
Namaku Viola Putri Fernaldi biasa di panggil Vio oleh orang-orang termasuk Ibuku kecuali tiga orang yang memanggilku Lala. Pagi-pagi sekali Ibuku sudah berteriak memanggil namaku. Karena hari ini pertama aku masuk untuk kuliah, setelah melewati masa orientasi.
"Vio, cepatlah nanti kau bisa terlambat." Teriak Ibu memanggil namaku kembali.
"Iya, Ibu. Vio, sudah siap sebentar lagi turun," jawabku dengan berteriak pula karena aku masih di kamarku yang berada di lantai atas.
Ibu pun berhenti berteriak setelah mendapat jawaban dariku. Aku pun turun menuju meja makan untuk sarapan bersama Ibu dan Ayahku.
"Selamat pagi, Ibu ... Ayah ...." ucapku menyapa mereka tak lupa juga mencium pipi mereka bergantian.
"Pagi juga, Sayang. Ayo sarapan sebelum berangkat kuliah!" jawab Ibu dan menyiapkan makanan dan minuman untukku.
Kita bertiga pun sarapan bersama dengan diiringi obrolan ringan. Aku adalah Anak satu-satunya mereka. Ayahku bekerja sebagai pemimpin Perusahaan sedangkan Ibuku hanya sebagai Ibu Rumah Tangga.
Aku pun berangkat kuliah setetelah berpamitan dengan Ibuku. Aku segera turun dari Mobil Ayah saat Mobil tersebut berhenti tepat di depan Gerbang Kampus. Aku pun langsung masuk ke dalam Kampus setelah berpamitan dengan Ayah. Aku segera berlari masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi jam masuk kuliah segera mulai. Tak berselang lama, Dosen yang membimbing kelasku pun masuk ke ke dalam kelas.
Sebelum pelajaran di mulai, Dosen memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Beliau bernama Justin Zittnie bukan Justin Sidney. Beliau katanya Dosen paling muda dan killer di Kampus ini. Tapi menurutku tak ada Dosen atau Guru yang killer kalau muridnya tak memancing keributan terlebih dahulu, seperti halnya asap, tak akan ada asap bila tak ada api, hanya asap panggung konserlah yang tak ada apinya.
Di Kampus ini aku cuman sendiri, tak ada yang ku kenal sama sekali. Aku masuk kuliah lewat jalur beasiswa karena aku tak mau menyusahkan Ayahku. Semua itu juga atas saran Ibuku. Entah apa yang pikirkan oleh Ibuku sehingga beliau menyarankanku untuk masuk kuliah lewat jalur beasiswa. Setiap aku tanya, kenapa padahal gaji Ayahku sangatlah besar? tapi Ibu selalu jawab suatu saat aku akan tau dengan sendirinya. Ya sudahlah kita lihat kedepannya bagaimana.
Aku pun pergi ke Perpustakaan sembari menunggu mata kuliahku yang kedua. Di sini aku hanya fokus pada buku yang aku baca tanpa menghiraukan orang-orang yang berada di sisi kiri dan kananku.
__ADS_1
Tak terasa sudah hampir satu jam aku berada di Perpustakaan. Aku pun beranjak berdiri untuk ke meja Petugas Perpustakaan, aku berniat meminjam buku yang ku baca tadi jadi aku pun mendaftarkan diri agar bisa terus meminjam buku di Perpustakaan Ini. Ku lihat jam tangan yang melingkarkan di pergelangan tangan kiriku, kurang dua puluh menit jam mata pelajaran keduaku akan segera di mulai. Aku pun bergegas menuju kelas tapi saat baru keluar dari pintu Perpustakaan aku tak sengaja menabrak seseorang sehingga buku-buku yang ia bawa jatuh berantakan.
"Maaf ... maaf saya tidak sengaja," ucapku sambil mengambil buku-buku yang terjatuh itu.
"Kamu, tuh punya mata nggak sih? orang segede gini kamu tabrak ... punya mata tuh di pakai, bukan di buat pajangan!" ucapnya dengan membentakku.
