Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Bonchap


__ADS_3

"Sayang..."


"Jangan mendekat!" Alexsa memasang pembatas yang kokoh. ia merasa mual jika berdekatan dengan Putra Mahkota Delix. Bau tubuhnya, seakan meracuni perutnya.


Putra Mahkota Delix diam, semenjak pagi, istrinya tidak ingin berdekatan dengannya. kemarin hanya masalah jeruk istrinya menangis dan sekarang malah tidak ingin berdekatan dengannya. Sudah berapa kali ia mandi, lantaran Alexsa terus mengoceh tubuhnya bau.


"Sayang, aku baru saja keluar kamar mandi dan kamu mengatakan aku bau," Putra Mahkota Delix menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tubuhnya pun masih basah, bahkan rambutnya belum ia sentuh sama sekali.


"Aku memang tidak suka dengan bau di tubuh mu,"


Putra Mahkota Delix tersenyum, antara ingin mengomel pada anaknya atau dia harus bersyukur memiliki anak. "Entah apa yang terjadi kalau anaknya sudah lahir, apa dia akan menghalangi ku bersama Alexsa. Huh," Gumam Putra Mahkota Delix.


"Aku panggil Dokter saja, mungkin..."


"Kamu mau mengatakan aku bermasalah, hah."


"Oh, Tuhan....." Putra Mahkota Delix mendekat. Alexsa mengerutkan dahinya seraya menutupi hidungnya dengan tangan kanannya. "Bukan sayang, bukan begitu.... Mungkin karena kamu sedang hamil dan.."


"Apa kamu mau menyalahkan anak ku, hah?"


Ingin rasanya ia menangis, satu ucapan salah dan salah. "Bukan, bukan begitu."


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan mu. Malam ini tidur di kamar lain saja."


"Sayang.. Hey..."


Putra Mahkota Delix berdecak pinggang, ia menghembuskan nafas panasnya. "Awas, saja kalau nanti dia lahir dan merebut Alexsa."


Putra Mahkota Delix menyerah, sekarang waktunya dia berkerja. Masalah nanti malam, dia akan menggunakan segala cara untuk tidur dengan istrinya itu. Ia jadi teringat perkataan sang ibu,, orang hamil memang sensitif.


Putra Mahkota Delix keluar dengan wajah tampak lesu, di ruang kerjanya. Ia mulai berfikir, bagaimana caranya Alexsa tidak menyingkirkannya dari tempat tidur.


"Apa Putra Mahkota memiliki masalah?" tanya Kendrik. Sekarang dia menjadi Kesatria Putra Mahkota Delix dan bergantian dengan Kesatria Lainnya. Menjaga calon penerus dan Baginda Kaisar adalah tugasnya.


"Kamu panggil Dokter istana,"


"Hah," Kendrik mengangguk. Ia tidak menanyakan lebih. Karena takut sang Putra Mahkota Delix mengeluarkan taringnya.


Beberapa menit kemudian


Terlihat seorang pria datang dengan jas putih yang melekat di tubuhnya dan menggunakan kaca mata.


"Apa terjadi sesuatu pada Putri Mahkota?"

__ADS_1


"Bukan terjadi sesuatu lagi, tapi lebih sesuatu," ucap Putra Mahkota Delix menekan kata sesuatu.


Sang Dokter melirik kanan kiri, otaknya berkelana. Sesuatu, apa yang terjadi? tadi dia melihat Putri Mahkota sehat dan tidak terjadi apa pun.


"Apa kamu bisa menghilangkan?" Putra Mahkota Delix diam. Ia ingin menghilangkan penciuman Alexsa. Bagaimana caranya ia menjelaskan pada Dokter istana ini.


"Begini, aku beberapa kali mandi. Entah yang ke berapa aku tidak tahu, yang jelas istri ku mengatakan aku bau."


Kendrik manahan tawanya, perutnya seakan ingin meledak karena menahannya. Sama dengan Dokter istana, ia ingin tertawa terbahak-bahak tapi takut kena semburan api sang penerus penguasa.


"Maaf Putra Mahkota, apa yang di alami oleh Putri Mahkota kebawaan bayi."


brak


"Maksud ku, kamu harus menghilangkan bau itu."


Sepintar-pintar dirinya, mana bisa dia mengubah indra penciuman dari bayi.


"Apa ada obatnya?"


Kendrik meringis, ia menatap iba pada laki-laki di hadapannya.


