Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Bukan Mencari Perhatian


__ADS_3

Duchess Alexsa menyuruh pelayan Anne mengambil sebuah kain merah, dan tentu pelayan Anne menuruti perintah sang majikan. Walaupun dia tidak mengerti.


"Nyonya, ini kainnya."


Duchess Alexsa melipat kain itu. "Jahit pinggirannya."


"Baik Nyonya."


Pelayan Anne menjahit kain merah itu dengan hati-hati dan teliti. Hingga memakan waktu tiga jam.


"Kamu sangat berbakat Anne," puji Duchess Alexsa. Jahitannya begitu rapi tidak kalah dengan mesin modern.


"Terima kasih pujiannya, Nyonya, tapi kain itu untuk apa?"


Duchess Alexsa menutupi kedua matanya, mengikat simpul kain sutra berwarna merah itu. "Aku menggunakannya seperti ini, Anne. Aku tidak mungkin keluar dengan mata hijau ku."


"Apa! Nyonya tidak bisa melihat."


"Anne, kain ini hanya pembatas saja. Aku bisa melihat dan mendengar. Jadi tenang saja," ujar Duchess Alexsa. Dia akan berpura-pura sakit mata dengan alasan agar tidak membuat yang lain ketularan.

__ADS_1


"Benar, Nyonya sangat sepesial."


"Ayo Anne kita keluar, aku ingin menyapa semua orang." Duchess Alexsa keluar dengan pelayan Anne yang menuntunya. Baru menginjak lantai satu, Duchess Alexsa mendengar bisik-bisik dari para pelayan. Namun ia membiarkannya, karena ia tidak memiliki urusan dengan para pelayan.


"Kasihan sekali Duchess, sekarang matanya yang sakit. Mungkin karena tidak di perhatikan oleh Duke, Duchess jadi patah semangat," ujar salah satu dari tiga pelayan itu.


"Biarkan saja, toh memang Duchess tidak berguna. Dia tidak menurunkan kekuatan Tuan Marquess, aku jadi ragu Duchess anak dari Tuan Marquess."


Deg


Duchess Alexsa menghentikan langkahnya, semua orang boleh menghinanya, tapi tidak dengan ibunya. Ia menoleh ke belakang, seakan melihat keduanya dan memang benar dia melihat wajah ketiga pelayan itu.


"Jangan menghina orang, kalau tidak ingin kenak karmanya," ujar Duchess Alexsa begitu dingin.


Ketiga pelayan itu takut, suara Duchess Alexsa membuat bulu kuduknya berdiri. Ketiga orang pelayan itu pun memberikan hormat dan buru-buru pergi.


"Aku ingin sekali menguliti mereka," ujar pelayan Anne.


"Anne, kita keluar. Aku ingin menuju sebuah bukit yang tenang, tanpa ada orang yang mengganggu ku."

__ADS_1


"Baiklah, Nyonya. Saya tau di mana."


"Tunggu!" suara itu menghentikan langkah pelayan Anne dan Duchess Alexsa.


Pelayan Anne memberikan hormat pada kedua laki-laki itu, Duke Vixtor dan Marquess Ramon tanpa sengaja melihat Duchess Alexsa dan Pelayan Anne yang keluar. Namun yang menjadi penasaran, Duchess Alexsa menutupi kedua matanya dengan kain.


"Kenapa dengan mata mu, Duchess?"


"Tidak mencari sensasi atau perhatian dari Duke dan Marquess," ujar Duchess Alexsa dengan tegas. Ia tidak mau karena ulahnya di katakan ingin menarik simpati dari kedua laki-laki itu. Lebih tepatnya dia ingin menyembunyikan hal besar, sesuatu yang tak boleh orang lain tau.


Seperti bisa menebak pikiran keduanya, Duke Vixtor dan Marquess Ramon saling menatap.


"Aku tidak peduli, kamu mencari sensasi atau tidak. Karena aku tidak ingin melakukan perhatian pada mu."


"Baiklah, sudah selesai. Aku harus pergi."


"Duke, dia seperti bukan Alexsa yang aku kenal. Dimana ketakutannya saat bertemu dengan kita? seandainya kain itu tidak menutupi kedua matanya, aku yakin mata itu sudah menatap kita."


"Hem... Anda juga menyadarinya, tapi kenapa anda membenci Alexsa."

__ADS_1


"Karena sebuah kesalahan aku membencinya," lirih Marquess Ramon. Karena kesalahannya, ia harus menikah dengan wanita lain yang tak ia kenal. Bahkan asal usulnya pun dia tidak tau. Pernah ia mencari asal usulnya, namun tidak ada jejak apa pun dan sekarang perempuan itu telah menghilang.


__ADS_2