia bagian dari masa lalu mu yang tidak tercapai?


__ADS_2