Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Aku Merindukan Mu


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang sunyi dan redup, satu cahaya lilin sebagai penerangan ruangan itu. Seorang laki-laki tengah menatap lilin yang bergoyang karena hembusan angin itu. Ia kesal, karena tak kunjung menemukan Duchess Alexsa. Beberapa kali ia mengunjungi rumah pelayan Anne karena ketidak percayaannya pada sang kesatria yang mengawasi rumah pelayan Anne tanpa ada kabar satu pun tentang kabar Duchess Alexsa. "Dimana dia?"


Ia mencoba menenangkan pikirannya, mengenyahkan wajah Alexsa yang sering memutari pikirannya.


"Duke," Ellena melingkarkan pelukan ke perut Duke Vixtor. Dia memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya ke punggung Duke Vixtor. Hingga kedua telinganya mendengarkan detakan jantung Duke Vixtor.


Ia tersenyum, kedua tangannya dengan lihai mengelus otot perut Duke Vixtor membuat sang empu memejamkan matanya. Namin dengan cepat kedua matanya terbuka kembali, ia melihat Duchess Alexsa yang menangis. Segera ia melepaskan tangan istrinya.


"Ellena, aku lelah."


Duke Vixtor menggelengkan kepalanya, seakan ia sangat lelah dan pekerjaannya yang menumpuk. Padahal, dia betah di ruang kerjanya karena memikirkan wanita yang sedang bersama seorang laki-laki dan mereka hilang tanpa jejak. Membuatnya tak bisa fokus pada pekerjaannya dan membiarkan dokumen itu menumpuk.


"Lelah?" merasa aneh, Ellena mengutarakan isi hatinya. "Lelah kenapa Duke? jangan bilang Duke menghindari ku? tahukan Duke, bahwa semua bangsawan membicarakan hubungan kita. Katanya aku orang ketiga, katanya aku wanita rendahan."


Ellena menghapus air di sudut matanya. "Aku malu, Duke."


Duke Vixtor meremas rambutnya, ia langsung memeluk Ellena. "Sudahlah, jangan pikirkan yang lainnya. Aku dan Alexsa sudah berpisah, jadi jangan pedulikan perkataan yang lain."


"Benar, tapi sangat sakit di tuduh seperti itu. Padahal aku tidak merebut siapa pun, Alexsa lah yang datang dan merebut mu. O iya, tentang Alexsa yang bersama dengan pria misterius itu juga menjadi perbincangan hangat."


"Katanya, Alexsa sudah menemukan kebahagiannya," lirih Ellena. Dia sengaja ingin memanasi Duke Vixtor. "Sepertinya Alexsa memang sudah bahagia dan tidak membutuhkan Duke lagi."


"Pantas jika dia tidak membutuhkan ku, karena sudah menemukan pujaan hatinya." Duke Vixtor mengepalkan kedua tangannya. "Sudahlah, kita beristirahat saja. Aku lelah,"

__ADS_1


Duke Vixtor melepaskan tubuh sang istri, dia langsung beralih ke arah ranjang. Menutupi tubuhnya dan memejamkan matanya.


Aku tahu, Alexsa mengusik mu. Pikiran mu kacau saat mengetahui kebenaran itu. Seandainya kebenaran itu terungkap. Kamu tidak akan memikirkannya.


Ellena melangkah, dia tersenyum mendapati suaminya telah tidur. Ia menarik selimut itu kemudian menyusul lelap sang suami. Memeluknya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Duke Vixtor.


Salah satu mata Duke Vixtor terbuka, ia heran pada dirinya. Bisa-bisanya dia menolak Ellena, biasanya saat Ellena menggodanya, ia akan datang dan ikut terbuai dengan permainan Ellena.


Ada apa dengannya? pikirannya hanya tertuju satu orang, mungkin karena rasa bersalah yang semakin menumpuk. Ia mengabaikan Ellena.


Dia bergeser, memindahkan kepala Ellena ke bantal yang berada di sampingnya, dia turun dan kembali mengubah pakaiannya. Malam ini ia akan kembali ke rumah pelayan Anne. Hatinya berkata, malam ini dia akan menemui pelayan Anne.


Dan benar saja, kedatangannya tidak sia-sia. Dia melihat seorang wanita memakai gaun berwarna ungu dan berjalan suka ria. Entahlah, apa yang di lantunkan oleh mulutnya. Lagu aneh, namun ia merasa lagu itu mewakili hatinya yang sedang senang.


Duke Vixtor melangkah, kemudian seorang kesatria menghampirinya. "Tuan," Duke Vixtor tak menggubris, dia melanjutkan langkahnya dan ingin membuka pintu. Tetapi, mendengar suara Duchess Alexsa, tangannya berhenti,


"Anne, kamu tahu. Aku senang."


"Kamu tahu, ibu ku. Ibu ku telah kembali dan aku bertemu dengannya."


"Benarkah?" tanya pelayan Anne tak percaya. "Nyonya Alice."


"Iya, tapi sebenarnya, nama itu bukan nama asli ibu ku. Emm, nanti kamu juga akan tahu sendiri," ucap Alexsa tersenyum.

__ADS_1


brak


Alexsa terkejut, pintu kediaman tiba-tiba terbuka dan melihat siapa yang datang. Laki-laki itu melangkah, mendekatinya dan memandanganya.


Pelayan Anne berbisik. "Nyonya, tuan sering datang kesini. Bahkan satu hari bisa lima kali atau enam kali. Tuan menanyakan Nyonya terus."


"Alexsa." Duke Vixtor memandang Duchess Alexsa dengan tatapan rindu. Ia langsung memeluk wanita di hadapannya.


Hah


Otak Duchess Alexsa seakan berputar, ia bingung dengan sikap yang di tujukan oleh Duke Vixtor. Ia sudah menyelesaikan hubungannya, tapi kenapa laki-laki itu masih mendatanginya?


"Apa mau Duke?" tanya Duchess Alexsa. Kedua tangannya mendorong tubuh Duke Vixtor dengan kuat.


"Alexsa, aku... Aku merindukan mu." Jika Alexsa yang dulu mendengarkannya, sudah pasti senang, tapi tidak untuknya. Dia bukan Alexsa dan ingin mencari kebahagiaan Alexsa begitu juga dengan dirinya.


"Maksud mu apa? hah!"


"Alexsa, aku mencari mu."


"Untuk apa? kita tidak memiliki hubungan apa pun. Kita sudah End.." Alexsa menggunakan kedua tangannya sebagai kode bahwa dirinya dan Duke Vixtor telah usai.


"Aku ingin, aku ingin kita kembali."

__ADS_1


Apa dunia sudah terbalik? laki-laki di hadapannya mengatakan ingin kembali setelah membuangnya. "Jangan bercanda Duke, aku tidak ingin di kecam sebagai wanita perusak rumah tangga mu."


__ADS_2