I Love You,Boss Playboy

I Love You,Boss Playboy
30


__ADS_3

Tanpa berpamitan hanya diiringi dengan senyuman pahit,Sheryl kembali ke kamar Keyra.Dia bukannya mau mengadu kepada Keyra tapi dia hanya ingin mengambil tasnya.Dia memutuskan untuk pulang ke kota S siang itu juga.


Apalagi Lusi memanfaat keadaan,dia sengaja merengek supay kedua orang tua Keyzan mengusir Sheryl.Tapi karena Sheryl sudah tahu diri sejak awal,tanpa disuruh pun dia akan pergi dari rumah orang tua Keyzan.


Tangisan tak terbendung dari Sheryl,ketika Sheryl berpamitan.Awalnya Sheryl tidak mau berpamitan tapi dia juga tidak mau Keyra akan sedih saat dia tidak ada.


"Aku ikut kak Sheryl pulang!" ucap Keyra dalam tangisannya sembari memeluk Sheryl.


"Kak Sheryl masih ada pekerjaan yang numpuk dek,jadi kak Sheryl pulang dulu ya?" Sheryl sebenarnya tidak tega melihat kesedihan Keyra.


"Tiap akhir pekan kak Sheryl janji harus kesini!" rengek Keyra masih menangis sambil memeluknya.


Sheryl hanya terdiam sambil mengelus punggung Keyra.Dia tidak mau berjanji,karena dia tahu mungkin ini terakhir kali mereka bertemu.Setelah pulang ke kota S,Sheryl akan resign.Dia tidak mau terus-terusan berhubungan dengan Keyzan.Dia ingin melupakan semua tentang pria itu.


Sheryl melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang jumlahnya tidak banyak itu.Senyuman tersungging disudut bibirnya.Entah itu senyum sungguhan atau senyum palsu.


Melihat Sheryl membawa tasnya,Keyzan kembali tertekan.Dia mendekat dan berusaha menahan Sheryl supaya tidak pulang sendirian.


"Kamu mau kemana?" tanya Keyzan panik.


"Terima kasih sudah menyambut saya dengan baik,terima kasih om,tante karena sudah menerima Sheryl dengan baik juga.Sheryl minta maaf jika selama ini Sheryl punya banyak salah entah disengaja atau tidak.Sheryl pamit." ucap Sheryl dengan suara sedikit serak.Dia berusaha dengan sangat untuk tidak menangis.


Untuk apa menangisi sesuatu hal yang tidak pernah menjadi miliknya.Tapi saat itu manik-manik putih sudah memenuhi sudut matanya.


Sementara Keyzan fokus dengan ucapan Sheryl yang mengatakan 'saya'.Karena selama ini dia selalu mengatakan 'aku' untuk menyebut dirinya.


"Pulang bareng! aku ganti baju bentar." ucap Keyzan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.Akan tetapi Sheryl tidak mau membuat Keyzan semakin melawan kedua orang tua bergegas meninggalkan rumah orang tua Keyzan setelah berpamitan kepada mami dan papanya Keyzan.


Sheryl sengaja tidak mau menunggu Keyzan.Dia tidak mau dianggap sebagai perebut kebahagiaan orang lain.Karena disisi lain Keyzan harus fokus kepada calon anaknya.

__ADS_1


Begitu sampai di depan komplek Sheryl buru-buru naik taxi yang kebetulan lewat.Pada saat yang sama maminya Keyzan berusaha mengejar Sheryl akan tetapi Sheryl sudah lebih dulu pergi menggunakan taxi.


Air mata tak mampu mami Keyzan bendung lagi.Dia sangat menyayangi Sheryl.Dia tidak pernah mengira kalau dia akan tega melepaskan Sheryl pulang ke kota S sendirian.


Sementara dari arah belakang Keyzan juga sedang berlari berniat mengejar Sheryl yang tidak mau menunggunya.Keyzan melihat maminya yang menangis di depan gerbang rumahnya.


"Mi,Sheryl?" tanya Keyzan membantu maminya berdiri.Keyzan memeluk maminya yang sedang menangis.Keyzan tahu ada penyesalan dari maminya.Karena Keyzan tahu seberapa sayangnya maminya ke Sheryl.


"Mami jahat Key,mami udah mengusir Sheryl secara tidak langsung." ucap maminya Keyzan masih dengan tersedu dalam pelukan Keyzan.


