
"Anak itu sudah lama menderita. Apa dia akan memaafkan aku? ibu yang meninggalkannya." Alona Wichilia berfikir ribuan kali, tidak mudah memaafkan seseorang yang telah meninggalkannya.
"Nyonya, saya yakin Nona Alexsa..."
"Ya aku tahu, aku ingin melihatnya. Namun aku khawatir, kehadiran ku membahayakannya."
"Saya yakin tidak Nyonya, tapi saya takut justru nona Alexsa lah yang akan menjadi incaran Raja Iblis."
Alona Wichilia merenung, ia tidak berfikir ke arah sana. Benar, kekuatan Alexsa sudah di ketahui banyak orang. Lalu bagaimana kalau sasaran Raja Iblis berpindah pada putrinya.
"Tidak, aku harus melindungi putri ku. Demi dirinya aku rela mengorbankan semuanya." Wajah Alona Wichilia nampak panik. "Antarkan aku ke putri ku, aku harus melihatnya."
Di tempat lain.
Baru beberapa menit yang lalu mereka merasakan kenyamanan dan ketenangan. Namun saat ini, entah dari mana datangnya. Keduanya harus bertarung dengan ketiga iblis dan dua monster iblis.
"Apa anda keturunan Duke Aiken?" tanya seorang iblis berwujud laki-laki, kedua matanya menghitam dan pakaiannya compang camping.
__ADS_1
"Apa urusannya dengan kalian?" tanya Duchess Alexsa.
"Ikut dengan kami?" Laki-laki yang berada di tengah itu menyanggah perkataan Duchess Alexsa.
"Kalau aku tidak mau."
Ketiga laki-laki itu saling menatap satu sama lain. Salah satu dari mereka memberikan kode pada dua hewan. Kedua hewan itu berbentuk naga. Namun memiliki dua kepala dan bola matanya hitam serta berwarna ungu.
Kedua monster Iblis mengepakkan sayapnya. Meraung hingga tanah itu bergetar dan pepohonan itu seperti terhunus oleh angin kencang.
"Hati-hati Putra Mahkota."
Prak
Salah satu dahan tanaman pembunuh itu mengenai salah satu leher sang monster. Sedangkan dahan yang lainnya menarik kakinya. Hingga Monster itu terjatuh ke tanah.
Kedua Monster dan Ketiga pohon itu terus saling menyerang. Sedangkan Duchess Alexsa membantu Putra Mahkota Delix.
__ADS_1
Cras
Pedang gabungan tumbuhan dan berduri itu berhasil melukai salah satu manusia iblis itu yang hendak menyerang Putra Mahkota Delix.
"Putra Mahkota, kamu baik-baik saja?" tanya Duchess Alexsa. Ia menatap tubuh Putra Mahkota Delix, tubuhnya tetap kokoh meskipun ada satu goresan di lengannya dan satu goresan di pipinya.
"Aku baik-baik saja, kamu harus hati-hati Alexsa."
Duchess Alexsa melawan salah satu monster. Sedangkan Putra Mahkota melwan dua monster. Sesekali Duchess Alexsa melihat ke atas, memastikan ketiga pohon itu. Bahkan beberapa dahannya terbakar karena semburan api ungu sang monster.
"Sialan!"
Duchess Alexsa menyerang membabi buta, kemudian mengeluarkan api merahnya dan langsung saja ketiga tanaman itu serta pedang itu mengeluarkan api.
Duchess Alexsa kembali menyerah monster yang masih berdiri dan tidak menyerah itu. "Jangan panggil aku Alexsa kalau aku tidak bisa membunuh kalian."
Tangan kanannya dengan lihai menyerang sang monster, dentingan pedang saling menyerang dan mempertahankan itu menghiasi suasana bukit itu.
__ADS_1
Duchess Alexsa berhasil membuat tubuh monster itu mengalami banyak luka sayatan yang penuh bakar dan monster itu berhasil meninggal. Sedangkan Putra Mahkota, dia juga berhasil melukai keduanya dan satu manusia iblis itu terluka parah. Namun masih bisa berdiri, fokus Putra Mahkota Delix terbagi. Ia melihat ke arah Duchess Alexsa yang tampak lelah dan menghapus jejak darah merah kehitaman di pipi kanannya.
"Syukurlah, dia baik-baik saja." lirihnya dengan nafas naik turun.