Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Mengucapkan Selamat


__ADS_3

"Albern .."


Alona Wichilia memandangi wajah yang mirip dengan Marquess Ramon. Sikapnya, kejelian penglihatannya dan pola pikirannya pun sama. Tidak di ragukan lagi, bahwa dia akan menjadi penerus keluarga Marquess.


"Terima kasih." Albern berkat sungguh-sungguh. Dia datang dengan sejuta rasa terima kasih karena telah menolong ibu dan adiknya.


Alona Wichilia mengangguk dan tersenyum. Dia tidak mempermasalahkan karena menolongnya, karena dirinyalah akar dari permasalahan itu. "Baiklah, hanya itu yang mau kamu katakan atau ada hal yang lainnya."


"Maafkan ibu dan adik ku, nyonya Alona." Albern merasa tindakan sang ibu dan adiknya benar-benar keterlaluan. Apa lagi dia sempat mendengarkan percakapan keduanya yang sangat membenci Alexsa dan Alona Wichilia. Entah apa rencana selanjutnya. "Berhati-hatilah,"


Hatinya ingin mengatakan, bahwa sang ibu dan adiknya telah merencanakan sesuatu.


"Aku sudah terbiasa Albern, jadi jangan mengkhawatirkan diriku."


"Iya."


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki yang mendekati mereka. "Maaf Nyonya, mengganggu waktunya. Nona Alexsa meminta saya menjemput Nyonya."


"Oh baiklah," Alona Wichilia tersenyum pada Albern sekaligus berpamitan.


Albern tersenyum, ternyata Alona Wichilia wanita yang sangat hangat. Dulu wanita itu selalu menghampirinya, menyapanya meskipun kerap kali ia membentak dan menjelekkannya. Wanita itu hanya tersenyum entah merasa sedih atau kecewa, ia tidak tahu.

__ADS_1


###


"Ada apa Alexsa?" tanya Alona Wichilia. Dia melihat tiga gaun putih. Menurutnya sangat bagus dan ketiganya cocok dengan Alexsa. Kini waktu terus berjalan, tidak di sangka, putrinya telah mendekati hari pernikahannya.


"Pilihlah untuk ku, Bu. Aku bingung harus memilih yang mana."


Alona Wichilia menatap tiga gaun mahal dan berkualitas itu. Kain yang sangat lembut dan ada butiran mutiara di rok lebarnya.


"Aku rasa kamu cocok yang ini Alexsa," ucap Alona Wichilia. Ia memilih gaun yang berada di tengah dengan tali pinggang mutiara putih, simpel dan elegan.


"Ya sudah, yang ini saja,"


"Alexsa, ibu harap kamu bahagia."


"Cucu ku." Dari ambang pintu terlihat Duke Aiken sedang mendorong kursi rodanya masuk ke dalam.


"Hiduplah dengan bahagia. Maaf, ini salah kakek yang membuat hidup mu di penuhi masalah." Duke Aiken merasa sangat bersalah karena menyeret kehidupan cucunya. Semenjak Alona menceritakan semuanya, ia membenci Duke Vixtor dan Marquess Ramon. Setiap ada dua laki-laki itu, ingin sekali ia memukul mereka dan menghajarnya. Sesalah-salahnya putrinya, Alexsa tidak bersalah, tapi kedua laki-laki itu malah menyeret Alexsa.


"Kakek jangan merasa bersalah, kesehatan kakek jauh lebih penting dari apa pun. Aku akan melakukan apa pun demi kakek dan ibu. Bagi ku, kakek seperti bulan di tengah-tengah kami."


"Sayang, kamu cucu kakek yang sangat kakek cintai. Segalanya, apa pun itu, hanya untuk mu."


Alona Wichilia menitikkan air matanya, rasa bahagia dan haru bercampur aduk di hatinya. Dia berharap, tidak akan ada lagi masalah yang akan menghantui keluarga kecilnya.


###


Ruangan megah dan luas serta di susun dengan rancangan bunga. Para bangsawan telah berjejer rapi antara bahagia dan tidak. Mereka menyambut calon Permaisuri di masa depan. Ada yang merasa senang dan ada yang merasa tidak suka. Karena sebuah status, tapi mau bagaimana lagi? bangsawan yang tidak suka pun hanya diam karena kekuasaan Duke Aiken telah kembali.

__ADS_1


Seorang wanita pun muncul dari pintu. Dia memegangi buket bunga dan berjalan di atas karpet merah. Di temani Marquess Ramon yang menjadi pendampingnya dan dua orang anak kecil yang siap menaburi bunga di setiap langkahnya.


Wanita itu menaiki anak tangga, menuju pendeta dan sang suami yang telah menunggunya. Mengucap janji suci dan akhirnya mereka berciuman sebagai tanda cinta selamanya. Janji suci yang telah mengikat keduanya suka maupun duka akan selalu bersama dan sehidup semati.


Alona Wichilia menangis tersedu-sedu, seorang laki-laki pun muncul di sampingnya.


"Putri kita sudah bahagia," lirihnya pelan dengan rasa sesal. "Maaf, karena tidak menjaganya dengan baik dan tidak memberikan kasih sayang seorang ayah padanya. Sampai saat ini pun, kasih sayang yang telah terlewatkan tidak bisa aku ganti."


"Mungkin ini jalan takdir Alexsa dan aku."


Sedangkan di tempat.


Tidak jauh dari pandangan mereka. Ketiga wanita menahan amarahnya. Wanita yang begitu lemah, kini menjadi kuat dan memiliki kekuasaan melebihi apa yang mereka miliki.


"Aku tidak percaya dengan semua ini. Aku harap ini mimpi dan secepatnya membangunkan diri ku."


"Aku tidak percaya kalau aku tidak bisa menyakitinya, sekalipun dia menjadi seorang permaisuri." Di liputi rasa kelegapan, Ayne berharap dia bisa memasuki kehidupan Alexsa dan membuatnya membayar mahal.


Ellena tersenyum sinis pada Ayne. Kalau di pikir-pikir dia masih mending mendapatkan Duke Vixtor. Dari pada Ayne yang tidak mendapatkan apa pun. "Pesta ini sangat panas."


Ayne segera menoleh, ia merasa Ellena sengaja menyindirnya.


"Kenapa melihat ku begitu? aku tidak menyindir mu. Sejujurnya aku tidak mau datang, tapi Duke Vixtor memaksa ku. " Dengus Ellena. Dia memang memiliki kekuasaan, tapi tidak dengan kekuatan fisik.


"Sudahlah, kita harus memberi mereka selamat," ucap Ellena melangkah maju, menghampiri kedua pasangan yang menerima selamat dari para bangsawan itu.


#Maaf ya kak, suka gak masalah. Ini alurnya memang panjang karena ada actionnya, meskipun hanya satu dua saja yang keluar. Kalau Romantis, mungkin tidak akan banyak dan total dari seluruh kata hanya berkisar 50 k lebih. Jadi menurut Author ini mah sedikit.

__ADS_1


__ADS_2