
Putra Mahkota Delix meringis melihat kedua laki-laki yang sedang mabuk itu. Mereka turun dari kereta kuda di bantu oleh dua penjaga yang masing-masing memapah mereka dengan benar. Sedangkan dirinya, menggendong tubuh Duchess Alexsa yang telah kehilangan kendali karena mabuk.
"Aku membenci mu," Duchess Alexsa tertawa. Dia menatap laki-laki di hadapannya. Kedua matanya melebar saat melihat siapa yang ia tahu.
"Kamu!" tunjuknya. Ia langsung melompat dan menjauh. "Jangan menyentuh tubuh ku. Kamu laki-laki yang tidak bertanggung jawab."
Putra Mahkota Delix menganga, tidak bertanggung jawab dari mananya. Ia belum pernah menyentuh Duchess Alexsa.
"Jangan mendekat!" Putra Mahkota Delix tak ambil pusing. Rancaun tak jelas dari wanita di hadapannya, membuatnya malu.
Putra Mahkota Delix mengangkut tubuh Duchess Alexsa ke bahunya, seakan mengangkat sekarung gandum. Dia langsung melangkah dan tidak peduli para penjaga yang melihatnya dan para pelayan yang melihatnya.
"Lepaskan! aku tidak mau di sentuh oleh laki-laki macam seperti mu."
Putra Mahkota Delix menjatuhkan tubuh Duchess Alexsa ke atas ranjang. Melihat seorang wanita di hadapannya dengan kedua tubuh yang menonjol itu, ia merasakan sesuatu di bawah sana yang menonjol.
"Setelah berbicara tanpa ada ujungnya. Dia menggoda ku. Kalau bukan aku," Tubuhnya terasa panas, kerongkongannya terasa kering. Ia mendekat dan entah kapan bulu mata yang lentik itu telah terpenjam. Ia menelan ludahnya, tangannya mengusap bibir mungil dan merah itu. Wajahnya semakin mendekat, memperhatikan bibir yang merah merona itu dan mengelus pipinya.
Jiwa penasarannya semakin tinggi, ia ingin membuka topeng itu. Namun, kembali di urungkan. Rasanya, ia bertindak seperti seseorang yang tidak memiliki sopan santun.
"Oh, Aku harus mandi."
__ADS_1
Putra Mahkota Delix menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan tersenyum, langkah kakinya berbelok. Dia mengecup singkat bibir itu.
Emm
Seketika tubuhnya mundur, seperti tersambar petir dan mematung. "Aku seperti laki-laki yang mesum."
Sebelum wanita itu membuka mata, walaupun tidak mungkin. Ia langsung bergegas pergi dan menyuruh dua pelayan membantu Duchess Alexsa mengganti gaunnya. Dia juga berpesan agar tidak membuka topengnya, takut membuat Duchess Alexsa tersinggung.
Sedangkan di teras depan.
Seorang laki-laki tengah was-was, melihat putranya perlahan mendekati wanita yang tak lain keturunan Duke Aiken. Kalau cinta itu tumbuh di hati putranya. Lalu ia harus bagaimana menghadapi Marquess Ramon? Ia bermaksud menjodohkan putranya dengan nona Ayne.
"Bagaimana ini?"
Sesampainya di kamar sang putra. Baginda Kaisar menunggu Putra Mahkota Delix yang membuatnya merasa seperti manusia yang tak tahu tujuan. Kadang ia berdiri, kadang ia duduk dan menatap kamar mandi. Ia heran pada putranya yang kunjung keluar. "Apa dia meminum semua air di kamar mandi itu? kesal Baginda Kaisar.
krek
Terlihat seorang laki-laki mengusap rambutnya dengan handuk dah tubuhnya terbalut jubah mandi berwarna putih itu. "Ayah."
"Nah, ini dia. Putra Mahkota ngapain di kamar mandi dan aku harus menunggu sejam lebih? apa semua air kamu minum, huh?!"
__ADS_1
Putra Mahkota Delix terdiam, mana mungkin ia menjawab menumpaskan hasratnya. Mau di taruh dimana mukanya? pikirnya.
"Tidak Ayah, sedang bermanja-manja."
Aneh dan tidak nyambung, itulah pikiran dari Baginda Kaisar.
"Ada yang ingin ayah bicarakan, kamu datang dari mana dengan nona Rose dan apa hubungan kalian sangat dekat?" tanya Baginda Kaisar. Putranya tidak suka di sentuh oleh wanita. Nona Ayne saja harus menjaga jaraknya dengannya.
"Aku keluar bersenang-senang, Ayah. Aku tidak memiliki hubungan apa pun."
"Haih, bagaimana hubungan mu dengan nona Ayne?"
"Ayah, aku sudah bilang. Aku tidak mau memiliki hubungan dengannya."
"Putra Mahkota,,"
"Ayah, hubungan ini belum jauh dan masih di rancang kan. Jadi aku memutuskan tidak akan bertunangan dengannya." Putus Putra Mahkota Delix. Ia tidak bisa menikah dengan nona Ayne yang tidak pernah ia sukai. Pernikahan yang ia inginkan bukan hanya pernikahan politik melainkan cinta. Ia ingin di cintai dan mencintai.
"Putra Mahkota." Baginda Kaisar menepuk bahu putranya. Ia memandang halaman luas istana yang kini berada di tangannya. "Ayah, akan berbicara pada Tuan Marquess, tapi ayah juga butuh keyakinan mu. Ayah harap kamu mengerti, ayah juga butuh waktu untuk mengatakannya."
Tak terasa Seminggu telah berlalu.
__ADS_1
Duke Vixtor dan Marquess Ramon telah melaksanakan tugasnya. Keduanya pun telah berada di istana dan melaporkan keadaan pada Baginda Kaisar.