
"Nona Rose, sampai kapan nona akan menyembunyikannya?" tanya Endrik. Meskipun ia tidak bisa mendekat dan mendengarkannya, tapi ia cukup yakin. Obrolan itu mengarah pada kekuatan api merah sang majikan.
Duchess Alexsa terkekeh, "Tunggu, maksud mu aku harus memberitahunya, begitu. Mereka tidak butuh aku, jadi buat apa? bukankah, lebih baik seperti ini. Mereka tidak tahu siapa aku."
Menurutnya, sudah cukup mereka mengetahui Duchess Alexsa telah pergi.
"Lalu, sampai kapan Nona menyembunyikannya pada Baginda Kaisar?" Timpal Ellard.
Duchess Alexsa menghela nafas, benar juga yang di katakan oleh Ellard. Kalau Baginda Kaisar tahu ia berbohong, sama saja ia mencari mati. "Aku akan mengatakannya, tapi tunggu waktu yang tepat."
Di tempat lain.
Marquess Ramon dan Albern duduk dalam diam. Keduanya tidak ada yang berbicara atau pun ingin memulia percakapan itu.
"Marquess, Albern," seru seorang wanita yang berjalan ke arah mereka. Sejak tadi ia menunggu suami dan anaknya yang datang dari istana. Ingin tahu, cerita tentang nona Rose yang begitu menggempar di Ibu Kota.
"Bagaimana? apa nona Rose sudah bertemu dengan kalian?"
Albern memilih merapatkan kedua bibirnya, ia mendorong kursi di belakangnya, beranjak dan memilih berdiri di dekat kaca jendela di sampingnya.
Wanita yang tak lain istri Marquess Ramon itu kebingungan, tidak biasanya ia melihat Albern memilih diam dan menghindarinya. "Ada apa?"
"Mungkin Ibu akan terkejut, kalau ibu mengetahuinya." Albern memutar tubuhnya, menghadap wanita yang telah melahirkannya. Ibunya sudah pasti akan terkejut mendengar ceritanya. "Nona Rose buka orang biasa, Bu. Dia memiliki kekutan yang sama seperti kita,"
Wanita itu tersenyum, ia mendengarkan banyak rumor bahwa nona Rose memanglah hebat. "Aku sudah tahu, dia memang hebat. Alangkah baiknya kalau kamu bisa menjadikannya istri. Dengan begitu, keluarga kita akan sangat di segeni. Lebih baik kamu mendekati nona Rose. Jadikan dia menantu ibu dan istri mu,"
__ADS_1
"Mustahil," timpal Marquess Ramon. Apa yang di katakan istrinya tidak akan pernah terjadi. Nona Rose bukanlah wanita yang gila kekuasaan atau kekuatan. Karena dirinya memiliki semuanya. Bahkan ia sangat yakin, Putra Mahkota Delix pun telah mengaguminya.
"Tuan Marquess, apa kamu meragukan ketampanan Putra kita. Semua wanita mendekatinya, karena putra kita tampan sekaligus keturunan Marquess. Dia sosok yang kuat, bahkan sudah pernah ikut dengan mu di medan perang."
"Tenang saja, Albern. Aku akan mendukung mu mendapatkan nona Rose. Kalau bisa, Ibu yang akan berbicara dengan Nona Rose."
"Bukan itu masalahnya, Bu. Nona Rose memiliki kekuatan api merah. Sama halnya dengan kita."
Hah
Wanita itu menganga, namun beberapa menit kemudian, keterkejutannya menghilang dan di gantikan dengan senyuman. "Tidak masalah, itu lebih baik. Nona Rose memiliki kekuatan kita. Walaupun memiliki hubungan dengan keluarga kita, tidak masalah. Asalkan bukan anak ayah mu dari orang lain, kecuali wanita itu dan putrinya. Untunglah, wanita itu pergi sekaligus putrinya."
"Tapi nona Rose,"
Sedangkan di kediaman Duke.
Duke Vixtor tersenyum menatap bayi mungilnya, Kania. Anak keduanya, dalam hatinya ia menyesal karena belum pernah melihat anak pertamanya. Meskipun ia tidak menginginkan ibunya. Namun, anak itu tetap darah dagingnya.
"O iya, bagaimana pertemuan mu dengan nona Rose."
Ellena muncul dari arah pintu dengan seorang pelayan membawa sebuah nampan berisi teh. Pelayan itu menaruh di meja yang tak jauh dari mereka.
"Tidak ada, kenapa?" tanya Duke Vixtor. Kesannya tidak ada yang baik, justru dia terlibat dalam perkelahian.
"Duke apa kamu ada masalah?" Ellena memperhatikan wajah suaminya yang terlihat murung. Aneh, suaminya sering meminum obat tidur dengan alasan memikirkan pekerjaan.
__ADS_1
"Ellena, bagaimana kalau seandainya aku memiliki anak dengan orang lain?"
Sontak pertanyaan itu membuat dada Ellena memanas. "Apa maksud mu? apa kamu mengkhianati ku?"
"Aku hanya bertanya, apa susahnya menjawab."
"Aku tidak akan menerimanya," Ellena begitu tegas menolak kalau seandainya memang benar.
"Seandainya anak itu meninggal, bagaimana?" tanya Duke Vixtor
"Baguslah, Duke tidak perlu bertanggung jawab dan hidup dengan tenang. Dengan begitu, tidak akan ada yang mengusik pernikahan kita."
Duke Vixtor tersenyum miris, seandainya anak pertamanya hidup, bagaimana perlakuan Ellena padanya. "Apa kamu tidak bisa menerimanya? kalau benar aku memiliki anak lain,"
"Apa maksud mu Duke?"
"Aku memiliki anak dengan wanita lain, tapi anak itu telah meninggal dan aku memiliki kesalahan karena tidak bisa melindunginya."
Ellena mengepalkan tangannya. "Apa ana dari Duchess Alexsa? tapi tidak mungkin, Duchess tidak hamil anak mu. Katakan, wanita mana lagi, Duke. Kamu tidak setia pada ku, padahal akulah yang menemani mu, mencintai mu!" Teriak Ellena.
"Kejadian itu sudah lama dan baru-baru ini aku mengingat dan bermimpi kejadian itu, tapi anak itu sudah meninggal dan wanita yang telah aku nodai, Duchess Alexsa."
Duke Vixtor menceritakan semua tidak ada yang kurang atau ia lebihkan, kejadian dimana ia harus terlibat dengan Duchess Alexsa.
"Aku memaafkan mu, biarkan saja. Asalkan Duke jangan mengulanginya lagi. Lagi pula sudah ada Kania dan anak mu sudah mati sekaligus, Duke bukan suami dari Alexsa." Ellena mengambil Kania, ia berjalan meninggalkan Duke Vixtor yang masih terlihat murung.
__ADS_1