
Senyuman tersungging dibibir Lusi, dia merasa menang atas perjuangannya mendapatkan Keyzan. Setelah ini dia akan bisa memiliki Keyzan seutuhnya.
Dalam sebuah ruangan yang sudah di dekor dengan canti, hanya terlihat beberapa kerabat dekat dari Lusi dan Keyzan yang ada. Mereka sengaja tidak mau mengundang banyak orang, apalagi dari pihak Keyzan, yang sejak awal memang tidak menyetujui pertunangan itu.
"Semua sudah siap kan?" tanya Keyzan ke Romeo dengan pelan.
"Beres." Romeo mengangkat jempolnya sambil mengedipkan satu matanya, pertanda baik karena membuat Keyzan tersenyum senang.
Satu per satu para kerabat datang untuk menyaksikan acara pertunangan anak sulung dari seorang konglomerat terkenal. Seperti biasa, mereka bertemu sapa juga saling mengobrol dengan bahagia.
Tapi, dari sekian banyak kebahagiaan yang tertumpah, ada seseorang yang dengan sedih menyendiri di bagian luar ruangan itu. Matanya menatap jauh kedepan dengan tatapan kosong, raut wajahnya menunjukan kesedihan atau mungkin lebih tepatnya kekecawaan.
Seorang gadis yang duduk di atas kursi roda, merasakan kesedihan. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah kakaknya menikah dengan orang lain. Sementara yang dia mau, kakaknya menikah dengan wanita pilihannya. Dia tahu kakaknya juga mencintai wanita pilihannya itu, tapi dia tidak tahu kenapa justru kakaknya menikahi wanita lain.
"Kamu Keyra kan?" tanya Cintya tetiba mendekati gadis malang itu.
Tanpa menjawab, Keyra hanya menganggukan kepalanya pelan. Sementara dari tempat Cintya berdiri, dia bisa melihat betapa sedihnya gadis yang sedang duduk di kursi roda itu. Cintya tahu sedikit tentang Keyra dari ceritanya Romeo.
"Jangan sedih lagi ya! bentar lagi kak Sheryl datang kok." ucap Cintya bermaksud menghibur Keyra.
Mendengar nama Sheryl diucap, seketika Keyra menoleh dengan antusias. "Kak Sheryl datang? kok kakak bisa tahu?" tanyanya dengan senang.
"Kenalin, aku Cintya, temennya Sheryl." Cintya memperkenalkan dirinya. Keyra lalu memicingkan matanya, dia merasa pernah ketemu dengan Cintya tapi lupa dimana.
"Tuh, kak Sheryl datang." Cintya menunjuk ke arah, dimana Sheryl datang bersama Rakha di sampingnya.
Dengan memakai dress pendek, dengan riasan yang ringan, Sheryl terlihat begitu sangat menawan. Melihat betapa cantiknya Sheryl, membuat Keyzan tak mampu berkedip. Baru kali ini dia melihat Sheryl berdandan dengan anggun.
Karena, begitu tersihir dengan kecantikan Sheryl, membuat Lusi yang ada disampingnya mencubit pelan lengan Keyzan. Lusi juga mengingatkan supaya Keyzan bisa jaga sikap.
__ADS_1
Akan tetapi, seolah tidak mendengarkan omelan Lusi, Keyzan berjalan menghampiri Sheryl dan juga Rakha. Senyuman manis tersungging di bibir Keyzan, tatapan matanya pun memancarkan aura berbeda terhadap Sheryl.
"Kamu cantik banget," puji Keyzan pelan, membuat Sheryl tersenyum malu.
"Thanks bro," ucap Keyzan ke Rakha sambil menjabat tangan Rakha.
Sementara Sheryl masih terpaku di tempatnya. Tak lama kemudian dia tersadar oleh panggilan seseorang. Seketika dia menoleh dan melihat Cintya mendorong kursi roda Keyra.
"Hai," sapa Sheryl dengan tersenyum menyambut Keyra dan juga Cintya.
"Adik kakak comel banget," Sheryl mencubit pipi Keyra, dan Keyra memeluk Sheryl.
"Cantik banget lo?" puji Cintya menyenggol tubuh Sheryl.
"Baru tahu lo," ucap Sheryl bangga, tentu saja itu hanyalah gurauannya dengan Cintya.
