Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Cih!


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan? dia nona Rose bukan Alexsa."


Marquess Ramon diam, ia menikmati punggung wanita di hadapannya yang sama persis dengan tubuh Alexsa jika di lihat dari belakang. Tapi satu kenyataan yang tak bisa ia pungkiri, jelas wanita di depannya bukanlah Alexsa putrinya.


"Benar, Ayah. Mana mungkin Alexsa memiliki kekuatan seperti ini?"


Putra Mahkota Delix menggenggam erat tangan Duchess Alexsa, memberikan kekuatan di hatinya. Ketiga laki-laki itulah yang menyakiti Duchess Alexsa dan mengarang sebuah penderitaan untuknya.


"Sebaiknya kita membantu Putra Mahkota." Albern membantu tubuh Putra Mahkota Delix berdiri di bantu oleh Duchess Alexsa. Marquess Ramon mengambil alih tangan Putra Mahkota Delix untuk di papah olehnya.


Duchess Alexsa mengikuti langkah mereka, salah satu tangannya merasa di genggam seseorang. Ia memutar tubuhnya. "Duke,"


"Siapa kamu sebenarnya?" Duke Vixtor merasa janggal. Tubuh nona Rose yang ia kenal sangatlah mirip dengan tubuh Duchess Alexsa.


"Apa maksud Duke?" tanya Duchess Alexsa pura-pura bingung. Ia ingin mengelabui Duke Vixtor dan buat apa identitasnya terbongkar? perubahannya juga tidak akan mengubah apa pun.


"Katakan saja, siapa kamu sebenarnya?"


"Apa kepala Duke terbentur ketika menyerang monster itu? Duke jelas tahu, kalau aku keturunan Duke Aiken."


"Nama mu sangat aneh,"

__ADS_1


Duchess Alexsa menarik lengannya. Kemudian mempercepat langkahnya menyusul yang lainnya.


Duke Vixtor menatap telapak tangannya, saat kulitnya bersentuhan dengan kulit nona Rose, ia merasakan kulitnya sama persis dengan Alexsa. "Siapa nona Rose sebenarnya? hati ku meragukan nona Rose."


Tak jauh dari pohon itu, terlihat seorang wanita dan memakai cadar. Ia bersama ketua penyihir diam-diam melihat putrinya. "Laki-laki itu, bukan? yang telah membuat putri ku menangis."


"Benar, Nyonya."


"Aku akan bertemu dengannya kembali. Ayo kita pergi sebelum ada seseorang yang menyadari kehadiran kita."


"Apa Nyonya akan memasuki istana?"


Alona Wichilia dan Ketua penyihir mengikuti beberapa orang di hadapannya dari jarak jauh.


Duchess Alexsa merasakan kehadiran seseorang. Ia menoleh ke belakang, namun tidak melihat siapa pun. "Aneh. aku merasa ada yang mengikuti, tapi dimana orangnya?"


"Nona Rose cepatlah naik!" ujar Duke Vixtor. Sedangkan Putra Mahkota Delix dan Marquess Ramon menunggangi kuda yang sama. Marquess Ramon berjaga-jaga, takut Putra Mahkota Delix tidak bisa memopang tubuhnya selama di perjalan dan berakhir jatuh.


"Aku bisa pulang sendiri,"


Duke Vixtor geram, ia memegangi pinggang Duchess Alexsa dan menaikkan tubuhnya ke atas punggung kuda. Kemudian di susul Duke Vixtor. Putra Mahkota Delix merasakan cemburu yang membara, kalau saja ia tidak terluka dan memiliki tenaga. Sudah di pastikan ia akan merebut Alexsa dari Duke Vixtor.

__ADS_1


Deg


Deg


Deg


Duke Vixtor merasakan dentuman yang langka di jantungnya. Dadanya tidak pernah bergetar seperti ini, jika di ingat Alexsa juga pernah membuat dadanya berdetak tak karuan seperti kehilangan fungsi.


Dan aroma tubuh nona Rose mengingatkannya pada aroma tubuh Alexsa. Terpaan angin malam itu membuat aroma tubuhnya semakin memasuki hidungnya. Kedua matanya melirik nona Rose yang diam dan fokus ke depan sedangkan tangannya menarik tali kekang kudanya.


"Nona Rose mengingatkan ku pada seseorang,"


Duchess Alexsa tak menjawab, ia yakin dirinyalah yang menjadi topik hangat perkataan Duke Vixtor.


"Tubuh, aroma wangi tubuh Nona Rose mengingatkan ku pada wanita itu."


"Apa Duke sangat menyakitinya atau sangat mencintainya sehingga aroma tubuhnya dan tubuh yang mirip setiap orang di kira wanita itu?"


"Aku menyakitinya, tapi aku berharap. Kita di pertemukan kembali."


"Cih!"

__ADS_1


__ADS_2