Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Mereka Bahagia


__ADS_3

Di balik jendela kaca itu, kedua matanya bisa melihat seorang anak dan seorang ibu tengah melihat perhiasannya dan beberapa gaun. Sedangkan seorang ayah dan seorang anak laki-laki tengah mengobrol santai. "Mereka Bahagia."


"Hah,"


Duchess Alexsa tersenyum miris. Dia memasuki kediaman itu dengan di bantu oleh tanaman rambatnya. Beberapa penjaga sudah tertidur, tentu saja dengan di bantu oleh tanaman rambatnya. Namun, posisi para penjaga berdiri tegap dengan lilitan yang menjadi penegak tubuhnya.


"Mereka keluarga bahagia, sedangkan kamu Alexsa. Keluarga mu tidak membutuhkan mu. Baginya kamu beban dan harus di singkirkan."


"Alexsa, Alexsa." Duchess Alexsa melompat dari pagar tembok itu. Melangkah menuju sebuah kamar. Ia mengingat kamar Alexsa, setidaknya ada beberapa hal yang harus ia ketahui.


Duchess Alexsa turun dengan pelan, tanaman hijau itu langsung melepaskan tubuhnya dan menghilang. Alexsa menggeser pintu kaca yang menghubungkan ke balkon. Dia melihat sekeliling ruangan yang bersih dan tertata rapi dan cahaya bulan yang memasuki kaca jendela sebagai penerang di ruangan itu.


Sepertinya pelayan membersihkan ruangan itu.


Namun, tidak ada yang menempatinya.


Di lihatnya dinding di ruangan itu, terlihat beberapa lukisan Alexsa. "Dimana foto Ibunya?" tanya Duchess Alexsa. Tidak mungkin Duchess Alexsa sama sekali tidak memiliki foto ibunya. Mana bisa menemukannya.

__ADS_1


Kedua tangannya beralih pada lemari tiga pintu itu, membuka dua pintunya dan kebetulan lemari itu tidak di kunci. Duchess Alexsa meneliti gaun Alexsa sebelum menjadi Duchess. Pakaian itu bisa di bilang sebagai pakaian yang cocok dengan bangsawan. Dia memilih gaun di lemari itu dan mencari sebuah petunjuk, ia ingin melihat lukisan wajah ibu Alexsa dengan jelas.


"Tidak ada, mungkin di sini." Kedua tangannya beralih pada pintu di sampingnya. Membukanya dan kembali memilah baju itu.


Kedua tatapannya pun tertuju sebuah kotak di bawah pakaian yang menggantung itu. Duchess Alexsa menunduk, dia mengambil kotak itu dan duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya membuka sebuah kertas yang di lipat dan meneliti wajah itu.


Bola matanya berwarna biru, rambutnya pirang dan kriting gantung, bibirnya kecil dan tipis, bulu matanya lentik dan senyumannya yang menghipnotis setiap orang yang melihatnya. "Dia sangat cantik,"


Duchess Alexsa meraba lukisan itu, air matanya menetes ke kertas itu. Rasa rindu itu menyeruak, berteriak. Segera tangannya memeluk lukisan sang ibu, ia begitu merindukan ibunya. Benar, ia bukan Duchess Alexsa yang asli, tapi jiwanya telah menyatu dengan Duchess Alexsa.


"Aku akan mencarinya dan membuatnya bahagia."


Tap


Tap


Tap

__ADS_1


Duchess Alexsa menghapus air matanya, dia langsung berdiri di belakang pintu, menahan nafasnya sebentar dan pintu itu terbuka, tubuh Duchess Alexsa mengapit kebelakang. Memejamkan matanya, dalam hati ia merapalkan doa dan doa.


Laki-laki ber jas hitam itu masuk. Dia mengamati ruangan itu. Keningnya berkerut ketika melihat melihat pintu lemari itu terbuka. "Aneh, tadi aku merasakan seseorang ada di sini." Laki-laki itu menoleh, mengamati setiap sudut ruangan itu. Namun, tidak ada yang mengganjal.


Nafasnya tertahan sejenak, melihat lukisan seorang wanita di dinding. "Alexsa."


"Apa yang terjadi dalam hidup mu? tangisan itu seperti tangisan ibu ku waktu itu. Kehadiran mu, menambah kehancuran di hati ibu ku."


"Aku berharap, selamanya kamu akan merasakan apa yang ibu rasakan. Bahkan, berkali lipat."


Duchess Alexsa mengepalkan tangannya. Hingga kotak yang dia pegang, hancur seperti debu. Semua orang menyumpahinya agar tidak bahagia.


Duchess Alexsa melompat dari atas balkom. Tidak akan ada orang yang tahu, karena dirinya menggunakan sebuah topeng sebelum pergi ke rumah Marquess.


"Aku akan bahagia dengan cara ku sendiri."


Duchess Alexsa keluar dari kediaman itu dan tanaman yang melilit penjaga itu perlahan menyusut ke tanah hingga membuat penjaga yang telah di buat pingsan olehnya jatuh ke tanah.

__ADS_1


Duchess Alexsa duduk di atas atap bangunan tua. Dulu, bangunan itu adalah tempat salah satu bangsawan yang kebakaran, ya kediaman Duke Aiken. Duduk dengan kedua lutut yang di tekuk, menatap bulan purnama yang bersinar tenang. Sedangkan tanpa di sadari, seorang laki-laki tengah melihatnya.


__ADS_2