Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Bab 62


__ADS_3

Keesokan harinya.


Marquess Ramon, Duke Vixtor dan Duchess Alexsa ikut serta dalam rapat istana. Baginda Kaisar menjelaskan, bahwa tiap malam akan ada kesatria yang bergantian ikut patroli di temani oleh salah satu dari mereka. Para bangsawan pun menyetujuinya, malah ikut menyertakan beberapa kesatria andalan mereka di kediamannya. Setelah banyak pembahasan, rapat istana pun telah selesai.


"Baginda, saya undur diri."


Sejak tadi kedua mata Marquess Ramon mencuri pandang dari sang putri yang duduk berjejer di antara para bangsawan.


Duchess Alexsa melirik sang ayah, keduanya beradu pandangan. Marquess Ramon ingin angkat bicara. Namun Duchess Alexsa langsung pergi. Kini tinggallah harapannya. "Baginda saya juga undur diri." Marquess Ramon mengejar langkah kaki yang telah menjauhinya.


"Duke, ada apa dengan mu? sepertinya kamu memiliki banyak masalah?" tanya Baginda Kaisar. Saat rapat tadi, ia melihat Duke Vixtor sering melamun. Bukankah kehidupan pernikahannya sudah bahagia? tapi wajah salah satu pendukung Kekaisaran terlihat banyak pikiran.


"Tidak Baginda, saya baik-baik saja."


Laki-laki yang berhadapan dengan Duke Vixtor justru tertawa dalam hati, senyuman tipisnya menandakan sebuah ejekan. "Duke, kamu mencari Alexsa pun ke ujung dunia tidak akan menemukannya. Tapi, Marquess Ramon tidak bilang kan kalau nona Rose adalah Alexsa. Awas saja kalau bilang, Duke pasti akan mencuri kesempatan untuk bersama Alexsa."


"Aku masih hidup, selama nyawa masih melekat di tubuh ku. Aku pastikan Alexsa tidak akan bisa bersama Duke Vixtor."


*

__ADS_1


*


*


"Alexsa tunggu,"


"Ada apa lagi Tuan Marquess? kita bicara di tempat lain," ujar Alexsa. Ia tidak ingin membuat orang curiga dengan identitasnya.


"Alexsa, apa kamu tidak bisa pulang?"


Telinga Duchess Alexsa hampir pecah, ia bosan mendapatkan pertanyaan itu. Harus berapa kali ia mengatakan, bahwa ia tidak berniat untuk kembali dalam rumah itu. "Hanya ini, hanya ini yang Tuan Marquess katakan." Duchess Alexsa berdiri. "Saya pamit, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya urus."


"Ini masalah bukan karena ejekan, aku sudah terbiasa Marquess Ramon. Namun masalahnya aku tidak mau kembali."


"Alexsa, ayah minta maaf."


Merasa sudah lelah menjelaskan, Duchess Alexsa memilih pergi dengan melangkah cepat. Ia bosan mendengarkan bujukan dan pertanyaan itu.


"Ayah."

__ADS_1


"Syukurlah, aku menemukan ayah."


"O iya, tadi malam aku keluar dan sempat menolong wanita yang ingin di serang oleh manusia iblis, tapi ada seseorang yang menolong ku ayah. Dia mengeluarkan tanaman rambat itu."


Marquess Ramon merubah wajahnya dengan serius. "Kamu yakin." Hatinya mengatakan yang menolong putranya mengarah pada istri keduanya, Alice.


"Iya ayah, jadi aku kesini bermaksud untuk berterima kasih pada nona Rose," ujar Albern. Meskipun awalnya ia pernah bersiteru dengan nona Rose. Namun rasa terima kasih di hatinya tak akan ia hilangkan sekalipun itu musuhnya.


"Nona Rose sibuk, biar nanti saja."


"Kita pulang," imbuhnya lagi.


Selang beberapa saat kedua laki-laki itu telah sampai di kediamannya. Marquess Ramon berlalu ke ruang meja kerjanya di ikuti Albern dan seorang kesatria.


"Sebenarnya ayah memikirkan apa?" tanya Albern.


Marquess Ramon berfikir sejenak, antara mengatakan atau tidak ia bingung. Bagaimana kalau Albern tetap memusuhi Alexsa dan mencari gara-gara dengannya?


"Albern, yang menolong mu. Bukanlah nona Rose, tapi orang lain."

__ADS_1


__ADS_2