Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Bab 37


__ADS_3

Kedua mata Duke Vixtor tanpa berkedip memandang bros itu. Nafasnya seakan berhenti mendadak.


"Benarkan, Duke. Ini milik mu, ternyata Alexsa diam-diam mengambilnya. Aku tidak tahu dia menemukan bros ini di mana? tapi bros ini sudah lama di cari oleh Duke, kan."


Duchess Alexsa memutar bola matanya, ia jengah melihat wajah keterkejutan Duke Vixtor, tanpa menunggu perkataan Duke mau pun Ellena. Ia langsung berbalik dan melangkah keluar.


"Tunggu, kamu mau kemana Alexsa." Ellena melangkah dan mencegah lengan Alexsa.


Duchess Alexsa menatap sinis, ia langsung menarik tangan Ellena dan mendorongnya. Hingga tubuhnya mundur dan jatuh ke lantai.


"Alexsa!" Geram Ellena. Dia melirik Duke Vixtor yang terpaku. Adegan ketika Ellena di dorong pun ia tidak tahu. Pikirannya melayang entah kemana.


"Duke, lihat. Alexsa berbuat kasar pada ku." Ellena menangis, dia di bantu oleh seorang pelayan. Sedangkan yang di tatap malah langsung pergi.


Duchess Alexsa tertawa, sudah pasti Duke tidak akan fokus. Karena dia teringat malam itu, malam dimana Duchess Alexsa ternoda.


"Hidup mu akan di hantui oleh rasa bersalah Duke." Gumam Duchess Alexsa berlalu pergi.


Ellena menatap lantai dua, ia kesal dengan Duke yang tidak membelanya. Padahal ia ingin menunjukkan betapa berkuasanya dia. "Aku harus berbicara dengan Duke."


Ellena menaiki anak tangga itu, kemudian membuka pintu kamarnya. Wajah Duke Vixtor terlihat sedih dan membuat Ellena bingung. "Duke, kenapa kamu tidak membela ku di hadapan Alexsa?"


Ellena berbicara dengan nada marah, ia tidak terima di abaikan oleh Duke. "Duke, jawab aku. Kamu menyukainya kan." Ia berpura-pura sedih. Menghapus air matanya. Namun, Duke Vixtor seperti orang dungu dan bodoh. "Duke!" teriak Ellena kesal.


Duke Vixtor menatap tajam. Saat ini ia butuh sendiri. "Cukup Ellena jangan mengganggu ku!" bentak Duke Vixtor. Ia pergi meninggalkan Ellena yang menganga dengan lebar.


"Ada apa dengan Duke? apa mungkin penceraian itu membuatnya menyesal?" Ellena menatap buah hatinya yang mengoceh. "Tidak, aku masih memiliki Kania sebagai penguat ku di rumah ini."

__ADS_1


Sedangkan Duchess Alexsa dan pelayan Anne berjalan ke rumah dekat kota. Keduanya masuk di sebuah gang kecil dan sampai di rumah yang sederhana. "Nyonya, ini rumah saya. Maaf kalau rumahnya kecil."


Duchess Alexsa masuk, ia menatap keadaan dalam rumah itu. Satu ruang tamu dan sebelahnya dapur dan dua kamar kecil. "Tidak masalah bagi ku Anne."


"O iya Nyonya, halaman belakang bisa kita tanami sayuran. Ya, walaupun tidak banyak."


"Tenang saja Anne, kita tidak semiskin itu." Duchess Alexsa menyingkap roknya. Dia mengambil beberapa permata dan berlian serta uang.


Hah


Pelayan Anne di buat terkejut, ia tidak tahu majikannya mengambil beberapa uang dan barang dari kediaman Duke.


"Kita bisa menggunakannya untuk beberapa hari ke depan. O iya, malam ini aku akan menemui Ellard dan Endrick."


"Nyonya sungguh luar biasa."


Duchess Alexsa tersenyum, ia tidak bodoh tanpa mengambil apa pun dari kediaman Duke. Ia sudah menderita, lalu keluar dan menambah penderitaan yaitu kelaparan. Sebenarnya, ia bisa saja ke istana, tapi meninggalkan Anne tanpa uang sepeser pun tentu tidak mungkin.


"Tidak perlu Nyonya."


"Ambil Anne, aku akan sering berkunjung dan menginap di sini," ujar Duchess Alexsa menaruh tiga kantong itu ke atas meja.


"Anne, aku gerah mau mandi."


"Baiklah, aku akan menyiapkannya Nyonya."


Mau tidak mau, pelayan Anne mengambil tiga kantong itu dan menyimpannya. Setelah itu, ia menyiapkan air untuk sang majikan.

__ADS_1


"Tidak perlu, Anne. Aku bisa sendiri."


"Tidak masalah Nyonya, justru aku sangat senang. Silahkan Nyonya."


"Terima kasih Anne." Duchess Alexsa pun menjalankan ritual mandinya. Setelah selesai dia langsung bersiap-siap ke istana.


\=\=\=


Duchess Alexsa mengamati Ellard dan Endrik yang sedang latihan pedang. Mereka di ajarkan langsung oleh Ketua Kesatria Istana dan di bawah pengawasan Putra Mahkota Delix. Laki-laki itu memperketat pengawasannya agar kedua laki-laki itu sangat kuat untuk menjaga wanita yang menarik simpatinya.


Putra Mahkota Delix menghentikan latihan ketika melihat seseorang. Karena sejak tadi pagi, kedua laki-laki itu latihan memanah dengan menaiki kuda dan berpedang serta melawannya.


"Nona Rose," sapa Putra Mahkota Delix tersenyum.


Duchess Alexsa menatap Putra Mahkota Delix tanpa berkedip. Butiran keringat yang mengalir dari dahinya sampai ke dagunya menambah kesan karismatiknya.


Duchess Alexsa menggeleng, ia menepis pikiran konyolnya itu.


"Iya, maaf mengganggu. Aku ingin menengok mereka," ujar Duchess Alexsa seraya menatap dua laki-laki yang sedang menghampirinya.


Seperti biasa, Ellard dan Endrick memberikan salam.


"Aku ingin membawa kalian keluar, boleh kan Putra Mahkota."


Putra Mahkota Delix sejenak berfikir. Ia merasa tersinggung karena tidak di ajak. Ia memutar otaknya mencari alasan bagaimana bisa ikut dengan mereka.


"Nona, Rose. Aku akan ikut dengan mu. Sekedar berjaga-jaga dan aku takut kedua teledor tidak bisa melindungi mu."

__ADS_1


Duchess Alexsa ingin menolak, namun dengan tegas Putra Mahkota Delix kembali bersuara.


"Aku tidak akan merepotkan mu."


__ADS_2