Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Tidak Akan Mengakui


__ADS_3

Duchess Alexsa memberikan hormat layaknya putri bangsawan pada kedua laki-laki di hadapannya.


Hatinya pun menggerutu dengan kesal, waktu santai di pagi hari terusik. Karena kedatangan kedua laki-laki di hadapannya.


"Maaf, Nona Rose. Kami mengganggu waktu mu. Ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan," ujar Marquess Ramon


Duchess Alexsa tersenyum hangat, seakan mengatakan tidak apa-apa. "Tidak masalah Tuan Marquess,"


Albern tersenyum, dia memandangi tubuh Duchess Alexsa dari atas sampai bawah. Di balik senyumannya, ia berfikir bahwa Duchess Alexsa sangat cantik.


"Silahkan duduk Tuan," ujar Duchess Alexsa. Kedua memilih mengobrol di taman samping istana.


"Apa ada sesuatu yang membuat para tuan-tuan mendatangi saya."


"Masalah tentang api merah," sanggah Albern.


Kedua alis Duchess Alexsa mengerut, seakan mengatakan kebingungan. "Maksud Tuan."


"Begini, " sambar Marquess Ramon. "Api merah itu, nona Rose mendapatkannya dari mana?"


"Oh, sudah ada Tuan. Saya tidak tahu,"

__ADS_1


Albern dan Marquess Ramon saling pandang. Kedua mengatakan lewat mata itu bahwa nona di hadapannya tidak tahu apa-apa.


"Begini, api merah itu, sebenarnya hanyalah keturunan Marquess memilikinya, tapi keturunan Duke Aiken juga memilikinya. Apa nona memiliki hubungan dengan keluarga kami?"


Tentu saja aku memiliki hubungan, aku anak mu, putri mu yang sudah di telantarkan.


"Aku tidak tahu!" tegas Duchess Alexsa, suaranya begitu dingin dan jika bukan seorang panguasa. Mungkin kedua laki-laki itu sudah membeku. "Jangan tanyakan pada ku,tanyakan pada diri sendiri," imbuhnya lagi.


"Tapi Nona, kami sudah mencari dari segala sumber tentang Marquess, hanya keturunan Marquesslah yang memilikinya, Nona jangan berbohong," ujar Albern sedikit menggertak


Aku tidak suka dengan ucapannya, selalu mata itu yang membuat Duchess Alexsa ketakutan


"Tidak mungkin! jangan mengelak Nona."


Sedangkan Marquess Ramon memilih memperhatikan keduanya dan tidak mengatakan apapun. Ia memilih mengamati wajah, postur tubuh Duchess Alexsa. Di balik wajahnya yang bertopeng itu, ia begitu penasaran dengan wajahnya.


"Saya tahu nona berbohong dan menutupinya." Albern tetap tegas mendesak Duchess Alexsa agar mau mengaku.


Aku bukan Duchess Alexsa yang dulu, lebih baik kalian tidak tahu siapa aku dengan begitu, aku bisa menyindir dan bertarung dengan kalian sesuka hati ku. Lagi pula, aku tidak butuh pengakuan dari kalian atau seandainya kalian tahu dan masih tidak mengakuinya, menurut ku lebih baik.


"Apa maksud mu, hah?!" bentak Duchess Alexsa.

__ADS_1


"Aku tidak suka, hidup ku di ungkit. Kehidupan ku, jauh dari kata bahagia. Jadi aku membencinya,"


"Kalau begitu, saya ingin nona mengakuinya."


"Mengakui apa? mengakui kalau saya anak dari Marquess Ramon? apa menurut mu aku harus mengaku seperti itu?"


Albern menggeram, ia tidak suka ayahnya di fitna. Bahkan tuduhan itu tak terbukti.


"Jaga ucapan mu!"


"Kalian memaksa ku mengungkit orang yang saya benci, saya tidak suka. Sekalipun kalian keluarga saya atau bukan keluarga saya. Karena saya juga tidak akan mengakuinya." Sarkas Duchess Alexsa.


Deg


Marquess Ramon merasakan nyilu di hatinya, ia merasa ucapannya tajam dan begitu menusuk. "Sudah cukup, maaf mengganggu waktu Nona. Kami sudah berbicara tidak sopan dan maaf tidak membuat nona nyaman," ujar Marquess Ramon.


"Ayah!" Albern tidak terima, ia masih ingin mendesak nona di hadapannya agar mau mengaku. Ia tidak mudah di bohongi, pasti ada sebuah rahasia.


"Albern ayo kita pulang, aku merasa nona Rose hanya kebetulan memilikinya." Marquess Ramon berlalu pergi, sedangkan Albern dan Duchess Alexsa masih saling menatap tajam.


Siapa juga akan mengakui kalian batin Duchess Alexsa.

__ADS_1


__ADS_2