"Begini, Putra Mahkota menggunakan saja parfum kesukaan Putri Mahkota. Dengan begitu, hidung Putri Mahkota tidak akan sensitif."


"Aku akan mengikuti saran mu."


Hah


Dokter itu memegang dadanya, bukan debaran cinta melainkan debaran ketakutan.


"Hari ini anda selamat Dokter." Kendrik menyela, sang Dokter langsung pergi dengan langkah kaki yang di paksakan.


Sedangkan Putra Mahkota Delix melaksanakan ucapan sang Dokter. Mandi, kemudian menyemprotkan parfum sang istri ke seluruh tubuhnya.


Dia pun tersenyum, mengusap pipi kanannya, memandang rambutnya yang sudah rapi serta tubuhnya kembali dengan setelan pakaian resmi istana.


Para pelayan terkekeh geli melihat panampakan di hadapannya. Putra Mahkota Delix memancarkan senyumannya, tanpa ia ketahui bahwa wangi tubuhnya di buat bahan tertawaan.


"Sayang."


"Oh, akhirnya aku menemukan mu. Coba kamu cium aku, aku wangi kan."


Alexsa memandang laki-laki di hadapannya dari bawah ke atas. Hidungnya pun mendengus sesuatu, ia justru mengenali aroma parfum itu.

__ADS_1


"Wangi ini, kamu dapatkan dari mana?"


"Tentu saja, aku menggunakan parfum mu. Bagaiman, kamu tidak mual lagi."


"Jangan bilang kamu menghabiskan semuanya?"


"Tidak, aku hanya menggunakan sedikit. Mana mungkin aku menghabiskan semuanya," ucap Putra Mahkota Delix. Otaknya mengingat sesuatu, tanpa ia sadar satu botol parfum itu ia gunakan dan membuang botolnya ke tempat sampah.


Alexsa menatap curiga, ia merasa firasatnya akan terjadi sesuatu.


Hemm


Di tempat lain...


Keluarga Marquess Ramon tengah panik. Mereka memanggilkan seorang Dokter. Sang Dokter pun memeriksa pasien di hadapannya. Serta kedua kakinya yang terasa berat untuk berjalan.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Marquess Ramon. Meskipun kedua sering berdebat dan bertengkar. Namun sosok seorang ayah pada putrinya tidak akan pernah hilang.


Dokter itu menunduk, dan seperti mengetahui sesuatu. Marquess Ramon diam.


"Coba minta obat pada Nyonya Aluna dan Putri Mahkota, mungkin Tuan Marquess akan mendapatkan obatnya."


Ada rasa malu di hatinya, namun demi kesembuhan sang putri ia harus melakukannya. Lagi pula Aluna Wichilia dan dirinya tidak terlibat lagi masalah hubungan.


"Apa meminta obat padanya?" Marchioness Mery menyela. Keadaan sang putri mengkhawatirkan dan ia mencari sang Dokter yang berbicara berdua dengan Marquess Ramon.


"Demi Ayne, setidaknya kamu merendahkan harga dirimu, Mery."


"Aku akan katakan pada Ayne, kita lihat. Dia setuju atau tidak."


Marchioness Mery berlalu pergi menuju kamar Ayne.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan pada mu." Marchioness Mery mengelus kepala sang putri yang di lilit oleh perban. Andai saja dia tidak membawa sang putri keluar dan tidak akan terjadi kecelakaan. Kuda itu mengamuk dan berlari ke bukit, hingga membuat Ayne dan dirinya mengalami kecelakaan. Untungnya Ayne masih bisa di selamatkan karena memegang sebuah pohon sedangkan dirinya berhasil melompat dan malah terbentur ke pohon.


"Apa kamu ingin meminta obat pada Alexsa atau Alona? Dokter menyarankannya meminta obat pada mereka."


"Cih, aku tidak sudi. Lebih baik aku tidak bisa jalan dari pada harus mengemis pada mereka." Tegas Ayne.


"Ayne, apa kamu belum puas? hah, ini demi kesembuhan mu."


"Aku tidak mau, Ayah. Bela saja putri kesayangan mu."


Marquess Ramon menatap dingin, selalu saja. Ayne dan dirinya bertengkar. Ayne selalu melakukan seribu cara untuk mencelakai Alexsa. Namun usahanya sering gagal karena dirinya cepat tanggap dan memasang seorang pelayan mata-mata untuk menjaga Alexsa.

__ADS_1


"Baiklah, itu mau mu."


__ADS_2