
Niat hati, Duchess Alexsa ingin membantu pelayan Anne membersihkan Villa yang ia tempati. Namun ada beberapa hal yang lebih penting dan harus dia utamakan. Ia pun dan pelayan Anne keluar dari kediaman Duke menuju sebuah toko.
Duchess Alexsa turun dari kereta, menatap toko di hadapannya. Ia berharap secepatnya menemukan pelaku di malam kejadian itu. Meskipun dia tidak ingat siapa laki-laki itu. Karena memori yang di tinggalkan oleh Duchess Alexsa sebelumnya samar-samar.
"Permisi Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki. Di perkirakan umurnya seperti sang Ayah, Marquess Ramon.
Duchess Alexsa mengamati beberapa Bros dan Cuflink. "Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan? begini apa anda kenal dengan pemilik bros ini?" Duchess Alexsa memberikan Bros berwarna biru. Seandainya dia kenal dengan laki-laki yang telah menodai Duchess Alexsa sebelumnya ia tidak akan memaafkannya dan yang jelas saat ini, ia tidak berharap mengenal laki-laki itu.
Laki-laki pemilik toko itu mengerutkan dahinya. Dia melihat wajah Duchess Alexsa. "Dari mana anda mendapatkan ini Nyonya?"
"Haih, aku menemukannya di jalan. Dengan baik hati aku menanyakan siapa pemiliknya dan ingin mengembalikannya. Kenapa? tidak percaya? ya sudah." Duchess Alexsa merampas bros itu.
__ADS_1
"Tunggu Nyonya!"
"Bros ini saya yang menjualnya dan pemiliknya.."
Hati Duchess Alexsa dan pelayan Anne berdebar-debar, seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Duke Vixtor."
Duchess Alexsa mematung. Tanpa ia sadari, ia menjatuhkan bros itu. Mulutnya bergerak ingin berbicara. Namun, tidak ada satu pun suara yang lolos dari kerongkongannya.
"Duke!" Duchess Alexsa mengambil bros itu. Dia berjalan menelusuri keramaian kota. Berjalan tak tentu arah, hingga langkahnya berhenti di tengah jalan, tepat di perempatan kota itu. Dia ingin mengamuk dan meminta penjelasan. Namun, melihat keacuhan Duke sudah pasti laki-laki itu tidak akan pernah menyesal.
__ADS_1
"Selalu berkaitan dengannya."
Duchess Alexsa kembali melangkah, dia menuju ke arah bukit untuk melampiaskan kemarahannya. Menaiki bukit itu tanpa rasa lelah. Sampai di atas bukit, Duchess Alexsa mengeluarkan kemarahannya, membuat tanaman itu menarik sebuah pohon. Dia melangkah, kedua tangannya dia gunakan untuk menunjuk sebuah pohon dan tanaman itu mengikuti arah matanya. Melilit pohon besar itu, menariknya ke atas dan menjatuhkannya ke lantai.
Aargh
"Dia lagi, dia lagi.. Aku tidak akan melepaskan kalian. Akan aku buat kamu mengingatnya, akan aku buat kamu di hantui rasa bersalah."
"Iya, aku memiliki tanaman ini. Dengan tanaman ini, ada sejuta obat yang aku inginkan dan salah satunya, aku ingin membuat Dia bermimpi kejadian malam itu."
"Duke!" Duchess Alexsa mengepalkan kedua tangannya. Tanaman itu kembali muncul di belakang tubuhnya, tapi lumayan besar dan berbunga. Namun, bunga itu bukan bunga biasa. Berwarna ungu dan memiliki gigi, di luar tumbuhan itu terlihat api berwarna merah. Kedua matanya pun telah berubah warna hijau.
__ADS_1
Arghh
Teriakan nyaringnya menggema di seluruh bukit, para burung yang sedang bertenggar dan menyuapi anaknya pun langsung mengepakkan sayapnya, menjauhi pohon di atas bukit itu.