Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
Harapan Seorang Ayah.


__ADS_3

"Kenapa kamu berbohong?" tanya Marquess Ramon dan nada suara yang bergetar. Semenjak kapan putrinya memiliki kekuatan itu, Alexsa yang ia kira lemah, lugu dan polos. Kini menjelma menjadi bunga mawar merah yang harum namun berduri. Tidak mudah di sentuh oleh orang, Alexsa selalu bersikap lemah, dia diam saat semua orang memperlakukannya tidak adil.


"Tidak ada alasan dan tidak ada penjelasan. Aku rasa, setiap nafas yang aku tarik dan hembuskan. Aku tidak perlu melaporkannya pada mu, anggap saja seperti biasa." Bukan apa-apa ia mengatakan itu, ia sudah biasa di perlakukan tidak baik oleh keluarganya dan tidak mengharapkan apa pun.


"Alexsa, kamu ingin bertemu dengan ibu mu, kan. Bagaimana kalau aku ikut membantu mu?" Marquess Ramon mencoba membujuk dan berbicara ke arah lain. Namun ujung pembicaraannya ingin membuat Alexsa kembali kekediaman Marquess.


Duchess Alexsa memandang remeh sang ayach, dulu ayahnya sangat mengabaikannya, menganggapnya telah mati. "Jangan ikut campur urusan ku, sama seperti dulu. Anggap saja Alexsa telah mati setelah keluar dari kediaman Duke."


"Alexsa..."


Duchess Alexsa memutar tubuhnya, melihat ke luar jendela. "Kamu tidak perlu khawatir tentang ku, aku sudah terbiasa.*


Kalimat yang menancap membuat air mata Marquess Ramon menggenang. "Pulanglah, aku berjanji akan menjadi ayah yang baik."


"Kenapa?" Duchess Alexsa berbalik. "Kenapa baru sekarang anda ingin menjadi seorang ayah? dari dulu anda kemana? hah! kemana saat aku membutuhkan sosok seorang ayah dan sosok seorang ibu? seharusnya andalah yang menjadi ibu dan ayah bagi ku."


"Alexsa, aku minta maaf. Mungkin maaf ini tidak bisa mengubah di masa lalu, tapi aku jujur, aku ingin menjadi seorang ayah. Jangan berbicara seperti orang asing Alexsa, aku ayah mu."


"Ayah? dunia akan menertawakan ku." Duchess Alexsa menarik nafasnya dalam-dalam. Mengingat semua kenangan buruknya Alexsa yang dulu, ia bukanlah Alexsa. Ia hanya jiwa asing yang menempati tubuhnya.


"Anda tidak perlu melakukan kewajiban seorang ayah. Aku katakan sekali lagi, Alexsa yang dulu telah pergi."

__ADS_1


Duchess Alexsa melangkah, namun lengannya di tahan oleh Marquess Ramon. "Alexsa..."


"Apa karena aku keturunan dari Duke Aiken? atau karena aku memiliki kekuatan seperti dirimu?"


Marquess Ramon menggeleng, bukan karena itu ia berubah. Hatinya bergetar setelah Alexsa mengangkat wajahnya saat berada di kediaman Duke.


"Lepaskan putri mu, Alexsa."


"Tidak! sampai kapan pun darah ku mengalir dalam tubuh mu."


Duchess Alexsa diam, namun sorot kedua matanya mengartikan sebuah kebencian. Ia mengeluarkan kekuatan tanamannya dan menandakan sebuah perlawanan.


"Alexsa..."


Pintu di belakangnya yang hanya berjarak beberapa langkah saja tertutup rapat, menyisakan dirinya di ruangan itu. Tangannya mengarah pada sebuah guci, tanaman itu keluar kembali dari lantai marmer itu dan menancap pada guci itu hingga membuat guci itu hancur. Tak hanya itu, ia kembali meluapkan amarahnya dan menghancurkan beberapa vas bunga.


Sedangkan Marquess Ramon tak sengaja berpapasan dengan Putra Mahkota Delix. Tadi ada seorang pelayan yang melaporkan kedatangan Marquess Ramon menemui Duchess Alexsa.


Apa Putra Mahkota sudah mengetahui identitas nona Rose. Tunggu, dia pernah mengatakan Ale...


"Putra Mahkota, apa kita bisa berbicara berdua?"

__ADS_1


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku ingin menemui nona Rose."


Marquess Ramon mengikuti langkah Putra Mahkota Delix di tanam dekat air mancur.


"Katakan!"


"Apa Putra Mahkota sudah tahu identitas nona Rose yang tak lain Alexsa?"


Putra Mahkota Delix terkejut, namun ia yakin Duchess Alexsa pasti sudah mengungkapkan identitasnya. "Apa sekarang anda menyesal setelah mengetahui identitasnya?"


"Aku harap anda tidak menyesal dan jangan berharap memintanya kembali atau memaksanya."


"Saya tidak menyesal, apa Putra Mahkota benar-benar menginginkan putri ku."


Berkata tentang putri membuat kening Putra Mahkota Delix berkerut. "Iya, besok Baginda akan mengirimkan surat pada kediaman Marquess."


Putra Mahkota Delix melewati tubuh Marquess Ramon yang panas dingin, panas karena penolakan sang anak. Dingin karena perkataan sang anak bagaikan pedang es yang menancap di hatinya.


Tangan Marquess Ramon meremas pinggir pagar pembatas kolam air mancur itu. Hatinya sangat hancur merasakan sebuah penolakan. "Oh, Tuhan.."


#Kalau ceritanya cocok, jangan lupa tekan like dan Favorite😊

__ADS_1


__ADS_2