Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Menenangkan


__ADS_3

Kedua wanita itu saling tatap. Ada rasa bahagia dan sedih. Bahagia karena telah bersama dan sedih karena telah melewati banyak waktu perpisahan.


Tangan kanan itu, membelai pipi kiri Duchess Alexsa, lembut dan hangat. Sangat nyaman untuk di sentuh. Waktu telah berlalu, dia meninggalkan banyak hal, membiarkan Alexsa tumbuh dengan sendirinya. "Maafkan Ibu, apa yang telah Ibu perbuat tidak bisa menggantikan semua penderitaan mu." Kedua tangan yang gemetar itu menggenggam tangan Duchess Alexsa. "Ibu sangat menyesal, tapi Ibu tidak punya pilihan lain. Ibu minta maaf,"


Benar, banyak yang telah di lalui, bukan kebahagiaan tapi sebuah penderitaan. Banyak hal yang menyakitkan, sangat banyak. Hingga ia mengingatnya pun menyakiti hatinya. "Alexsa sudah memaafkan Ibu. Mungkin ini sudah takdir, Bu."


"Alexsa...."


"..."


Alona Wichilia memeluk tubuh Alexsa dengan erat, mencium beberapa kali pipinya. Pertumbuhan putrinya telah ia lewati begitu saja. Ia sebagai seorang Ibu, tidak bisa di katakan seorang ibu.


Hatinya begitu teriris setiap mengingat momen sebelum meninggalkan Alexsanya.


"Nona Rose, Putra Mahkota Delix ingin bertemu dengan Nona."


"Apa Putra Mahkota menyukai mu, Alexsa?" tanya Alona Wichilia. Dia sebagai Ibu merasakan kedekatan putrinya dengan Putra Mahkota.


Duchess Alexsa terkekeh, semua orang menganggapnya memiliki hubungan, tapi mereka hanya berteman, sebatas berteman. "Tidak, Bu."


"Masuklah."


Putra Mahkota Delix pun masuk, ia tidak bisa sembarangan memasuki kamar Alexsa apa lagi setelah mendengar kabar bahwa Ibu dari Alexsa telah datang.


Kedua wanita itu memberikan hormat. Putra Mahkota Delix menatap ibu dari Alexsa. Jantungnya berdegup kencang,.seakan hidupnya tak akan lama lagi. Berhadapan dengan ibu Alexsa, lebih baik ia berhadapan dengan beberapa prajurit di medan perang.

__ADS_1


Aku gugup sekali


"Putra Mahkota, silahkan duduk."


Putra Mahkota Delix ambil tempat, dia duduk di sofa tunggal. "Emm, itu... "


"Bagaimana keadaan mu, Putra Mahkota? maaf, saya tidak datang menjenguk mu tadi. Karena bahagia, saya melupakan terima kasih saya pada Putra Mahkota."


"Tidak, tidak sama sekali." Tanggapnya dengan cepat. "Saya datang kesini untuk berterima kasih karena telah datang dan menemui Alexsa."


Alona Wichilia dan Duchess Alexsa tercengang, Putra Mahkota malah berterima kasih. Padahal kedatangannya tidak ada sangkut pautnya dengan Putra Mahkota Delix. "Kenapa harus berterima kasih?"


"Berterima Kasih karena telah membuat Alexsa bahagia."


Duchess Alexsa tersenyum, laki-laki di hadapannya memang dingin dan sedikit arogan, tapi saat bersamanya, dia sangat hangat.


"Sudah seharusnya saya menggantikan air mata Alexsa menjadi sebuah kebahagiaan, termasuk bersama mu." ujar Alona Wichilia tentunya kalimat terakhir ia ucapkan dalam hati. "Bagaimana dengan luka Putra Mahkota?"


"Lukanya sudah kering Nyonya."


"Alexsa, kamu harus baik-baik merawat Putra Mahkota. Dia begini juga karena kamu, manusia iblis itu mengincar mu dan melukai Putra Mahkota."


"Nyonya, jangan berbicara seperti itu. Nyonya Alexsa tidak bersalah," ujar Putra Mahkota Delix menyangkal. Dia terluka karena keteledorannya sendiri.


"Ibu, Alexsa tidak bisa merawatnya. Alexsa bukan dokter, sudah ada dokter istana yang akan merawatnya."

__ADS_1


"Tapi kan kamu juga harus ikut andil Alexsa," bujuk Alona Wichilia.


"Iya benar Alexsa, kamu kan memiliki ramuan. Jadi bisa saja, kalau luka ku terbuka lagi. Aku bisa meminta bantuan mu."


Perkataan yang konyol


"Sudah, ibu pergi dulu. Kamu rawat baik-baik Putra Mahkota."


Alona Wichilia memberikan hormat, kemudian meninggalkan mereka berdua.


Putra Mahkota Delix dan Duchess Alexsa pun memilih keluar, keduanya berjalan santai melihat berbagai macam bunga yang bermekaran dan air mancur yang terus mengalir. Duchess Alexsa mengagumi taman istana, luas dan indah.


"Alexsa, bagaimana perasaan mu?"


"Antara baik dan tidak, jujur saja. Saat Ibu ku mengatakan masuk ke dalam kediaman Marquess karena hanya demi obat, aku merasa malu. Saat itu, bagaimana perasaan Marchioness Mery dan kedua anaknya. Aku membayangkan, semua hal yang di lakukan ibu terjadi pada ku dan saat ibu mengatakan alasannya, entahlah. Aku bingung menanggapi perasaan ku." Tutur Alexsa. Penuturan sang ibu memang membuat perasaannya campur aduk tak karuan.


Putra Mahkota Delix mengangguk, tidak mudah bagi seseorang berada di posisi Alexsa. Dia menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan memutar tubuh Alexsa menghadapnya. Kedua tangannya memegangi bahu Alexsa dan menatap kedua maniknya. "Ambil sisi positifnya, ibu mu melakukan semua ini mengorbankan kebahagiaanya sendiri. Dia rela menjadi seseorang yang di benci demi ayahnya dan juga demi melindungi mu."


"Apa pun yang mengusik pikiran mu, katakan. Jangan sungkan, selama aku bisa, aku akan membantu mu dan jika aku tidak bisa, maka aku akan berusaha untuk menjadi bisa."


"Nona Rose," seorang pelayan datang dan menunduk malu, wajahnya memerah dan membayangkan Putra Mahkota mencium Duchess Alexsa.


"Ada apa?" tanya Duchess Alexsa dengan gugup.


"Di luar ada Tuan Marquess yang menunggu kedatangan Nona Rose."

__ADS_1


"Hah, apa dia tidak bosan datang kesini tanpa mengenal menit," kesalnya.


__ADS_2