
Putra Mahkota Delix dan Alexsa berjalan sambil bergandengan, kedua masuk ke sebuah ruangan di mana ada Duke Vixtor.
Duke Vixtor berdiri, dia melihat tangan Alexsa melilit di lengan Putra Mahkota Delix dan membuat dadanya berdenyut nyeri.
"Silahkan duduk Duke," ucap Putra Mahkota Delix mempersilahkan. Duke Vixtor duduk, berhadapan dengan Alexsa dan Putra Mahkota Delix.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan Alexsa?"
"Iya, apakah saya bisa berbicara berdua dengan Alexsa?"
Putra Mahkota Delix merasa tersinggung, dia tidak suka dengan penggilan Duke Vixtor yang terlihat akrap.
"Maaf Duke, Putra Mahkota Delix adalah calon suami ku, dan mengenai apapun tentang diriku. Putra Mahkota Delix juga harus mengetahuinya."
Ada apa dengan Alexsa? apa dia ingin aku mengetahui bahwa mereka bertunangan dan ingin memanasi ku?
"Tapi bisakah,"
"Sesuai dengan permintaan Al, semua yang berkaitan dengan dirinya harus aku tahu."
Al, jadi panggilan untuk Alexsa adalah Al. Lelucon, keduanya ingin aku cemburu.
Tatapan Putra Mahkota Delix pada ku seakan mengejek ku batin Duke Vixtor dengan geram.
__ADS_1
"Baiklah, jadi apa alasan mu tidak mengatakannya pada ku, Alexsa. Apa selama kamu berada di kediaman Duke menyembunyikan semua ini, maksudnya tentang mu."
"Ya." Tegas Alexsa. "Aku sudah tahu semenjak ada di kediaman mu. Masalah alasannya, aku rasa tidak ada yang perlu di jelaskan." Alexsa tersenyum. Baginya, tentang dirinya, kehidupannya, tidak ada sangkut pautnya dengan Duke Vixtor. Sekali dia keluar, dia tidak akan masuk ke dalam lagi.
"Alexsa..."
Putra Mahkota Delix mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali tangan itu melayang ke wajah Duke Vixtor. Namun, Alexsa menggenggam tangannya seakan menenangkannya. Alexsa menoleh dan tersenyum, seolah mengatakan semuanya baik-baik saja.
"Baiklah, apa ada sesuatu yang Duke ingin katakan?"
krek
Seorang pelayan wanita pun masuk, ketiganya menghentikan pembicaraan itu dan menoleh ke arah sang pelayan yang menghampiri mereka.
"Maaf mengganggu waktunya, Baginda Kaisar sedang menunggu Duke, Putra Mahkota dan Nona Alexsa di aula istana."
Selama di perjalanan, Duke Vixtor menatap tangan yang saling bertautan itu, seakan tidak bisa di lepaskan. Kakinya gatal ingin melangkah dan tangannya ingin secepat kilat memisahkan kedua tangan itu.
Sesampainya di istana, Duke Vixtor masih berada di belakang sepasang insan itu. Dia tidak ingin melangkah ke depan, justru ia ingin berada di tengah-tengah mereka.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian." Baginda Kaisar menatap keempat orang yang memiliki kekuatan itu, sekaligus penguasa yang kuat, yang menyokong kekaisarannya.
"Manusia iblis menyerang di wilayah barat, aku ingin Duke Vixtor, Marquess Ramon dan Putra Mahkota Delix ke sana. Sedangkan Alexsa akan menjaga di istana, aku takut Monster juga muncul di Ibu Kota."
__ADS_1
"Baik Baginda, kami menerima perintah," ucap mereka serempak.
Marquess Ramon merasa lega, setidaknya Alexsa tetap berada di istana dan tidak ikut, seandainya Baginda Kaisar menyuruhnya ikut, dia akan bersikeras agar Baginda Kaisar mengubah keputusan.
Sedangkan Duke Vixtor, ia merasa kesal pada Putra Mahkota Delix. Sampai di tempat itu, ia ingin membuat Putra Mahkota Delix sadar. Bahwa orang yang mendekati Alexsa bukanlah sembarangan orang.
"Alexsa, bagaimana keadaan ibu mu?" tanya Baginda Kaisar.
Perkataan Kaisar pun menarik perhatian Marquess Ramon yang hendak pergi.
"Ibu belum ada kabar setelah kejadian itu, aku ingin kesana, tapi ibu tidak mengijinkan dan menyuruh saya untuk tetap di istana."
"Begitu ya,, aku juga khawatir pada ibu mu. Aku menyuruh Duke Aiken untuk di bawa ke istana dan di obati langsung oleh mu."
"Baginda, bagaimana kalau saya menemani Alexsa untuk menemui Alona Wichilia," ujar Marquess Ramon. Ia merasa mendapatkan ide untuk bertemu dengan istri keduanya.
"Benar Alexsa, bagaimana kalau Marquess Ramon dan yang lainnya menjemput Duke Aiken dan Alona Wichilia setidaknya mereka aman sampai di istana."
Alexsa mempertimbangkan perkataan Baginda Kaisar, kalau dia setuju. Ia yakin, Marquess Ramon akan mengambil kesempatan, tapi kalau ia menolak ia khawatir pada sang ibu dan ketua penyihir. Ia takut tiba-tiba ada monster yang menyerang mereka.
"Baiklah Baginda, aku akan menjemput ibu dan mereka juga ikut."
Marquess Ramon ingin bersorak senang, namun ia takut kehilangan kewibawaannya.
__ADS_1
"Iya, aku memutuskan. Setelah menjemput Nyonya Alona Wichilia dan Duke Aiken, kalian harus berangkat."
"Baik Baginda."