Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Alexsa, Alexsa dan Alexsa


__ADS_3

"Nyonya Ellena, tapi maaf. Tadi aku melihat Tuan menemui Nyonya Alexsa," ujar pelayan Anne.


Tentu saja kedua orang itu menatap pelayan Anne dengan heran. Sedangkan Ellena, pikirannya menebak yang tidak-tidak.


"Jangan membohongi ku, aku tahu kamu pelayan Alexsa dan ingin menghancurkan pernikahan ku setelah pernikahan majikan mu hancur, kan."


Pelayan Anne tersenyum, "Maaf Nyonya, tapi memang benar. Seharian Tuan menunggu Nyonya Alexsa."


"Apa? ternyata Tuan Duke menemui Nyonya Alexsa diam-diam?!" tanya wanita memakai gaun merah itu. Ia begitu terkejut dan menyangka bahwa Duke Vixtor masih mengharapkan Duchess Alexsa. "Apa...."


"Tidak mungkin, aku yakin Duke hanya menemui saja dan tidak memiliki hubungan apa-apa." Sanggah Ellena dengan cepat. "Kalau sampai kamu berbohong, kamu akan tahu sendiri pelayan rendahan"


"Ya, sudah. Kalau Nyonya tidak percaya, terserah Nyonya saja."


"Hey, kamu. Kamu pelayan Duchess Alexsa," tanya wanita itu. Kedua matanya melihat ke arah pelayan Anne setelah melihat kepergian Ellena. "Bagaimana sikap tuan Duke pada Nyonya Alexsa."


"Entahlah, Nyonya, yang jelas Tuan Duke menemui Nyonya Alexsa dan meminta maaf."


"Apa Tuan Duke menyesal karena telah menceraikan Nyonya Alexsa?"


"Bisa jadi Nyonya, penyesalan pasti ada Nyonya." Pelayan Anne meyakinkan wanita di hadapannya. Ia berharap akan ada goncangan di Ibu Kota. Ketajaman lidah seseorang jauh lebih tajam dari pada pedang yang sudah di asah.


Wanita itu mengangguk, kemudian melangkah pergi.


"Sepertinya, esok pagi akan ada gosip baru," ujar pelayan Anne terkekeh. Ia memutar tubuhnya dan melangkah ke arah Duchess Alexsa yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


"Nyonya, semuanya sudah beres."


"Kamu melakukannya dengan baik Anne, ayo aku traktir kamu. Mau makan apa pun, mau membeli gaun dan perhiasan apa pun dan jangan menolak," ujar Duchess Alexsa menarik lengan pelayan Anne dan pelayan Anne pun hanya menurutinya saja.


Sedangkan di tempat lain.


Ellena menarik gaunnya dengan kedua tangannya. Sehingga tidak menghalangi langkahnya yang ingin di percepat. Hatinya seperti di remas, Duke Vixtor tidak mengatakan apa pun. Ia merasa telah di bohongi, jangan sampai suaminya, Duke Vixtor meninggalkannya.


"Dimana Tuan?" tanya Ellena pada seorang pelayan yang menyambutnya.


"Tuan baru saja pulang Nyonya dan..."


Ellena melenggang pergi tanpa mendengarkan kelanjutan penjelasan sang pelayan.


Duke Vixtor yang tampak kusut, ia mengangkat wajahnya dan melihat wanita yang mendatanginya.


"Duke, apa benar kamu mendatangi Alexsa?" tanyanya dengan geram. "Jawab Duke, kenapa hanya diam saja? Duke membohongi ku, Duke pernah mengatakan, bahwa Duke tidak akan menemui Alexsa, tapi apa? Duke menemui wanita hina itu."


"Apa begini cara mu berbicara pada suami? tanpa menanyakan secara baik-baik. Benar, aku menemuinya dan meminta maaf atas apa yang aku lakukan."


"Buat apa meminta maaf? tidak perlu meminta maaf padanya."


"Ellena!" Duke Vixtor menekan nama sang istri. "Seandainya itu terjadi pada mu? apa yang akan kamu lakukan? Aku tanya pada mu, Ellena. Apa kamu akan tinggal diam? atau justru menuntut ku. Alexsa, wanita itu justru diam."


"Duke sudah menikahinya,"

__ADS_1


"Benar, aku menikahinya tapi aku tidak melakukan tanggung jawab ku, Ellena." Selama ini, ia tidak pernah berbuat baik pada Duchess Alexsa. Setiap harinya, ia tahu hanya menyakiti dan menyakiti.


"Aku juga sakit hati,"


"Tapi sakit hati mu tidak seberapa di bandingkan dengan Alexsa. Aku masih bertanggung jawab pada mu, sedangkan pada Alexsa, aku kehilangan anak ku. Aku kehilangannya, seandainya aku tahu dari dulu. Aku sudah menikahinya jauh sebelum dia hamil. Jadi jangan memperkeruh pikiran ku," Duke Vixtor meninggalkan Ellena yang bagaikan patung Iblis. Ia semakin membenci Alexsa, tidak kepergiaannya saat kepergian Alexsa pun kehidupan pernikahannya dengan Duke tidak tenang.


"Alexsa, Alexsa dan Alexsa."


"Aku akan menemuinya, lihat saja Alexsa."


Di tempat lain.


Putra Mahkota Delix pun terlibat perdebatan dengan Baginda Kaisar atas kemarahan Marquess Ramon dan Putra Mahkota Delix pun sudah menegaskan. Bahwa Ia sudah mencintai Alexsa dan berharap Baginda Kaisar mengurungkan niatnya. Dengan berat hati, Baginda Kaisar pun mengiyakan.


"Baiklah, ayah menerima keputusan mu," ujar Baginda Kaisar.


"Baginda, maaf. Hati ku sudah memilih Alexsa, Alexsa dan Alexsa. Aku tidak bisa menikahi anak ketiga dari Marquess Ramon. Aku harap Ayah mengerti."


"Dimana nona Rose?" tanya Baginda Kaisar. Seharian ini ia tidak melihat Duchess Alexsa, keturunan bangsawan Duke Aiken itu.


"Entahlah, dia izin keluar, tapi hati ku khawatir Ayah. Malam ini aku ingin melihatnya, mungkin ada di rumah pelayan Anne. Aku sudah menanyakan pada Kesatria Ellard dan Kendrick."


"Kenapa nona Rose tidak membawa mereka?"


"Pikirannya sangat sulit di tebak Ayah."

__ADS_1


__ADS_2