
Sesampainya di istana, Alona Wichilia dan Putra Mahkota Delix telah di sambut oleh Duke Aiken yang duduk di kursi roda, Alexsa dengan senyuman di iringi tangisan dan Baginda Kaisar dengan kedua sudut bibir yang mengembang.
Alona Wichilia tersenyum, hatinya berdesir hangat, inilah yang paling ia rindukan. Dimana ia pulang bertemu dengan ayah dan juga putrinya.
"Ibu."
Alexsa memeluk Alona Wichilia dengan erat. Hatinya sudah tenang melihat sang ibu yang datang dengan selamat. "Ibu tidak apa-apa kan?" Alexsa memastikan sesuatu, dia melihat tubuh ibunya yang utuh tanpa goresan. Meskipun ia tahu, bahwa Raja Iblis dulunya dekat dengan sang ibu, tapi tidak bisa memastikan ibunya akan selamat atau tidak. Karena yang di hadapi adalah Raja Iblis bukan sosok yang biasa.
"Sebaiknya kita masuk dulu."
Keluarga Kekaisaran pun berkumpul di ruang tamu. Mereka bertanya-tanya tentang Alona Wichilia yang menghadapi Raja Iblis.
"Bagaimana kamu cara menghadapinya? apa dia berbuat sesuatu?"
"Tidak ayah, aku hanya bicara padanya."
Merasa tidak yakin dan tidak memuaskan, Baginda Kaisar pun angkat bicara.
"Benarkah, tapi...."
"Dia orang baik, hanya saja... Keadaan lah yang membuatnya seperti ini."
Baginda Kaisar diam, kalau dia baik. Kenapa masih ada Monster Iblis yang menyerang? ia tidak paham dengan pemikiran Alona Wichilia.
"Baiklah, karena sudah berkumpul. Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin Putra Mahkota Delix dan Nona Alexsa secepatnya mengadakan pernikahan."
"Benarkah ayah?" tanya Putra Mahkota Delix dengan senang. Ia tidak sabar untuk bersama Alexsa. Apa lagi hasratnya semakin tumbuh jika berdekatan dengan Alexsa. Selama ini ia bertahan karena takut menjadi laki-laki yang kurang ajar.
"Saya setuju," Duke Aiken dan Alona Wichilia menyambar.
"Apa lagi ayah sekarang sudah sembuh? emm.. Alexsa bagaimana?"
__ADS_1
Alexsa ingin menolak, tentu saja dia butuh waktu, tapi melihat kebahagiaan sang kakek yang baru sembuh dan tidak ingin membuatnya khawatir. Dia pun mengangguk, ia berharap, keputusan pernikahannya dengan Putra Mahkota Delix adalah keputusan terakhir.
"Syukurlah, tiga hari lagi kita akan mengadakan persiapannya," ucap Baginda Kaisar.
Suasana tenang itu pun terus berlanjut, Duke Aiken dan Baginda Kaisar berbincang-bincang tentang masa lalu di iringi canda tawa.
\=\=\=
Cukup lama dia menikmati semilir angin malam, menyapa sang hati. Berdiri di balkon dan menatap ke langit.
"Belum tidur,"
Tanpa dia menoleh pun, ia tahu. Siapa pemilik sang suara yang tak lain calon suaminya. Ia mengusap kedua lengannya menyilang, namun sejurus kemudian tangan kekar memeluk perutnya. Dagunya di sandarkan ke bahunya dan ia merasakan hembusan hangat menerpa lehernya.
"Kenapa belum tidur? hemmm mikirin apa?" Putra Mahkota Delix menoleh, tergiur dengan leher putih itu. Dia mengecup leher di hadapannya cukup lama, sehingga terlihat sebuah kiss mark.
"Ini geli,"
Alexsa mengusap lengan Putra Mahkota Delix. Dia menerima apa adanya laki-laki yang saat ini memeluknya. Sama dengan dirinya, yang tidak memikirkan tentangnya.
Alexsa memutar tubuhnya, meskipun ia mendongak karena tubuhnya cukup kecil sampai sebatas bahu Putra Mahkota Delix saja. "Terima kasih."
"Aku menerima mu menjadi suami ku dan aku akan berusaha mencintai mu."
