Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Penolakan


__ADS_3

Sepanjang hari Marquess Ramon berdiri di atas balkom, tidak ada rasa lelah, letih dan pegal karena setelah pulang dari istana sama malam tiba, dia betah berdiri, Pikirannya tidak bisa di jabarkan oleh apa pun.


Wanita yang dulu ia kenal merusak keluarganya, ternyata dia mengorbankan semuanya. Mengorbankan tentang harga dirinya. Dia memang tidak tahu bagaimana wajah dari anak Duke Aiken dan baru sekaranglah dia tahu kenyataan bahwa istri keduanya anak kedua dari Duke Aiken. Penjelasan itu membuatnya tertegun, hatinya dulu memaki wanita itu. Namun, ia sekarang merasa kasihan. Tidak mudah baginya masuk ke dalam rumah tangganya, satu bahunya telah menanggung beban sang ayah yang masih belum sadarkan diri dan kehancuran keluarga Duke Aiken dan satunya lagi menambah penghinaan dari keluarganya.


Selama di kediaman Marquess Ramon. Wanita tetap tersenyum meskipun istrinya, Marchioness Merry memarahinya atau istrinya akan mencari cara untuk memakinya, tiada hari tanpa makian dari istrinya. Wanita itu tersenyum, meski sebuah tamparan dulu pernah dia dapatkan.


Setiap ia pulang, istri keduanya selalu menyambutnya. Jika Marchioness Mery lebih dulu melangkah padanya. Alona Wichilia memilih mundur, dia tersenyum dari jarak jauh dan ia hanya mampu melihatnya dengan tatapan tajam.


Wanita yang ia kenal, Alona Wichilia. Selama menjadi istrinya, ia tahu wanita itu lugu, manis dan polos. Tapi ia tidak tahu, kenapa Alona Wichilia bisa melakukan itu. Bahkan dia mengakuinya bahwa ia lah menaruh obat itu dan mengatakan mencintainya. Hingga anak itu lahir, Alexsa.


Dan sekarang ia tahu alasannya, Alona Wichilia melakukan itu atas paksaan, bukan keinginannya sendiri. Dia di paksa oleh keadaan yang tak mampu ia tolak. Sebuah kenyataan entah pahit atau manis ia juga terima, bahwa Alona Wichilia tidak benar-benar mencintainya.

__ADS_1


Bahkan Alexsa seakan membatanginya, rasa tidak sudi saat bertemu dengannya dan dimana ia tidak mau Alona Wichilia menemuinya. Dapat di pastikan, bahwa Alexsa dan Alona Wichilia sangat ingin terlepas dari keluarga Marquess.


"Alexsa."


Marquess Ramon menunduk. Dia teringat Alexsa yang begitu tegar menghadapinya, anak itu tersenyum dan selalu menunduk. Bahkan para pelayan yang menghinanya, dia diam tak menjawab sepatah kata apa pun. Ia paham, ia melihat sosok Alona Wichilia.


Putri kedua dari Duke Aiken itu di kenal sangat baik dan ramah pada pelayannya, namun Duke Aiken tidak pernah memperlihatkan wajah putri keduanya, ternyata raja iblis telah mengincarnya. Pantas saja Duke Aiken tidak pernah mempublikasikan wajah putri keduanya. Untuk putri pertama Duke Aiken, ia mengagumi wanita itu. Selain cantik wanita itu banyak di kagumi oleh para bangsawan. Pernah dia berharap Aundrey Wichilia menoleh padanya, sia-sia, wanita itu tersenyum dan menghindarinya.


Sontak mata Marquess Ramon terbuka lebar, ia merasakan sebuah tangan melilit pinggangnya.


"Marquess, aku lelah. Putri kita Ayne, dia sangat terpukul karena penolakan itu. Aku berusaha menghiburnya, begitu pun Albern."

__ADS_1


Marquess Ramon memijat pelipisnya, ia menekan dengan kuat kepalanya terasa pecah, sudah banyak ucapan dari sebuah kenyataan yang masuk ke dalam otaknya.


"Biarkan saja dulu, biarkan Ayne tenang." lirih Marquess Ramon.


Marchioness Mery mengerutkan keningnya, mendengarkan perkataan Marquess Ramon yang begitu berat. Lantas ia memutar tubuh suaminya itu. "Marquess kenapa dengan wajah mu?" tanya Marchioness Mery merangkup wajah Marquess Ramon.


Marquess Ramon menurunkan tangan Marchioness Mery, "Tidak apa-apa aku hanya lelah. Aku mau istirahat."


"Marquess tunggu, aku belum selesai berbicara,"


"Mery, tolong kamu mengerti. Aku lelah,"

__ADS_1


__ADS_2