
?Api merah dan Api biru itu saling melempar, keduanya menyatu dan Duke Vixtor terus menyerang Duchess Alexsa hingga sebuah suara menghentikan pertikaian mereka.
Duchess Alexsa menurunkan pedang berduri itu. Meskipun hanya sebuah tanaman, tapi tanaman itu kuat dan kokoh bahkan beracun.
Sama halnya dengan Duke Vixtor. Dia menurunkan pedangnya dan menatap sengit ke arah wanita di hadapannya. Ingin sekali, ia merobek mulutnya yang sangat tidak sopan padanya.
"Ada apa ini? kenapa kalian bertarung."
Duke Vixtor membungkuk hormat. "Maafkan saya Baginda, karena telah membuat Baginda tidak nyaman." Sesalnya.
"Aku tanya, ada apa ini?"
Api di bola mata berwarna hijau itu terus menyala. Seakan ingin membakar tubuh Duke Vixtor. Rasa benci dan rasa sakit di hatinya semakin berteriak. Tatapan dingin dan haus dalam kebekuan kebencian yang semakin membara, membuat Duke Vixtor dan yang lainnya terkejut.
"Kami hanya mengadu kekuatan, Baginda," ujar Duchess Alexsa. Semua mata tertuju padanya.
"Apa benar begitu, Duke?"
Mau tidak mau, Duke Vixtor mengiyakan dan ia akan membuat perhitungan di lain waktu pada Nona Rose di hadapannya. "Benar, Baginda."
"Oh, aku kira kalian bermusuhan." Baginda Kaisar bernafas lega. Kedua bangsawan yang memiliki kekuatan itu bersatu dan tidak bersiteru.
"Marquess Ramon, Putra Mahkota Delix dan kalian berdua, jadi kalian juga menonton mereka."
__ADS_1
Putra Mahkota Delix menjawab dengan suara rendah. "Iya, Baginda."
"Baiklah, aku kira ada apa? Nona Rose dan Duke Vixtor serta yang lainnya, maaf tidak menonton pertunjukan kalian."
Selepas kepergian Baginda Kaisar. Duke Vixtor memutar tubuhnya. Ia tidak akan melanjutkan pertarungannya malam ini, tapi lain waktu ia akan membuat perhitungan.
"Heh, ternyata benar. Sesuai rumor, suami yang sering menyakiti istrinya. Ketampanan di wajahnya hanya menutupi sifatnya yang tidak berperasaan."
Duke Vixtor menoleh, ia mengepalkan tangannya. "Jangan ikut campur urusan ku,"
"Saya, tidak ikut campur, tapi mengingatkan sebuah kesalahan."
"Apa yang menjadi kesalahan saya tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain."
Tangan Duke Vixtor mengeluarkan darah akibat kepalan erat itu. "Kita akan bertemu kembali."
Duchess Alexsa pun berbalik, dia melangkah pergi meninggalkan ke empat orang yang mematung itu.
Sedangkan Marquess Ramon.
Otaknya tidak berkerja dan menangkap apa yang terjadi, melainkan ia bertanya-tanya, kenapa bisa memiliki api merah itu? bahkan bisa membuat tanaman keluar api. Baru kali ini ia melihat kekuatan seperti itu.
"Aku harus mencari tahu." Marquess Ramon menaiki keretanya. Sepanjang perjalanan, ia menduga-duga. Apa hubungan keluarganya dengan Duke Aiken?
__ADS_1
"Sudah sampai Tuan." Seorang kusir kuda mengatakan pada Marquess Ramon. Jika kuda mereka telah sampai.
Marquess Ramon berjalan tergesa-gesa. Ia langsung menuju perpustakaan dan mencari silsilah keluarganya. Namun, dalam buku itu tidak menjelaskan apapun tentang hubungan Marquess dan Duke Aiken.
Dalam buku tebal itu, hanya membahas kalau kekuatan api merah akan turun temurun pada keturunan Marquess saja.
"Kalau hanya keturunan Marquess yang bisa memilikinya, lalu nona Rose dari mana mendapatkannya? apa masih ada rahasia di balik semua ini?"
Marquess Ramon tidak putus asa, dia mencari segala sumber yang berasal dari Marquess Ramon. Namun hasilnya tidak ada.
"Ayah, ayah kenapa?" tanya seorang laki-laki. Melihat kereta kuda yang di tumpangi sang ayah telah kembali. Ia berniat mengobrol sebentar dengan sang ayah.
"Albern, kamu tahu. Keturunan Duke Aiken, dia-dia memiliki api merah," ujar Marquess Ramon.
Albern tertawa, perkataan yang sangat konyol. Selama ini keluarga Marquess tidak memiliki hubungan dengan keluarga Duke Aiken. Sangat tidak mungkin keduanya memiliki hubungan. Duke Aiken, Marquess Ramon dan Duke Vixtor tidak pernah bergabung. Meskipun mereka memiliki sebuah kekuatan.
"Ayah, jangan bercanda. Mana mungkin..."
"Aku bersungguh-sungguh, Albern." Tegas Marquess Ramon.
"Kalau memang benar, lantas nona Rose yang di maksud Ayah, anak siapa? apa ayah bermain belakang."
plak
__ADS_1
Marquess Ramon langsung memukul kepala Albern dengan tangannya. Mana mungkin dia bermain belakang. Sedangkan dirinya sangat setia pada sang istri.