"Sheryl pasti benci banget sama mami." lanjutnya memperkirakan kemungkinan yang mungkin terjadi.


"Sheryl bukan orang yang pendendam mi." Keyzan berusaha menghibur maminya.


Keyzan kemudian memapah maminya masuk ke dalam rumah.Masih dengan menangis maminya Keyzan dibaringkan di atas sofa ruang tamu.Tubuh mami Keyzan lemah,dia tidak berhenti menangis.


"Kenapa tante sedih karena wanita itu? tante nggak mau anak ini?" kata Lusi membuat mami Keyzan merasa bersalah.


"Kamu apa-apaan sih Lus!" teriak Keyzan tidak habis pikir dengan Lusi.Apa yang dia pikiran,kenapa dia tidak bisa melihat situasi banget.


"Bukan gitu Lus,tante juga agak khawatir aja sama Sheryl." jawab mami Keyzan dengan frustasi.


Mami Keyzan tidak mengira bahwa kejadian seperti ini harus terjadi.Dia sayang sama Sheryl dan ingin Sheryl menjadi menantunya.Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan calon cucunya,keturunannya.


"Mi,Key mau balik juga.Key khawatir sama Sheryl." pamit Keyzan tapi langsung di protes oleh Lusi.


"Kamu mau kejar wanita jal*ng itu? kamu nggak mikir tentang aku dan anak kita?" ucap Lusi dengan marah.


"Kalau kamu berani panggil Sheryl dengan sebutan jal*ng lagi,aku pastiin kamu nggak akan pernah bisa bicara lagi!" Keyzan menatap Lusi dengan tajam.Seketika Lusi terdiam karena takut.

__ADS_1


Lusi sangat tidak percaya kalau Keyzan akan membela Sheryl sebegitunya.Bahkan dia juga mengancam Lusi.Jujur baru pertama kali dia melihat Keyzan begitu marah karena seorang wanita.


Tapi Lusi tak kurang akal.Dia menunjukan ekspresi sedih di depan orang tua Keyzan.Bahkan Lusi juga pura-pura menangis supaya aktingnya terlihat nyata.


"Key kamu jahat." ucapnya sembari berpura-pura menangis.Dan jelas itu membuat maminya Keyzan merasa tertekan.Tiba-tiba maminya Keyzan pingsan dan membuat panik Keyzan dan papanya.


Tak butuh waktu lama dokter keluarga tiba di rumah untuk memeriksa maminya Keyzan yang tak sadarkan diri.


Dari analisa dokter itu dapat disimpulkan jika maminya Keyzan sedang setres berat.Tekanan yang begitu besar tak mampu dia tanggung sendiri,akhirnya mengakibatkan mami Keyzan pingsan.


"Refina cuma butuh istirahat kok,juga jangan biarin dia mikirin hal-hal yang berat!" ucap dokter keluarga yang juga adalah sahabat dari maminya Keyzan sewaktu SMA.


Karena keadaan maminya yang butuh perhatian lebih akhirnya Keyzan mengurungkan niatnya menyusul Sheryl kembali ke kota S.Keyzan ingin selalu menemani maminya.


"Key kamu nggak jadi balik ke kota S dulu kan?" tanya papanya.


Keyzan menggelengkan kepalanya pelan,"nggak pa,Key mau nemenin mami." jawabnya dengan sedih.


Berulang kali dia berusaha menelepon Sheryl.Tapi selalu di tolak oleh Sheryl.Nomernya sih bisa dihubungi tapi ketika tersambung Sheryl selalu menekan tombol merah di hapenya.


Keyzan bukan orang yang sabar maka marahlah dia saat panggilannya beberapa kali di tolak oleh Sheryl.Keyzan juga melempar hapenya tapi beruntung hapenya tidak pecah atau rusak.


Setelah mengambil hapenya lagi dia kembali berusaha menelepon Sheryl.Tapi bukannya nyambung tapi hape Sheryl udah dimatiin.


"Akh..." geram Keyzan kembali melempar hapenya.Lagi-lagi masih beruntung,hape itu terlempar ke sofa yang empuk.


Disampingnya ada papanya yang hanya memperhatikan kegelisahan putra sulungnya.Papanya tahu Keyzan pasti marah karena Sheryl tidak mau menjawab panggilannya.


Sesaat kemudian papanya juga terlihat murung.Dia juga merasa bersalah kepada Sheryl.Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan calon cucunya.Pemikiran yang sama seperti maminya Keyzan.

__ADS_1


__ADS_2