Hurt! Mommy

Hurt! Mommy
End


__ADS_3

Sebulan kemudian..


"Sayang ...."


Putra Mahkota Delix mengelus punggung sang istri. Dia merasa kasihan melihat istrinya yang terus muntah, keluar masuk kamar mandi.


Alexsa pun yang sudah lemah, tidak memiliki tenaga untuk berjalan. Putra Mahkota Delix selalu siaga, ia selalu menemani Alexsa entah ada pekerjaan atau pun tidak ada pekerjaan. Bahkan tidak heran pekerjaannya kadang menumpuk.


"Delix, aku ingin memakan sesuatu," ucap Alexsa seraya membayangkan buah jeruk yang sangat lezat.


"Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk mengambilkan untuk mu."


Putra Mahkota Delix pun meminta pelayan Anne untuk membawakan buah jeruk.


"Putri Mahkota, ini saya sudah membawakannya," ucap Pelayan Anne. Dia membawa seranjang kecil. Takut sang majikan kurang dan ingin menambah.


Aku bersyukur, Putra Mahkota sangat menyayangi Nyonya Alexsa dan memanjakannya bagaikan ratunya.


"Terima kasih Anne." Alexsa hendak mengambil. Namun dengan sigap sang Putra Mahkota bangkit. Tanpa sadar, dia menyenggol keranjang itu dan membuat keranjang jeruk itu terjatuh. Buah jeruk itu pun berserakah di lantai.


Alexsa menganga, dadanya terasa berhenti melihat buah itu mengelinding di lantai itu.


Ia menunduk dan tanpa sadar air matanya keluar.

__ADS_1


Putra Mahkota Delix yang merasa bersalah memegang bahu sang istri. "Sayang maaf aku tidak..." Suaranya terputus saat melihat pipi Alexsa sudah basah.


"Sayang," Putra Mahkota Delix langsung memeluk Alexsa dengan panik, dia mengelus punggunga dan mengecup pucuk kepala Alexsa beberapa kali. "Maaf sayang, aku tidak bermaksud begitu. Anne, cepat kamu bawakan buah yang lain," titah Putra Mahkota Delix.


"Sayang, kamu tunggu di sini. Aku saja yang membawakannya untuk mu." Putra Mahkota mengurai pelukannya dan memegang bahu Alexsa.


Alexsa membalas tatapannya, lalu menghapus air matanya. "Kenapa aku bisa menangis?"


Di tempat lain.


Alona Wichilia tengah bersantai, sudah lama ia tidak menghirup udara di kediamannya itu. Selama di berada di istana, Baginda Kaisar memutuskan untuk membuat kediaman baru. Namun Alona Wichilia dan Duke Aiken menolak. Karena kediaman itu memiliki banyak kenangan dan memilih memperbaikinya. Dan tak jarang, jika Alona Wichilia selalu di ganggu oleh kedatangan Raja Iblis.


Alona Wichilia telah menolak Raja Iblis berkali-kali, kadang dia juga bertindak kasar agar sang Raja itu pergi. Namun Raja Iblis tidak jera, dia justru nekat bertemu dengannya.


Semenjak pertemuannya dengan Alona Wichilia, Raja Iblis pun berhenti mengganggu di Kekaisaran. Dulu ia di butakan karena Alona Wichilia memilih orang lain dan menikah, sekarang sudah tidak lagi. Raja Iblis pun tidak peduli seperti apa status Alona Wichilia.


Pertengkaran pun kerap terjadi antara Duke Vixtor dan Ellena. Duke Vixtor merasa jengah karena Ellena sibuk dengan sosilitanya, selalu ke salon dan sibuk di luar sana. Meninggalkan sang anak demi memanjakan dirinya sendiri.


"Nyonya," sapa seorang pelayan. Pelayan itu menunduk dan tak berani berbicara.


Dia mengambil barang sang majikan dan berlalu ke kamarnya.


"Dimana Tuan?" tanya Ellena seraya duduk, dia membuka topi yang melingkar di kepalanya dan menaruhnya di sampingnya.

__ADS_1


"Tuan ada di lantai atas," jawab sang pelayan.


Ellena memicingkan sebelah alisnya. Dia melihat ke arah tangga. Kedua matanya meredang, ketika melihat seorang wanita yang menggendong putrinya dan bersama Duke Vixtor.


Ellena berusaha diam, ia mengira wanita itu adalah pelayan baru atau ibu asuh untuk Kania.


"Duke, kamu tidak perlu mencarikan ibu asuh baru untuk Kania."


Ellena mendekat, dia memandang rendah wanita di samping Duke.


"Dia bukan ibu asuh untuk Kania maupun pelayan di rumah ini. Perkenalkan, dia Bella. Wanita yang akan menjadi istri kedua ku."


Bagaikan di sambar petir, tubuh Ellena seperti patung. "Apa maksud mu Duke?"


"Apa maksud mu?" tekan Ellena.


"Maksud ku dia adalah istri ku, sekaligus juga ibu dari Kania. Kamu lihat, Kania sangat enteng bersama Bella. Aku rasa, Kania juga menyukai Bella."


Ellena tidak tahan, dia merampas putrinya hingga Kania menangis. Seakan tidak ingin berpisah dengan wanita itu. "Dia putri ku, tidak ada yang berhak menjadi ibunya. Apa maksud semua ini? apa kamu tidak mencintai ku lagi? oo aku tahu, wanita ini yang menggoda mu."


"Dia tidak menggoda ku. Justru aku yang memintanya menjadi ibu untuk Kania. Kamu tahu aku mencintai mu? Dulu, aku mencintai mu ada saatnya cinta itu menyerah setelah semua perlakuan mu pada Kania. Kamu tega meninggalkan Kania yang masih demam di saat itu. Dia membutuhkan sosok seorang ibu, figur seorang ibu."


"Aku melakukan semua ini demi diri mu."

__ADS_1


"Tapi aku butuh sosok seorang ibu bagi Kania dan sosok seorang istri. Aku tidak melarang mu bersosialita, tapi ada batasannya Ellena. Mau tidak mau, kamu harus menerima Bella. Kalau kamu tidak mau, kamu tidak akan bertemu dengan Kania dan keluar dari rumah ini. Ayo Bella." Duke Vixtor meninggalkan Ellena, dan menarik tangan Belle meninggalkannya.


Hati Ellena bagaikan di belah pisah, tidak terlihat. Namun rasanya, dia menangis darah. Tulangnya seakan rapuh, seolah tidak bisa menopang tubuhnya.


__ADS_2