Putra Mahkota Delix begitu senang, ia mengangkat tubuh Alexsa dan menarik kedua kakinya agar melingkar di perutnya. "Berikan aku ciuman, malam ini aku sangat senang."
Blush
Wajah Alexsa bagaikan kepiting rebus yang siap di santap. Ia termangu dan begitu malu. Mana mungkin dia berani mencium Putra Mahkota Delix.
Entah semenjak kapan, bibir itu menyatu. Alexsa menyambut bibir kenyal itu. Dia mempererat kedua tangannya memeluk leher Putra Mahkota Delix. Ciuman itu semakin dalam, mengecup di bibir merahnya. Ciuman itu semakin panas. Putra Mahkota Delix berputar-putar seiringnya dengan kecapan kedua bibir yang telah menyatu.
__ADS_1
Kedua kaki Alexsa semakin lengket, tubuhnya semakin panas. Buaian Putra Mahkota Delix semakin hangat.
bruk
Keduanya menghentikan ciuman hangat itu dan terkekeh, tanpa sadar Putra Mahkota Delix membentur nakas.
Putra Mahkota Delix melanjutkan langkahnya, dia membaringkan tubuh Alexsa. Wajahnya mendekat, dia memperhatikan wajah Alexsa yang begitu cantik, halus dan putih. Nafasnya memburu, ia kembali meraup bibir yang menggoda itu. Meminta lebih dan lebih. Si nakal itu pun semakin menegang, kedua tangannya dengan sigap membuka kain berwarna putih dan berbentuk rok. Dia meraup kedua bukit kenyal itu.
Alexsa memejamkan matanya, rasa geli hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. Alexsa mendorong tubuh Putra Mahkota Delix. Otaknya sudah gila, ia hanya melihat wajah tampan dan tubuhnya terasa panas.
Alexsa membuka satu per satu kancing itu, menyisakan satu kain di atas dan di bawah.
Tubuh Putra Mahkota Delix semakin panas, dia tidak sabar melahap tubuh di hadapannya. Tanpa berfikir panjang dia melepaskan ikatan di tubuhnya dan mendorong tubuh Alexsa.
Putra Mahkota Delix mencium setiap inci wajah Alexsa, terakhir di bibirnya. Kemudian turun ke bawah dan mengecup lehernya. Memberikan sebuah tanda kepemilikannya.
Tatapan menggoda dan lidah yang begitu lihai menyedot dari aliran susu putih itu. Tubuh Alexsa bergerak tak karuan, Tangan Putra Mahkota Delix memijat kedua kaki Alexsa dan membukanya.
Dia mulai menancap si nakal ke si kembar secara perlahan-lahan. Hingga timbul suara aneh dari bibir Alexsa. Putra Mahkota Delix semakin menggebu, si nakal membuat irama merdu sangat merdu. Hingga kedua mendesah bersahutan.
Aliran panas itu membuat si nakal semakin menggobrak si kembar. Sengatan si nakal bagaikan listrik yang menyengat dan membuat keduanya mengalunkan musik yang menggema.
Butiran peluh keringat membasahi keduanya. Hingga sesuatu terjadi pada si nakal dan menyembur pada si kembar. Putra Mahkota Delix menghentikan permainannya. Alexsa tersenyum, dengan sigap ia membalikkan tubuhnya hingga Putra Mahkota Delix berada di bawahnya. Dia pun mulai permainannya, membuat getaran di tubuh Putra Mahkota Delix.
Hingga si kembar itu menancap sempurna pada si nakal. Namun Alexsa tidak terburu-buru, dengan lidah yang lihai ia memberikan sebuah tanda istimewa di leher Putra Mahkota Delix dan di dada bidangnya. Setelah puas dengan permainannya dan membuat Putra Mahkota Delix menggerang.
Alexsa melajukan si kembar.
"Oh, emmmm Al...."
Kedua tangan Putra Mahkota Delix meremas seprai yang sudah lusuh itu. Tubuhnya tak bisa ia katakan seperti apa, yang ada hanya sebuah keinginan lebih.
__ADS_1
"Cepat Al..."
Alexsa semakin melajukannya, dia membawa kedua tangan Putra Mahkota Delix menyentuh tubuhya. Putra Mahkota Delix semakin mabuk, hingga dia mengeluarkan suara merdu untuk yang kedua kalinya, sama halnya dengan Alexsa.