
Ellena melemparkan botol yang sudah tandas itu ke lantai. Dia kesal setengah mati karena penolakan Duke Vixtor. Dengan terang-terangnya Duke Vixtor menolaknya dan malah pergi meninggalkannya. Jika dulu, dia berhasrat rasanya sekarang tidak berhasrat melihatnya.
"Apa aku kurang menarik? sebaiknya aku harua menjaga tubuh ku dan kecantikan ku." ucapnya. Dia bertekad akan merawat tubuhnya agar Duke Vixtor tidak berpaling darinya.
Di tempat lain.
"Bu,"
Marchioness Mery menghela nafas, putrinya kembali mengamuk dan melemparkan barang-barang miliknya. Entah berapa kali para pelayan keluar masuk memperbaiki kamarnya.
"Apa kamu berniat untuk membakar kamar mu? baiklah, aku akan membantu mu untuk membakar ruangan ini. Agar kamu puas,"
Ayne tak menanggapi, membayangkan Alexsa bergelanyut manja dan Putra Mahkota Delix menciumnya serta melakukan hubungan suami istri, otaknya semakin gila.
Argh
"Aku membencinya bu,"
Laki-laki tampan bukan hanya Putra Mahkota Delix. Meskipun kekuasaan yang paling tinggi di miliki oleh seorang Kaisar. Apa lagi sekarang sudah ada orang di sampingnya. Sepertinya Baginda Kaisar tidak akan sungkan pada Keluarga bangsawan seperti dirinya.
__ADS_1
"Kamu membencinya, sama aku pun membencinya. Tidak mudah bagi kita untuk mendekatinya." Jelas Marchioness Mery. Lama-lama dia jengah dengan sikap putrinya yang seenaknya melemparkan barang. Padahal barang itu sangat mahal dan harus membeli di negeri sebrang.
"Sudahlah, ibu juga malas berdebat dengan mu. Setidaknya kamu harus berfikir sebelum memecahkan benda itu."
Marchioness Mery keluar dari ruangan itu, dia pergi ke ruang kerja sang suami. Melihat sang suami yang duduk termenung, ia berfikir suaminya masih memikirkan Alona Wichilia.
"Jangan memikirkan wanita itu lagi, Marquess."
Marquess Ramon mendongak, "Tidak, hanya masalah pekerjaan saja."
"Jangan mengelak, aku tahu kamu sedang memikirkan wanita itu."
Marchioness Mery membuang wajahnya ke tempat lain. "Baiklah, kamu tidak memikirkannya, tapi membayangkannya."
"Lebih baik kamu pergi kalau hanya membuat masalah."
Marchioness Mery pun keluar dengan wajah sungut, selalu saja ada pertengkaran di antara mereka. Tepat di luar pintu, dia melihat Albern.
"Albern!"
__ADS_1
Marchioness Mery memeluk putranya, dia menangis dalam dekapan sang putra. "Kenapa ayah mu mulai berubah? apa dia tidak mencintai ibu? apa ibu tidak cantik lagi?"
Albern merasa iba, dia menghapus air mata sang ibu. "Bukan, hanya saja.. Ayah sedang sibuk."
"Jangan membela ayah mu, aku tahu itu." Marchioness Mery pun mendorong tubuh Albern, lalu berlari ke kamarnya.
"Sepertinya aku harus berbicara dengan ayah," ucap Albern. Dia memasuki ruangan kerja Marquess Ramon.
"Ayah..."
"Bisakah Ayah bersikap baik pada Ibu," ujar Albern. Niatnya sudah berubah. Awalnya ia hanya berniat membahas masalah pekerjaan dan sekarang harus membahas masalah ibunya.
"Maksud mu, aku tidak baik."
"Apa kamu melihat aku bersikap kasar? menolak ibu mu. Albern, kamu tentu tahu. Aku butuh ketenangan, bukannya ibu mu menenangkan malah membuat otak ku semakin berat. Dia selalu saja mengajak ku bertengkar, membahas masalah Alona, padahal dia jelas tahu. Aku sudah bercerai, aku bercerai juga demi ibu mu dan keluarga ini. Lalu, apa kurangnya aku Albern? seharusnya, ibu mu membantu pikiran ku tenang, tapi tidak, setiap dia muncul selalu mengajak ribut."
Marquess Ramon berdiri, dia melewati Albern begitu saja.
Albern termangu, tidak bisa menjabarkan apa yang terjadi, seperti kekacauan yang tidak tahu kapan selesainya. "Apa ini hukuman untuk keluarga ku karena sudah bersikap tidak baik pada Alexsa dan Nyonya Alona Wichilia?"
__ADS_1