
Suara angin begitu syahdu, alunan melodi piano begitu indah. Menemani dinginnya malam. Suara decitan pintu terbuka dan nampaklah seorang wanita yang memakai gaun berwarna hijau dan topeng yang melekat di wajahnya.
Seorang laki-laki yang tengah bermain piano itu menghentikan jarinya dan di sampingnya di temani seorang laki-laki berprawakan tegas. "Nona Rose,"
Duchess Alexsa membungkuk dan kembali menegakkan tubuhnya. "Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Baginda dan juga Putra Mahkota. Maaf, kalau selama ini saya lancang."
Baginda Kaisar menyuruh Duchess Alexsa duduk, obrolan itu kurang serius tanpa duduk dan saling berhadapan.
"Sebenarnya," Duchess Alexsa membuka topengnya secara perlahan dan Putra Mahkota serta Baginda Kaisar begitu penasaran dengan sosok wanita di hadapannya itu. "Saya Duchess Alexsa Baginda. Ah, Maaf, tapi saat ini saya bukan seorang Duchess. Melainkan seorang janda."
Putra Mahkota Delix dan Baginda Kaisar menutup mulutnya, Putra Mahkota Delix langsung berpaling sedangkan Baginda Kaisar masih menatap dengan tatapan terkejut.
"Saya berbohong ada alasannya. Ibu saya, meninggalkan saya dan saya masih mencari keberadaan Ibu. Alasan ibu saya masuk ke dalam kediaman Marquess dan kepergiannya. Serta, alasannya kenapa menyembunyikan kekuatan saya dan melarang saya tidak menyentuh bunga mawar. Ternyata, bunga mawar itu berduri dan karena hal itulah kekuatan saya muncul."
"Apa Duke tahu? apa Marquess tahu?"
"Mereka tidak tahu, untuk apa memberitahukan mereka? untuk memamerkan kekuatan saya, tidak. Saya tidak ingin di sanjung dan di puji oleh mereka. Lagi pula saya harus mencari keberadaan ibu saya dan ingin menanyakan alasannya."
__ADS_1
"Jangan berbicara formal pada ku. Meskipun aku kecewa karena kebohongan mu. Aku tidak akan menuntut mu. Karena kamu tidak membahayakan keluarga istana."
"Jangan katakan pada mereka, aku ingin hidup tenang dan mencari keberadaan ibu ku? bagaimana dia hidup? apakah dia hidup dengan baik atau tidak."
Putra Mahkota Delix menggeleng pelan, sungguh ia tidak menduga. Wanita yang selalu di rumorkan pembawa sial, tidak di terima dengan baik oleh keluarga Marquess ternyata adalah berlian. "Aku akan membantu mu untuk mencari keberadaan ibu mu."
"Begitukah, terima kasih Putra Mahkota. Tapi, aku akan berusaha mencarinya sendiri."
Baginda Kaisar mengangguk, pantas saja wanita di hadapannya sering menyindir Duke Vixtor dan Marquess Ramon. Mungkin karena kebencian yang sudah menumpuk terhadap mereka.
"Benar, apa aku harus memanggil nona Alexsa atau nona Rose?"
"Nona Rose, karena nama itu tidak akan ada yang mengetahui siapa aku Baginda."
"Aku menerima keputusan mu, tapi biarkan Putra Mahkota menemani mu dan jangan menolak, ini adalah perintah."
"Tapi, aku harus mencarinya kemana Baginda. Aku tidak memiliki petunjuk," ujar Duchess Alexsa. Ibunya pergi tanpa meninggalkan petunjuk, lantas dia harus mencarinya kemana?
__ADS_1
"Apa mungkin suatu saat dia akan kembali?" tanya Putra Mahkota menerka-nerka.
"Entahlah, Putra Mahkota."
"Aku akan mendatangkan ketua penyihir untuk melacaknya."
Sedangkan di tempat lain.
Duke Vixtor kembali mencari keberadaan Duchess Alexsa dan menanyakannya pada pelayan Anne. Namun, hasilnya sama, jawabannya selalu sama. Tidak mengetahui keberadaan Duchess Alexsa.
"Kemana aku harus mencarinya?"
Duke Vixtor menyuruh beberapa kesatrianya untuk mencari keberadaan Duchess Alexsa secara diam-diam dan mengawasi kediaman pelayan Anne.
Sepanjang malam Duke Vixtor tidur membelakangi Ellena. Ia tenggelam dalam pikirannya, bagaimana keadaan Duchess dan rasa bersalahnya yang semakin menumpuk. "Aku ingin bertemu dengan mu, Duchess. Meminta maaf atas semuanya."
Tak terasa waktu malam telah berlalu. Kini sang surya tengah menjalankan tugasnya. Di sebuah kediaman yang luas dan mewah itu, terlihat dua orang wanita yang tengah bersiap-siap menuju istana.
__ADS_1