Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Sebuah Keanehan Duke dan Marquess


__ADS_3

"Tidak juga," jawab Baginda Kaisar. Tapi ia merasa ragu dengan keputusannya itu.


"Karena sudah ada yang membantu kita, aku akan ke kota Utara dan Duke Vixtor akan ke Selatan."


Baginda Kaisar menghela nafas, ia kurang setuju jika Rose harus secepatnya meninggalkan istana. "Kalian saja, biarkan aku mengenalnya lebih dulu. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan."


Perkataan Baginda Kaisar membuat mereka kecewa. Setidaknya, penyerangan ini akan segera berakhir. "Baiklah, Baginda." Serempak keduanya mengiyakan dengan penuh kekecewaan. "Kami pamit dulu,"


Keduanya memberikan hormat dan meninggalkan Baginda Kaisar.


Di tempat lain.


Putra Mahkota Delix dan Duchess Alexsa telah sampai di depan pintu.


"Ehem, Nona Rose. Terima kasih, karena sudah datang," ucap Putra Mahkota Delix dengan tulus. Ia menatap kedua manik Duchess Alexsa yang membuat dadanya berdebar-debar.


"Aku yang berterima kasih karena telah mengantar ku. Aku masuk dulu Putra Mahkota."


Putra Mahkota Delix mengangguk patuh. Ia tersenyum dan kedua matanya tak pernah lepas dari pintu kamar itu. Rasanya, ia belum rela berpisah dan ingin mengatakan hal yang banyak. Ia ingin menanyakan semuanya, tapi saat berhadapan dengannya bibirnya terasa kelu.


Putra Mahkota Delix meraba pintu itu, dia tersenyum dan berbalik. Namun, langsung mundur karena di kagetkan oleh sesuatu.

__ADS_1


"Baginda."


Baginda Kaisar menatap aneh, tidak biasanya putranya itu senyam senyum sendiri. Seperti orang yang sedang kesurupan. "Apa nona Rose sudah tidur?"


"Sepertinya Begitu, Baginda," ujar Putra Mahkota Delix.


"Ya, sudah. Jangan mengganggunya."


Di sisi lain...


Marquess Ramon menyandarkan punggungnya ke bantal, menatap langit-langit. Ia menoleh ke sampingnya dan melihat istrinya telah tidur. Sedangkan matanya tak bisa terpenjam setelah mengingat nama Rose.


Uhuk


Uhuk


Wanita di samping Marquess Ramon terbangun, dia beringsut dan mengambil sebotol gelas di atas nakas di sampingnya. Meneguknya hingga tandas.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Marquess Ramon.


"Aku tidak apa-apa," ujarnya tersenyum. Beberapa hari ini kesehatannya menurun. "Ada apa? Marquess belum tidur,"

__ADS_1


"Ah, aku memikirkan Rose," ujarnya berbohong.


"Kenapa? alangkah baiknya kalau Ayne dan Albern dikenalkan dengan nona Rose. Siapa tahu mereka dekat dan menjadi teman." Usulnya tersenyum. Ia sangat yakin, ketiga penguasa akan bersatu menjadi seorang teman.


Marquess Ramon ragu, sosok dingin nona Rose tidak mudah untuk di dekati. "Tidak mudah, nona Rose sangat dingin. Aku tidak yakin, dia mau menjalin dengan mereka. Pada ku saja dia menolak tegas," ujar Marquess Ramon.


"Tapi aku yakin, nona Rose akan menerima putra dan putri kita."


Sebagai anak dari bangsawan yang berkuasa, ia yakin anak-anaknya bisa menaklukkan satu penguasa yang telah kembali.


"Semoga saja, ayo kita tidur."


Wanita itu mengangguk dan Marquess Ramon membenarkan selimutnya dan kemudian ikut terlelap.


Di sisi lain.....


Duke Vixtor kembali berkeringat dingin, lagi-lagi ia bermimpi kejadian malam itu dan membuatnya kembali tak bisa tidur. Ia takut mimpi itu terus berlanjut dan tak bisa membuatnya tidur dengan tenang. "Tidak bisa seperti ini, aku harus meminta obat tidur pada Dokter," ujarnya seraya memejamkan matanya. Dia beringsut turun dari ranjangnya dan kembali ke ruang kerja. Mungkin dengan berkerja dan berkerja hatinya akan tenang. Namun, di sela-sela konsentrasinya. Bayangan Nona Rose menyita perhatiannya. Ia teringat mata yang penuh kebencian saat menatapnya dan suara yang begitu dingin seolah memusuhinya.


"Siapa dia sebenarnya?" pertanyaan bodoh itu terngiang-ngiang di otaknya. Ia selalu mempertanyakan nona Rose yang padahal sudah di jelaskan identitasnya. Namun, ada sesuatu yang ia rasakan, sesuatu yang berbeda, tapi ia tidak tahu.


"Argh! kenapa aku ingat Duchess Alexsa. O iya, aku harus secepatnya menceraikannya. Apa lagi tadi Ellena sudah membahasnya, mungkin besok pagi aku harus menemui Duchess Alexsa."

__ADS_1


__ADS_2