
"Ada apa Duke?" tanya seorang wanita. Ia melangkah dengan begitu elegan.
Duke Vixtor terkesima, wajah Alexsa di poles sederhana dan rambut yang terurai dengan balutan gaun berwarna hijau.
"Alexsa..."
Ehem
Kedua mata itu langsung berkedip. Setelah beberapa hari tidak bertemu dengan Alexsa. Wanita itu seakan berubah total. "Masalah, tentang bros itu."
"Oh, bukankah Duke Vixtor sudah tahu. Aku rasa tidak ada yang perlu di bahas lagi."
"Alexsa, bukan begitu. Aku-aku minta maaf."
"Maaf mu sudah aku terima Duke," Duchess Alexsa pun beranjak. Ia sudah mengatakan pada pelayan Anne untuk keluar malam ini.
"Alexsa aku.... Anak itu,"
"Anak?" Kedua alis Duchess Alexsa terangkat. Kata anak yang keluar dari mulut Duke Vixtor bagaikan ulat yang merayap di tubuhnya dan membuatnya geli serta gatal. "Aku tidak menyangka, kata anak itu keluar dengan mudahnya."
"Kenapa kamu diam? padahal kamu sudah tahu kebenarannya," sering kali pertanyaan itu muncul dari dalam benaknya. Seorang wanita yang telah ia nodai bahkan memiliki anak. Sekalipun anaknya telah meninggal pasti akan meminta tanggung jawab. Ia heran, kebanyakan wanita seperti itu. Mencari identitasnya setelah di temukan pasti akan pertanggung jawabannya.
"Tidak butuh," dua kata singkat yang mampu membuat dada Duke Vixtor bergetar.
"Apa maksud mu?"
"Apa kamu kira aku akan mengemis? memohon atau berlutut? Maaf Duke, bagi ku harga diri ku berharga setelah kami lukai, menghina ku. Aku tidak akan memohon, sekalipun nyawa ku berada di ujung tanduk. Kamu merendahkan diri ku."
"Maaf! aku...."
"Kata maaf mu tidak akan mengubah semua fakta yang telah terjadi. Urusan kita sudah selesai dan aku tidak berharap ada pertemuan lagi."
Duchess Alexsa beranjak, ia menatap sinis Duke Vixtor dan melangkah, meninggalkan Duke Vixtor yang duduk di sofa itu.
__ADS_1
"Dia membuat ku mual."
"Nyonya, bagaimana kalau Tuan Duke datang lagi?" tanya pelayan Anne. Firasatnya mengatakan, Duke Vixtor akan kembali lagi.
"Heh, tidak akan. Kalau manusia memiliki urat malu. Dia akan berfikir dua kali melakukan sesuatu."
"Semoga saja, Nyonya."
Kedua wanita itu pun menghabiskan waktu malam, makan bersama di Restaurant, keluar masuk dari satu toko ke toko lainnya dan mencicipi manisan di pinggir jalan. Hingga seseorang tanpa sengaja menabrak tubuhnya.
"Kamu!" tunjuk wanita itu dengan kesal. Kebetulan sekali, sudah lama ia tidak melihat wajah saudara tirinya itu.
Apesnya hidup ku, tadi Anaconda sekarang ulat bulu.
"Apa?!" tanya Duchess Alexsa melotot.
"Heh, sekarang jadi sombong setelah keluar dari kediaman Duke."
"Oh iya, sekarang kamu menjadi pelayan di rumah mana?"
"Pelayan di hati seseorang loh,"
Perkataan Duchess Alexsa yang meremehkan itu membuat darahnya seakan membeku di otaknya.
"Cih, apa kamu menjadi pelayan laki-laki hidung belang."
"Maaf! sebelum anda mengejek ku. Lihat saja diri anda yang sedang ketar ketir, takut Putra Mahkota di ambil sama nona Rose. Ah iya, aku bersyukur Nona Rose membuat Putra Mahkota mencintainya dan berfikirlah sendiri."
"Apa hubungan mu dengan nona Rose?"
"Hubungan ku sangat dekat dengannya, bahkan ia sering curhat pada ku. Bahwa Putra Mahkota sering menghabiskan waktu dengannya, sering jalan keluar. Kamu tahukan, kalau wanita dan satu pria keluar malam. Mereka akan seperti ini," Duchess Alexsa memperagakan kedua jari telunjuknya menyatu.
"Diam! kamu tidak berhak mengatakannya."
__ADS_1
Duchess Alexsa menabrak bahu Ayne dan berkata. "Hati-hati, Putra Mahkota lebih perhatian pada nona Rose."
Argh
"Awas saja kamu Alexsa, aku akan membuktikan. Putra Mahkota milik ku, ya hanya milik ku. Sekalipun itu nona Rose,"
"Anne, aku kebetulan bertemu dengan mereka berdua. Lalu kapan aku bertemu dengan Ellena?" tanya Alexsa. Ia sangat berharap bertemu dengan Ellena dan mencari gara-gara dengannya.
"Apa Nyonya sangat ingin bertemu dengan Nyonya Ellena?"
"Tentu saja, kapan lagi aku bisa mencari gara-gara dengannya," ujar Duchess Alexsa. Kedua kakinya terus melangkah, hingga telinganya mendengarkan seseorang menyebut nama Ellena, walaupun kata itu membuat telinganya sakit berdenyut.
"Nyonya Ellena semakin cantik saja."
Duchess Alexsa mendekat, dia memasang telinga lebar-lebar.
"Ah, iya tentu saja."
"Dimana tuan Duke? kenapa tidak menemani Nyonya?" tanya seorang wanita memakai gaun merah. Di lihat dari gaunnya yang sangat mencolok, sudah pasti seorang bangsawan.
"Dia sedang sibuk, maklumlah banyak urusannya."
"Apa tuan Duke tidak pernah melihat Nyonya Alexsa?"
"Untuk apa melihatnya, wanita seperti itu. Anda tahu sendirikan, Tuan tidak mencintainya dan hanya saja yang di cintainya," ujar Ellena, ia begitu bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil merebut Duke Vixtor dan membuatnya menendang Duchess Alexsa. Hanya tinggal menunggu waktu, ia akan di angkat menjadi Duchess.
"Sekarang giliran mu Anne,"
"Saya tahu apa yang harus saya lakukan," ujar pelayan Anne. Di mendekati kedua wanita yang masih bercakap itu.
Aku tunggu kejutan selanjutnya
Duchess Alexsa menjauh, ia akan melihat tontonan selanjutnya.
__ADS_1