
Marquess Ramon menoleh, melihat Ayne yang terus tertuju pada sepasang insan itu. Ia tahu, Ayne sangat tersakiti. Namun sebagai seorang ayah ia ingin mencegah kesakitan itu agar tidak terlalu dalam.
"Maafkan ayah Ayne, ini demi kebaikan mu."
Marquess Ramon kembali melanjutkan perbincangannya.
Sedangkan Ayne, seperti ada bisikan yang mengatakan padanya untuk mendekat dan kakinya pun melangkah ke arah Duchess Alexsa dan Putra Mahkota Delix.
Ayne memberikan hormat pada Putra Mahkota Delix dan Putri Mahkota. Giginya bergesekan, ia sangat sakit hati. Seharusnya gelar Putri Mahkota adalah miliknya bukan milik wanita yang baru saja datang.
"Selamat atas pertunangan Putra Mahkota," ujar Ayne dengan senyum yang di paksakan. "Dan.. Putri Mahkota."
Sejujurnya, Alexsa merasa iba, tapi ia ingat petuah dari sang ibu. Lebih baik di cintai dari pada mencintai jika ujungnya akhirnya bertepuk sebelah tangan. "Maaf, aku menyakiti mu."
Mata Ayne mengembang, mulai sejak kecil dia mengagumi Putra Mahkota. Sikapnya yang dingin itu membuatnya tertarik.
__ADS_1
"Maafkan aku, atas semua salahku."
Ayne tersenyum, "Ini bukan salah Putri Mahkota, mungkin ini takdirnya."
Sesuai dengan perkiraannya, ia ingin Ayne merasakan sakit hati. Niatnya hanya ingin memanasi bukan menikah, sepertinya ia makan dengan ucapannya sendiri.
"Saya permisi." Ayne memberikan hormat dan langsung pergi. Sejak tadi dia menjadi pusat perhatian, banyak ejekan dan beberapa yang iba. Semua orang tahu, bahwa Ayne akan di pertunangkan dengan Putra Mahkota Delix.
"Aku merasa kasihan padanya." Gumam Alexsa,
"Ya,,, cinta memang buta, tapi cinta tak membutakan. Semoga saja dia tahu mana yang salah dan benar, aku takut dia akan melakukan sebuah kesalahan."
Putra Mahkota Delix menangkap perkataan Alexsa. "Apa kamu merasa dia akan melakukan sesuatu?"
"Bisa jadi iya, bisa jadi tidak."
__ADS_1
Marquess Ramon muncul di samping Alexsa saat keduanya tengah memandang Ayne yang sudah menghilang dari pintu utama.
"Selamat atas pertunangan Putra Mahkota dan Putri Mahkota," ucap Marquess Ramon, dia senang, Alexsa sudah ada yang menjaga. Ternyata kasih sayang Baginda Kaisar sangat besar, dia tidak tanggung-tanggung setelah di pertunangkan ternyata mengangkatnya menjadi Putri Mahkota.
"Kamu harus bahagia."
Alexsa acuh tak acuh. Kemudian mengangguk sekilas. Marquess Ramon memohon undur diri, ia keluar dan mencari sosok wanita yang tidak hadir di acara pertunangan Duchess Alexsa. "Kemana dia?" Gumam Marquess Ramon. Dia terus melangkah dan pada akhirnya tidak menemukan apa pun. Ingin bertanya pada Alexsa, ia merasa malu. Alexsa pasti tidak akan menjawab pertanyaannya.
Pertemuannya dengan Alice atau Alona membuatnya selalu ingin melihat wanita itu. "Apa dia tidak hadir?" Gumamnya pelan. Tidak putus asa, dia menanyakan pada seorang pelayan dan pelayan itu menjawab, Nyonya Alona masih ada di istana.
Secercah senyuman pun muncul di bibirnya, ia merasa masih ada kesempatan. Hanya tinggal mencari keberadaannya. "Ah, kenapa aku tidak menanyakan di mana keberadaannya? istana yang luas ini, mana bisa aku menemukannya dengan cepat."
Marquess Ramon terkekeh sendiri, ia menyadari kebodohannya. Kemudian melangkah diiringi senyuman yang terus mengembang.
"Dimana dia? aku tidak menemukannya."
__ADS_1
Marquess Ramon terus melangkah, hingga ia mendengarkan sebuah percakapan.