Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Ejekan demi Ejekan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Meluapkan kekesalannya, Marchioness Mery menghabiskan waktunya dengan berbelanja dengan Ayne. Kedua wanita itu mengalihkan kemarahannya dengan menyibukkan dirinya.


"Bukankah itu nona Ayne?" tanya seorang wanita bangsawan. Dia menutup wajahnya dengan separuh kipas bercorak bunga tulip berwarna putih.


"Benar, dia masih punya muka untuk keluar. Di tolak, oleh Putra Mahkota Delix dan memilih saudaranya sendiri." timpal bangsawan di sampingnya.


Kedua wanita bangsawan itu memperhatikan Ayne dan Marchioness Mery yang sedang melihat gaun.


Sedangkan Ayne, dia melirik sekilas dan paham kalau dirinya dan ibunya menjadi bahan perbincangan. Namun ia tidak peduli, dia anak dari seorang Marquess tidak akan berani ada yang macam-macam dengannya.


"Kasihan sekali, tapi kalau di lihat. Nona Alexsa lebih cantik dari pada nona Ayne."


"Panteslah, ibunya Nyonya Alona Wichilia. Putri dari Duke Aiken. Ayahnya saja tampan, putrinya mempesona, cucunya sangat menggoda."


"Benar, bangsawan Duke Aiken itu terkenal ramah, baik hati, semua keluarganya seperti itu, tidak sombong seperti yang kita lihat ini."


Ayne meremas gaun berwarna biru yang terpajang di hadapannya. Telinganya mulai keluar asap mendengarkan mulut manis kedua wanita yang tak jauh darinya.


Karena tidak tahan, kakinya langsung melangkah ke arah dua wanita itu. "Apa maksud kalian membicarakan ku dan ibu ku?" tegasnya.

__ADS_1


Kedua bangsawan itu saling melirik dan melengos. Mereka tidak takut lagi, sekarang bukan satu-satunya kedua wanita ini sombong. Masih ada wanita di atas wanita di hadapannya ini, Bangsawan Duke Aiken. Mereka yakin, kalau Duke Aiken sudah bangkit, maka jelas bangsawan Marquess akan memiliki saingan.


"Apa salah kami? kami berbicara fakta dan nyata." ucap Viscountess Mely.


"Benar, kita berbicara kisah nyata." Sahut sahabatnya. Wanita berbaju kuning itu tersenyum penuh ejekan.


Ayne semakin meredang, Marchioness Mery menghampirinya. "Apa maksud mu, hah?! kami tidak memiliki masalah pada kalian."


Viscountess Mely semakin kesal, dia masih ingat penghinaan Marchioness Mery di pesta teh itu. Wanita di hadapannya dengan sombongnya mengejeknya di hadapan semua orang.


"Oh iya, saya ingat. Tuan Marquess ingin membawa Nyonya Alona."


"Jangan sombong Marchoiness Mery,, mungkin sekarang Tuan Marquess sudah berfikir ribuan kalian. Kamu tahu kan, ada sebuah penyesalan dan melihat Nyonya Alona yang sangat cantik, bisa saja Tuan Marquess sudah jatuh hati sama seperti Putra Mahkota yang jatuh hati pada Putri Mahkota Alexsa."


Dada Ayne naik turun, tangannya mengepal kuat dan ingin mencekik wanita di hadapannya. Mengungkit Putra Mahkota Delix sama saja mengungkit luka bakar di hatinya.


Kedua wanita itu tertawa, tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang menghampirinya. "Tapi tidak seperti Alexsa yang sudah hamil sebelum menikah," sanggahnya.


Kedua wanita bangsawan dan Marchioness Mery serta Ayne menoleh.


"Nona Alexsa memang menjadi tunangan dari Putra Mahkota, tapi sayang, statusnya tidak akan bisa menghapusnya."

__ADS_1


Kedua bangsawan itu terkekeh kecil, keduanya merasa lucu dengan Ellena yang mengatakan seperti itu. Apa bedanya dengan dirinya yang memiliki anak sebelum menikah.


"Maaf Nyonya Ellena, sepertinya anda salah ingat. Setahu saya, saat anda datang ke kediaman Marquess, anda sudah membawa anak."


"Tapi saya di cintai," sanggah Ellena dengan cepat.


"Apa anda tidak mendengarkan kabar? sepertinya tidak, bahwa Duke Vixtor beberapa kali menemui Nona Alexsa di istana."


Kedua bangsawan itu kembali terkekeh, apa lagi melihat wajah Ellena yang awalnya menampakkan wajah mengejek dan sekarang remuk redam. Wajahnya seakan tak terlihat lagi.


Kedua bangsawan itu pergi setelah memberikan beberapa tanggapan yang membuat darah ketiga wanita itu mendidih. Sedangkan Marchioness Merry, Ayne dan Ellena keluar dari toko itu setelah kedua bangsawan yang mengejeknya keluar beberapa saat.


"Kenapa harus Alexsa?" Ayne berucap dengan nada kemarahan.


"Benar, kehidupan ku tidak lepas dari Alexsa," ujar Marchioness Mery.


"Aku kira, setelah kepergian wanita itu. Hidup ku akan nyaman," ujar Ellena.


Ketiga wanita itu ingin sekali mencekik Alexsa, namun tidak sampai.


"Bagaimana kalau aku membantu kalian?" seseorang berjubah hitam muncul. Kedua matanya hitam, perlahan ia mendongak dan membuka jubah penutup kepalanya itu. Sontak ketiganya syok dan memundurkan beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2