"Makasih ya, lo udah mau hadir di acara pertunangan gue ama Key," Lusi berkata dengan bangga dan terkesan mengejek.
"Selamat ya, semoga kalian bahagia!" Sheryl tersenyum sembari memberi selamat kepada Lusi. Seolah tidak peduli sama sekali.
Beberapa saat kemudian, acara pun di mulai. Sheryl yang sudah memantapkan hatinya melihat Keyzan bersanding dengan wanita lain, hanya mampu mengatur nafasnya dan menata hatinya. Cinta yang seharusnya tak pernah ada, Sheryl yakin semua sudah menjadi kehendakNya.
"Terima kasih untuk semua kerabat yang sudah hadir dalam acara malam ini," ucap Keyzan membuka sambutannya, dan berterima kasih.
"Sebelum acara ini di mulai, ijinkan saya memberi surprise kepada calon tunangan saya!" Keyzan menatap Lusi, yang merasa sedikit terkejut. Lusi tidak menyangka bahwa Keyzan ternyata masih mencintainya, buktinya Keyzan memberi surprise kepada dirinya.
Senyum bangga mengembang di bibir Lusi. Sesekali dia menatap Sheryl dengan tersenyum sinis. Dia bangga, kalau ternyata Keyzan masih mencintainya.
Dengan satu jentikan tangan, layar proyektor yang sudah disiapkan di ruangan itu mulai menyala. Semua mata menatap ke arah proyektor itu dengan kaget. Terlebih lagi Lusi, yang tidak menyangka bahwa Keyzan mempunyai video dirinya sedang ngobrol dengan Joe, ayah dari anak yang dikandungnya.
__ADS_1
Dari rekaman percakapan itu terbukti bahwa bukan Keyzan, ayah dari bayi itu. Lusi sengaja menjebak Keyzan, supaya dia bisa menikah dengan Keyzan.
"Gimana sayank, kamu merasa surprise nggak?" tanya Keyzan menatap tajam ke arah Lusi. Keyzan memiliki bukti itu seminggu yang lalu saat dia tahu dari hasil test DNA yang menyatakan bukan dia ayah anak itu.
"Darimana kamu dapat rekaman percakapan itu?" lirih Lusi, yang mungkin sudah sangat malu, karena beberapa orang sibuk bergunjing tentang dirinya.
Prokkk prokkk prokkkk
Keyzan menepuk tangannya beberapa kali, setelah itu muncullah si Joe, ayah kandung anak itu. Lusi kembali membulatkan matanya, dia bahkan tidak menyangka Keyzan akan membawa Joe datang ke acara pertunangan itu.
"Joe??" gumam Lusi terbelalak.
"Kamu nggak pernah nyangka kan, kalau kebohongan kamu akan cepat terungkap?" Keyzan bertanya dengan dingin. Dia sudah menahan berhari-hari emosinya hanya demi hari itu, hari dimana dia membongkar semua kebohongan Lusi.
"Maksudnya apa ini nak Keyzan?" tanya papanya Lusi, yang bingung juga malu dengan kelakuan anaknya.
"Kalau om mau tahu, silahkan om tanya ke anak om dan juga ke Joe, ayah kandung dari calon cucunya om!" Keyzan berkata tanpa basa basi lagi.
Mungkin itulah saatnya emosinya tertumpah.
Sementara mami dan papanya Keyzan yang semula juga kaget, jadi merasa senang, kalau akhirnya anaknya tidak jadi menikah dengan Lusi. Dari awal mereka tidak suka dengan Lusi. Maminya Keyzan juga diam-diam mengucap syukur.
Dan yang lebih bahagia lagi adalah Keyra. Kejadian itu adalah tanda bahwa dia masih memiliki harapan untuk menjadikan Sheryl sebagai kakak iparnya.
Tanpa terasa senyuman juga melebar dari bibir merah Sheryl. Dan itu disadari oleh Cintya yang berdiri di sampingnya.
"Cie seneng ya neng, masih punya harapan ya?" ucap Cintya pelan, membuta wajah Sheryl merah seperti tomat.
"Apaan sih, biasa aja." sanggah Sheryl, tapi sesaat kemudian dia tersenyum tipis kembali. Ada rasa bahagia di dalam hatinya, apalagi saat Keyzan menatapnya dari kejauhan.
__ADS_1