Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Aku Bukan Boneka Mu


__ADS_3

"Apa maksud mu menampar kepala Pelayan?" Bentak Duke Vixtor menatap tajam.


"Apa ketua pelayan di suruh oleh Duke?" tanya balik Duchess Alexsa. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Duke Vixtor dan ingin meluapkan kemarahannya.


"Aku bertanya pada mu, kamu malah.."


"Iya atau Tidak!" Duchess Alexsa memotong perkataan Duke Vixtor yang membuatnya naik pitam. Ia tidak suka ada yang melawannya, ia menyukai Ellena karena wanita itu selalu menurut padanya.


"Apa Duke juga menitipkan bahwa yang di katakan oleh ketua Pelayan aku, Alexsa." Ia menunjuk pada dadanya. "Seorang anak dari wanita liar." Sejelek-jeleknya seorang ibu, saat seorang ibu di hina. Sangat sakit, bahkan sakitnya bertubi-tubi.


"Seandainya Ibu Duke yang di hina seperti itu, bagaimana perasaan Duke?"


Duk Vixtor diam, tentu dia tidak akan terima ada orang yang menghina ibunya.


"Tidak terima, bukan. Sama halnya diriku."

__ADS_1


"Duchess, kamu tidak berhak mengatakan seperti itu pada Duke!" Ellena menimpali, ia tidak suka ada orang yang melawan suaminya itu.


"Diam! seandainya kamu..."


"Turunkan tangan mu!" Bentak Duke Vixtor. Ia tidak mengijinkan siapapun mengangkat tangan pada kekasihnya.


Duchess Alexsa menurunkan tangannya. Hari ini di permalukan di hadapan ketua pelayan dan selir suaminya itu. "Dan begitu pun kamu Duke, seharusnya kamu bisa mendidik Ketua pelayan dengan benar. Memalukan!" Duchess Alexsa pun pergi, ia butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya.


"Siapa yang menyuruh mu pergi?" Perkataan Duke Vixtor membuat Duchess Alexsa menghentikan langkahnya.


"Ini kaki ku, bukan kaki mu, dan perlu kamu ingat Duke, aku Alexsa, tidak sepatuh itu. Aku bukan istri mu yang lain, yang menurut pada mu dan menjadi boneka mu."


"Bukan, hati ku dan tubuh ku bukan milik mu dan bukan milik siapa pun. Diriku hanya diriku dan aku yang menentukan hidup ku. Apa kamu kira aku senang menikah dengan mu? lebih baik aku hidup di luar sana, hidup kesusahan, dari pada harus hidup bersama orang yang...." Duchess Alexsa terkekeh. "Pikirkan sendiri, jangan memikirkan baiknya dirimu, tapi pikirkan buruknya dirimu." Duchess Alexsa sangat membenci Duke Vixtor. Laki-laki itu tidak memiliki perasaan kasihan padanya. Istrinya terbaring lemah dan koma, malah suaminya melanjutkan acara pernikahannya. Dimana letak hatinya, ya hatinya memang terbuat dari batu. Tidak ada bandingannya dengan hati seorang monster.


Duke Vixtor mengepalkan kedua tangannya. Baru kali ini ada yang berani padanya. Bahkan mengungkit keburukannya.

__ADS_1


"Duke, jangan di ambil hati." Elusan lembut di lengannya mampu meredakan amarahnya. "Benar, sebaiknya kita lanjutkan ke kamar mu. Putri kita pasti lelah,"


Duke Vixtor pun melanjutkan langkahnya, meskipun amarahnya masih belum sepenuhnya mereda.


Duke Vixtor mengambil bayi itu, menaruhnya di ranjang bayi. Mengayunkan keranjang itu, perlahan putri kecilnya memejamkan matanya.


Brak


Pelayan yang berkerja di dapur itu, seketika terkejut. Mereka saling menatap penuh tanda tanya. Duchess Alexsa menatap tajam mereka satu per satu dan pada akhirnya memilih mundur. Para pelayan menunduk. "Kalian, buatkan aku sup kaldu ayam yang sangat pedas dan antarkan ke halaman samping." Duchess Alexsa pun melangkah keluar. Para pelayan mengangkat wajahnya. Tatapan tadi, di ambang pintu seperti melihat seorang monster. Nafasnya seakan berhenti dalam sekejap.


"Aku tidak pernah melihat Duchess Alexsa marah."


"Aku merasa kemarahan Duchess Alexsa lebih seram dari pada Duke."


"Cepat! kita buatkan, jangan sampai Duchess kemari, ini semua gara-gara pelayan Anne yang tidak mengatakannya. Akhirnya kita kenak getahnya." Kesal salah satu pelayan.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong aku tidak pernah melihat Duchess marah,"


"Sudah-sudah, cepat buatkan. Jangan sampai Duchess lama menunggu kita."


__ADS_2