
Sheryl sudah masuk ke dalam taxi. Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia merasa sedih dengan dirinya sendiri yang terlalu bodoh.
"Aku terlalu naif," gumamnya tersenyum seorang diri.
"Aku harus segera pergi dari apartemen itu lagi, wanita yang dia cintai sudah kembali, dia tidak butuh aku lagi." gumamnya dalam kesedihan. Sheryl juga sempat menoleh ke belakang, berharap Keyzan mengikutinya tapi ternyata itu hanyalah harapannya saja.
"Mana mungkin dia akan ngejar aku?" Sheryl tersenyum bod*h, berkali-kali dia harus menepuk pipinya berulang kali supaya sadar, dan tidak lagi halu.
Sementara Rakha sudah kehilangan jejak Sheryl. Dia lalu tanpa berpamitan mencoba mencari Sheryl tapi masih saja belum ketemu. Rakha tidak tahu alamat apartemen Sheryl, jadi dia menunggu di kost Sheryl yang dekat dengan kantornya.
Setelah sejam menunggu, ternyata benar Sheryl kembali ke kost itu. Tapi tidak untuk kembali, cuman dia ingin mengambil barang yang tertinggal.
"Loh pak Rakha kok disini?" tanya Sheryl terkejut melihat Rakha yang sedang menunggunya.
"Aku nyariin kamu." jawab Rakha.
"Oh, pak aku mau minta cuti beberapa hari, aku mau menenangkan pikiran aku, juga mau refreshing kan capek pak kerja mulu," Sheryl meminta ijin cuti ke Rakha.
"Apa karena Vanka kembali, jadi pikiran kamu berat?" tebak Rakha.
"Enggak, apa hubungannya? aku beneran pengen liburan pak," sanggah Sheryl tidak mau jujur. Dia terlalu malu mengakui apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia malu karena kebodohannya.
"Ok, aku ijinin tapi cuma seminggu aja." jawab Rakha membuat lega Sheryl.
Dan, malam itu juga Sheryl pergi untuk liburan. Dia tidak pamit ke siapapun, bahkan juga tidak ke Cintya. Hanya dia dianter oleh Rakha ke stasiun, tapi Rakha juga nggak tahu kemana tujuan Sheryl pergi.
Dengan langkah mantap, Sheryl masuk ke dalam kereta. Sebenarnya itu rencana dadakan dia. Dia hanya ingin menenangkan diri saja.
Sementara di rumah Keyzan, atau tepatnya di ruangan acara pertunangan Keyzan menjadi riuh. Saat itu Keyra bingung mencari kemana Sheryl. Sementara Keyzan asyik ngobrol dengan Vanka dan juga Romeo.
"Pak, aku pamit mau pulang!" ucap Cintya juga kecewa terhadap Keyzan, dia bisa melihat betapa kecewanya Sheryl melihat Keyzan berpelukan dengan Vanka.
"Kok buru-buru? Sheryl mana?" tanya Romeo, yang tidak melihat Sheryl bersama Cintya.
"Sudah pulang." jawab Cintya sedikit ketus.
__ADS_1
"Pulang? sama siapa?" Keyzan kaget mendengar Sheryl sudah pulang, dia kemudian mencari-cari tapi tidak melihat Rakha, dan dia yakin Sheryl pulang dengan Rakha.
Keyzan pun mencoba menghubungi Sheryl tapi nomernya mati. Keyzan awalnya tidak curiga, dia berpikir mungkin hape Sheryl habis baterai. Keyzan mencoba menghubungi Rakha tapi juga tidak aktif.
"Aku mohon ke bapak jangan lagi ganggu Sheryl! biarkan dia bahagia dengan hidupnya sendiri! bapak bahagia dengan kehidupan bapak sendiri!" ucap Cintya membuat Keyzan terbelalak. Keyzan menyadari ada sesuatu yang salah.
"Maksud kamu?" Keyzan masih belum tahu maksud Cintya. Dia lakuin semua ini untuk Sheryl, tapi kenapa Cintya ingin Keyzan melepaskan Sheryl.
"Udahlah pak, aku tahu bapak tidak mencintai Sheryl, karena wanita yang bapak cintai sudah kembali, aku mohon jangan lagi nemuin Sheryl! dia punya perasaan pak, dia juga bisa kecewa." seru Cintya tidak bisa mengendalikan amarahnya. Selama berteman dengan Sheryl, baru kali ini dia melihat Sheryl sangat kecewa.
