
Duke Vixtor dan Marquess Ramon berhenti di salah satu rumah Ibu Kota, rumah yang cukup sederhana dan jauh dari keramaian. Duke Vixtor melangkah masuk, Marquess Ramon mengikuti langkah mantan menantunya dan juga patner bisnisnya.
Tok
Tok
Tok
Duke Vixtor mengetuk pintu itu beberapa kali. Wajahnya sangat cemas, ia melihat ke dalam melalui jendela di samping pintu itu. Kedua matanya menangkap suasana di dalam begitu sepi. "Apa Anne ikut Alexsa?"
"Duke apa kamu yakin ini tempatnya? apa Alexsa tinggal di sini?" tanya Marquess Ramon antara yakin dan tidak. Bagi seorang bangsawan, seperti dirinya, mana pantas Alexsa hidup di rumah yang menurutnya kotor dan bau.
"Iya, ini rumah pelayan Anne. Aku sudah pernah bertemu dengan Alexsa di rumah ini, Marquess."
Emm
Hatinya merasa sedih, ia dulu memperlakukan Alexsa dengan tidak baik. Tidak melakukan suatu hal seperti seorang ayah. Baru kali ini ia merasa menjadi seorang ayah yang gagal.
"Tu-tuan..."
__ADS_1
Pelayan Anne membawa satu paper bag di tangannya. Ia baru datang membeli kue cokelat sebagai berjaga-jaga untuk Duchess Alexsa datang kerumahnya. Sebagai camilan sang majikan.
"Anne," Duke Vixtor menghampiri pelayan Anne. "Dimana Alexsa?"
"Nyonya sedang keluar Tuan," jawab Anne dengan jujur. Lagian untuk apa dia berbohong lagi. Akan tambah seru kalau ia membuat api itu terus berkobar.
"Bersama siapa?" tanya Duke Vixtor. Ia yakin Anne tahu siapa laki-laki yang bersama Alexsa.
"Bersama seorang laki-laki, dia menggunakan penutup wajahnya Tuan. Jadi terkesan misterius. Pria itu gagah, tubuhnya berotot, matanya sangat tajam. Namun lembut pada nyonya Alexsa. Pria itu sangat baik pada nyonya."
"Semenjak kapan?" cecar Duke Vixtor. Tangannya ingin membogem pelayan Anne yang membanggakan laki-laki lain di hadapannya.
"Saya tidak tahu Tuan. Nyonya jarang pulang, mungkin menghabiskan dengan pria itu. Aku mendengar pria itu sudah melamar nyonya."
Marquess Ramon menatap pelayan Anne dari bawah. "Apa ini rumah mu?" tanya Marquess Ramon. Perkataan Marquess Ramon bagaikan angin untuk Duke. Dia malah pergi meninggalkan Marquess Ramon. Seperti datang sendiri tanpa seseorang yang menemani perjalanannya.
"Benar Tuan," jawab pelayan Anne. Memangnya ada masalah dengan rumahnya, setahunya rumahnya baik-baik saja, tidak roboh.
"Apa kamu tidak bisa memberikan tempat yang layak dan nyaman untuk Alexsa?"
__ADS_1
Lah, kok ke saya? saya mah hidup biasa saja. Tidak kehujanan dan kepanasan pun bersyukur batinnya
"Maaf Tuan apa maksudnya? kalau maksud tuan kondisi rumah saya. Ya, rumah saya memang begini. Saya hanya seorang pelayan."
"Meskipun rumah saya ini jelek dan kotor, tapi rumah inilah yang membuat Nyonya Alexsa tertawa. Jangan memandang rumah mewah Tuan, kalau rumah itu tidak bisa menjadikan tempat yang bahagia."
Pelayan Anne mengeluarkan perasaan unek-uneknya, ia ingin mengatai Marquess Ramon dan saat inilah waktunya untuk membalas ucapannya.
Marquess Ramon tertohok, ucapan pelayan Anne bagaikan pisau yang tajam membelahnya.
Pelayan Anne tersenyum, ia berhasil membuat pria itu diam dan kali ini ia akan membuat pria itu keluar tanpa menegakkan wajahnya. Lagi pula ia sekarang bukan pelayan Duke Vixtor lagi, ia tidak peduli dengan yang lainnya.
"Dan saya bersyukur, saya di jadikan keluarga oleh Nyonya Alexsa. Dia berbagi apa pun dengan saya, termasuk curhatannya dengan seorang pria yang menaruh hati padanya. Tapi sayang, saya tidak di ijinkan mengetahui nama pria itu." Tutur pelayan Anne dengan raut wajah kekecewaan, kemudian tersenyum. "Saya senang, karena di anggap paling penting sebelum keluarganya."
"Aku akan merenovasi rumah mu, tapi jangan bilang pada Alexsa."
"Maaf Tuan, bukannya saya menolak. Saya sangat bersyukur Tuan peduli, tapi belum tentu rumah saya setelah di renovasi akan membuat nyonya nyaman. Karena kenyamanan rumah itu tergantung siapa orangnya yang memberi. Kalau misalkan sama orang yang di benci, jelas tidak akan membuat kenyamanan," ujar pelayan Anne menganggukkan kepalanya dan melihat ke tanah.
"Tapi aku tidak mau Alexsa tinggal di sini."
__ADS_1
"Apa tuan ingin menjemput Nyonya Alexsa? saya takut semua keluarga Tuan malah membuat Nyonya Alexsa bersedih."
Marquess Ramon teringat istri dan anaknya. Memang keluarganya tidak menerima Alexsa dengan baik, Namun kali ini hatinya benar-benar ingin membawa pulang Alexsa. Dia tidak peduli dengan reaksi seluruh keluarganya. Perubahan Alexsa membuat dirinya merasa bersalah.