Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Aku Juga Tidak Mau


__ADS_3

Duke Vixtor dan Marquess Ramon tampak mengeluarkan idenya pada sang Kaisar. Keduanya saling berpendapat, saling menyanggah dan menambah pendapatnya.


"Saya mengerahkan pasukan ku ke kota Utara, hutan di sana sangat lebat. Bisa jadi hutan itu sarang Monster," ujar Marquess Ramon.


"Saya akan ke Kota Selatan, di sana ada gunung es yang perlu saya selidiki juga," ujar Duke Vixtor.


"Baiklah, aku percayakan pada kalian."


Duke Vixtor dan Marquess Ramon keluar dari ruang pertemuan itu. Keduanya menuju kediaman Duke. Karena Marquess Ramon harus menjemput putrinya.


\=\=\=


Di temani dengan bulan purnama, sapaan semilir angin ke kulit putihnya dan secangkir teh hangat.


Srup


Duchess Alexsa merasakan sebuah kedamaian dimana dia tidak di ganggu oleh siapa pun termasuk kedua wanita yang menurutnya sangat licik. "Nyonya seandainya kita memiliki kedamaian seperti ini, kan lebih enak."


Duchess Alexsa menyeruput kembali teh hangat itu. "Aku bermimpi seperti itu, tapi aku ingin mimpi itu menjadi nyata."


"Tidak akan menjadi nyata, kenyataan anak pembawa sial akan tetap sial."


Duchess Alexsa tersenyum sebelum menyeruput kembali tehnya. "Jadi jangan berdekatan dengan ku, bisa saja kamu akan kenak sial dan perkataan ku tidak pernah salah."


Duchess Alexsa melihat Ayne yang ke arahnya. Wanita itu angkuh seperti ibunya dan kakaknya.


"Wanita murahan memang akan menurun pada anaknya."

__ADS_1


"Huh, bertingkah seperti nyonya, padahal nantinya kamu akan di tendang."


Duchess Alexsa tetap bersikap santai, ia tidak menyangkal bahwa perkataan Ayne membuat otaknya mendidih. Bahkan ia ingin sekali menguliti Ayne.


"Kamu iri,"


"Tidak!" tegas Ayne. Dia akan mendapatkan Putra Mahkota, jadi percuma dia iri. "Aku akan mendapatkan yang lebih pantas dari Duke."


"Aku akan menikah dengan Putra Mahkota."


"Percaya diri sekali, bagaimana kalau nanti Putra Mahkota memiliki Selir. Bukankah nasib kita sama dan saat itu, anda tertular kesialan ku."


Emosi Ayne terpancing, apa yang ia inginkan harus tercapai dan siapa pun yang menggagalkannya akan menerima hukumannya. Lagi pula dia memiliki seorang ayah. "Ayah tidak akan tinggal diam, apa lagi aku putri kesayangannya."


Duchess Alexsa tertawa, dia menaruh secangkir teh hangat itu. "Aku jadi ragu, kamu benar anak Marquess atau bukan. Karena kamu tidak bisa mengeluarkan api itu."


Akh


Ayne memegangi pergelangan kakinya yang terasa berdenyut, dia melihat kaki putih itu. Namun, tidak melihat apa-apa.


"Kesialan ku sudah menular."


"Dasar anak ******." Teh di hadapannya langsung menerpa gaun indah itu. Duchess Alexsa pun bangkit. "Katakan sekali lagi! akan aku pastikan teh ini tersiram ke wajah mu."


Tubuh Ayne merinding, suara dari Duchess Alexsa membuatnya takut.


"Ka-kamu anak Ja..."

__ADS_1


"Alexsa!" Tangan Duchess Alexsa tertahan. Teh panas itu tetap di tempatnya.


"Apa yang kamu lakukan pada putri ku?"


Deg


Nyeri sakit, saat seorang ayah memperlakukan putrinya sangat berbeda. Kasih sayang yang berbeda.


"Ayah, kakak menumpahkan teh di wajah ku. Padahal aku hanya memberikan nasehat."


"Dasar anak tidak tahu diri!" Marquess Ramon siap melayangkan tangannya. Dengan sigap, Duchess Alexsa menahannya. Meskipun dia tidak melihat. Namun, di balik kain merah itu. Dia bisa melihat situasinya dengan jelas.


"Jangan menyentuh tubuh ku. Tangan anda sangat kotor."


"Aku memang sial memiliki anak seperti mu."


Duchess Alexsa menghempaskan tangan Marquess Ramon dengan kasar. "Dan anak pembawa sial ini, tidak ingin menjadi anak mu."


"Anda lupa, meskipun aku istri yang tidak di anggap, tapi aku seorang Duchess. Apa anda ingin mengungkit sopan santun, tata krama seorang bangsawan."


"Saya juga tidak ingin menjadi Bagian dari Keluarga Marquess dan Keluarga Duke. Saya juga tidak mau menjadi anak anda."


Duchess Alexsa melenggang pergi. Dia ingin menumpahkan emosinya, kalau saja dia ingin menyelidiki siapa ayah dari Duchess Alexsa dan alasan semua kekuatannya, sudah pasti dia mencekik Ayne dan Marquess Ramon.


Marquess Ramon mematung, meskipun kedua mata Duchess Alexsa di tutupi oleh kain. Tapi ia yakin, mata itu menyalakan sebuah api, mendengarkan nada suara Duchess Alexsa yang begitu dingin.


Marquess Ramon memandang jauh tubuh Duchess Alexsa yang perlahan menghilang.

__ADS_1


__ADS_2