Cintya tidak lagi mau berdebat dengan Keyzan, dia langsung berlari keluar dari rumah Keyzan. Cintya juga berusaha menghubungi nomer Sheryl, tapi hapenya mati.
Kepanikan juga melanda Keyzan yang masih belum bisa menghubungi Sheryl. Keyzan tidak mau menyerah, dia kembali menghubungi Rakha, dan kali ini nyambung.
"Sheryl bersama kamu nggak?" tanya Keyzan panik.
"Tadi iya, tapi sekarang nggak." jawab Rakha dari seberang telepon.
"Maksud kamu? Sheryl dimana sekarang?" Keyzan semakin panik.
"Sheryl dimana?!" seru Keyzan tidak sabar.
"Aku nggak tahu, lebih baik kamu nggak usah cari Sheryl lagi! Vanka sudah kembali, aku nggak mau Sheryl akan terluka, lepasin dia, biar aku yang menjaganya!" ucap Rakha memperingati Keyzan.
"Lepasin Sheryl? jangan pernah mimpi! dia hanya akan menjadi milik aku!" seru Keyzan dengan marah.
Dengan marah Keyzan menutup panggilannya. Dan berusaha lagi menelepon Sheryl, lagi dan lagi hape Sheryl masih mati. Vanka menatap Keyzan yang sedang emosi, dia juga mendengar nama wanita lain di sebut oleh Keyzan.
"Kamu kenapa Key?" tanya Vanka mendekati Keyzan.
"Rom, bubarin dulu acara ini, gue harus cari Sheryl dulu!" Keyzan mengambil kunci mobilnya dan berlari kecil ke parkiran. Di belakang, Vanka mengejar Keyzan dan ikut masuk ke dalam mobil.
"Kamu mau kemana Key?" tanya Vanka lagi.
"Aku harus cari Sheryl, aku harus temuin dia." jawab Keyzan dengan panik.
__ADS_1
"Sheryl siapa?" tanya Vanka kembali.
"Sheryl siapa Key?!" seru Vanka dengan marah.
"Calon istri aku." jawab Keyzan dengan santai. Seketika Vanka menoleh dan menatap Keyzan dengan tajam.
"Kamu bohong kan Key? kamu pasti bercanda," Vanka menolak kenyataan bahwa Keyzan telah melupakannya.
"Aku serius, dia calon istri aku." Keyzan menjawab dengan yakin.
"Kata Joe, kamu masih mencintai aku, kamu nolak nikah dengan Lusi karena kamu masih belum bisa lupain aku." Vanka seketika menjadi murka, lalu dia menangis.
"Maafin aku, tapi itu kenyataan, aku sudah jatuh cinta dengan orang lain." ucap Keyzan sembari mengusap air mata Vanka.
Cinta untuk Vanka sudah hilang saat Keyzan mulai tertarik kepada Sheryl. Bahkan cintanya ke Sheryl jauh lebih besar dari cintanya buat Vanka dulu. Vanka hanyalah masalalu, dan Sheryl adalah masa depannya.
Tapi sekarang dimana wanita itu pergi.
"Apa sudah tidak ada cinta untuk aku?" lirih Vanka disela tangisnya.
"Maaf, hati aku sudah penuh, dan cintaku sudah habis untuk dia." jawab Keyzan menatap Vanka dengan kasihan. Tapi, cinta itu beneran sudah tidak ada untuk Vanka.
"Tapi dia sekarang pergi," Vanka masih saja belum terima.
"Aku pasti bisa menemukannya." Keyzan berkeyakinan, dia pasti bisa menemukan dimana Sheryl berada.
Mendengar jawaban Keyzan yang tidak mau menyerah demi wanita lain, membuat Vanka kembali tersedu. Dia menyadari kesalahannya yang telah meninggalkan Keyzan dulu. Tapi itu semua bukanlah keinginannya. Lusi yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
"Aku anterin pulang, dimana kamu tinggal sekarang?" tanya Keyzan.
"Aku baru sampai dari luar kota, aku belum punya tempat tinggal disini." jawab Vanka sesegukan.
"Kalau gitu kamu tinggal di villa aku aja dulu, sampai kamu dapat tempat tinggal yang cocok." Keyzan yang merasa kasihan akhirnya memberikan tumpangan untuk Vanka.
Dipikirannya, dia saat ini tinggal bersama keluarganya, jadi tidak jadi masalah jika Vanka tinggal di villanya untuk sementara.
__ADS_1