
#Maaf ya kak, author crazy up, biar cepat selesai dan pindah ke novel lainnya, author ada rencana entah mau buat di NT atau di WP
"Ayah, ayah datang darimana saja?" tanya Albern. Kedua matanya menangkap sosok pria gagah yang berjalan lunglai itu. Seakan pria itu tidak memiliki semangat hidup. Entah dari mana datangnya wajah lesunya itu.
Marquess Ramon duduk di sofa, mengendurkan dasinya yang seakan mencekiknya. Nafasnya naik turun tak beraturan. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan menghadap ke langit.
"Ayah," sapa Albern dengan lembut.
"Pelayan!" teriak Albern.
Salah satu pelayan penjaga ruang utama maju. "Saya Tuan,"
"Siapkan teh untuk ayah."
"Baik Tuan."
Albern beralih pada sang ayah. "Apa Ayah ada masalah?" tanya Albern dengan hati-hati. Di lihat dari sikapnya, ayahnya begitu enggan melihatnya dan mengobrol dengannya.
"Ayah bisa mengatakannya pada Albern, mungkin Albern bisa membantu ayah menyelesaikan masalah ayah." Albern berusaha membujuk, pikiran seseorang akan menjadi tenang ketika dia curhat pada seorang teman. "Aku putra mu, Ayah. Aku tidak ingin melihat Ayah seperti ini."
"Apa masalah Alexsa?" Tebak Albern.
Sontak Marquess Ramon menatapnya. "Albern, saat ini aku tidak ingin berbicara apa pun. Aku lelah dan ingin beristirahat." Marquess Ramon beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya terasa berat menaiki anak tangga. Setiap kakinya melangkah, ia selalu memikirkan kejadian tadi membuat hidupnya terombang ambing. "Apa Alice datang karena sudah mengetahui Alexsa dan dia ingin membawanya pergi atau dia datang untuk kembali?"
__ADS_1
Bokongnya mendarat sempurna di kursi dekat meja kerjanya itu. Satu tangannya bertumpu di bawah dagunya, mengelus dagu yang halus dan bersih itu. Di usianya yang terbilang tak lagi muda, tubuhnya masih begitu mempesona hingga banyak jejeran wanita muda yang juga ingin menjadi istrinya yang entah keberapa.
"Jadi selama ini Putra Mahkota Delix dan Baginda Kaisar sudah tahu identitas nona Rose. Pantas saja, wanita itu selalu mengeluarkan perkataan yang menusuk, ternyata dia adalah putrinya."
"Oh, Tuhan..."
"Aku mengecewakannya,"
Marquess Ramon memejamkan matanya, pikirannya lelah, begitu pun kedua matanya yang perlahan terpenjam.
krek
Langkah kaki yang tak terdengar itu perlahan mendekat, ia melihat kedua mata sang ayah telah terpenjam. Tidak biasanya ayahnya tidur dalam posisi duduk. Dia mencodongkan tubuhnya, terlihat beberapa guratan di dahinya. "Apa ayah mimpi buruk?"
Albern menegakkan tubuhnya kembali dan berlalu pergi. Karena tidak ingin mengganggu sang ayah yang terlihat sangat lelah. Ia menyuruh pada seorang penjaga untuk mengeluarkan kudanya bermaksud mencari udara malam.
"Aku penasaran, sebenarnya apa yang terjadi?"
Tolong
Tolong
Tolong
__ADS_1
Teriakan seseorang meminta tolong membaut Albern menghentikan kudanya dan memutar kuda itu ke arah ujung gang, melajukan kudanya dengan sangat kencang hingga menemukan seorang wanita yang akan di serang oleh dua manusia iblis.
Albern pun turun dari kudanya, mengeluarkan pedangnya. Kemana pun ia pergi, ia selalu membawa pedang miliknya.
"Hentikan!" teriak Albern dengan nada marah. Sudah banyak korban dari monster iblis dan kekejamannya dalam membunuh manusia. "Hadapi aku, akulah lawan kalian. Bukan wanita itu," tunjuk Albern menggunakan pedangnya pada seorang wanita yang ketakutan.
Kedua manusia Iblis itu saling menatap, keduanya beralih pada Albern.
Albern mengayunkan pedangnya dan berlari menyerang keduanya.
Satu jam telah berlalu, Albern berhasil melumpuhkan satu manusia iblis. Dia terus mengayunkan pedangnya tanpa lelah. Namun tanpa ia sadari sebuah tanaman melilit di pinggang manusia iblis itu dan membuang tubuhnya ke pagar hingga pagar kokoh itu hancur.
Albern mengalihkan pandangannya, ia melihat seseorang mampu mengeluarkan tanaman dari dalam tanah. "Nona Rose."
Wanita itu tak menjawab, satu laki-laki di belakangnya memilih menunduk.
Tidak ada jawaban, Albern kembali fokus. Ia menusuk manusia iblis itu tepat di jantungnya.
"Akhirnya aku berhasil." Albern menoleh ke belakang, namun sosok yang ia cari telah menghilang. "Kemana mereka pergi?"
___
"Nyonya, kenapa Nyonya malah menolongnya?" tanya Ketua penyihir. Bagi keluarga Marquess Ramon tidak ada yang patut untuk di tolong. Lagi pula, keturunan Marquess Ramon bisa menghadapi manusia iblis.
__ADS_1
"Aku masih memiliki hati nurani, dia di serang manusia iblis dan aku tidak bisa tinggal diam," ujarnya. Dari awal ia bingung antara menolong atau membiarkannya, jadi ia hanya mengikuti hatinya bergerak kemana.