"Maaf, tadi saya tak sengaja ... soalnya saya lagi buru-buru ...." jawabku lirih dengan menundukan kepala.
"Lain kali nggak usah lari-lari kalau kamu jatuh terus terluka, kan kamu sendiri yang ngerasain sakitnya, jangan di ulangi lagi ya!" tiba-tiba dia berbicara lembut kepadaku dan mengelus kepalaku yang berbalut jilbab. Sebentar sepertinya aku pernah mendengar suara ini tapi dimana? aku pun memberanikan diri menatap orang ini.
"Kak Farhan ...." ucapku dan langsung memeluk erat dia tanpa memedulikan pasang-pasang mata yang melihat kita berdua.
"Kamu kemana aja? kok nggak pernah pulang ke Kampung lagi?" tanyanya lebut dan membalas pelukanku.
"Oooohhh, pantesan setiap Kakak pulang, Kakak nggak pernah lihat kamu!" ucapnya dengan melihatku.
"Kakak, disini ngapain bukannya Kakak kuliah di Luar Negri ya?" tanyaku heran pasalnya Ia kuliah di California tapi kok ada di disini.
"Kakak udah lulus kali, La. Kakak jadi Dosen disini itu sebabnya Kakak bisa disini." Jawabnya dengan mencubit pipiku dengan gemas.
"Haaaah ... Kakak, serius?" tanyaku tak percaya.
__ADS_1
"Iya Lala ku sayang ... kamu, kok makin gemesin sih?" jawabnya dan semakin keras mencubit pipiku.
"Aau ... sakit, Kak ... Lepasin. Kakak, kebiasaan deh, padahal pipiku dah nggak cubby lagi masih aja di cubit-cubit," ucapku dengan kesal dan memanyunkan bibirku.
"Nggak usah di manyunin gitu bibirnya. Ntar Kakak cubit baru tau rasa." Ucapnya dengan senyum jail.
"Haduh aku lupa sebentar lagi masuk." Ucapku dengan menepuk pelan dahiku.
"Kak Farhan, Lala Masuk kelas dulu ya nanti kita ketemu lagi. Lala, tunggu Kakak di Gerbang Kampus. Lala, pergi dulu daaah Kak," ucapku dan berlari tanpa menunggu jawaban darinya.
Dia Kak Farhan Megantara anak dari Tante Vidya dan Om Rian yang tak lain adalah saudara Ibuku. Jadi aku dan Kak Farhan adalah saudara sepupu. Tante Vidya dan Om Rian begitu sangat menyayangiku, mereka sudah menganggap aku seperti anak kandungnya sendiri begitu pun sebaliknya denganku. Kak Farhan memiliki dua Kakak laki-laki yang bernama Juan Megantara dan Julio Megantara. Mereka juga sangat menyayangiku seperti Adiknya sendiri. Aku selalu dalam pengawasan mereka, sebab aku anak satu-satunya perempaun dari keluarga Ibuku ya jadi wajarlah bila mereka selalu posesif terhadapku, hingga mereka rela membayar orang untuk mengawasiku dari jarak jauh.
Aku pun masuk ke dalam kelas dengan nafas yang ngosngosan karena berlari sangat cepat karena takut terlambat masuk kelas. Tak berselang lama Dosen yang mebimbing kelas keduaku pun masuk ke dalam kelas. Betapa terkejutnya aku, ternyata Dosenku adalah Kak Farhan yang tak lain adalah sepupuku yang ku tabrak tadi.
"Tau gini ngapain gue lari-lari, Kek di kejar setan aja! " ucapku dalam hati. Ku lihat Kak Farhan menahan senyumnya ketika melihatku.
"Bisa di ledekin gue habis ini, bahagialah tuh orang," sambungku dengan muka sebel agar Kak Farhan tau kalau aku ngambek padanya.
Kak Farhan pun memulai mengajarnya setelah memperkenalkan dirinya. Aku pun menyimak ilmu yang ia beri, ku acungi jempol buat dia, ternyata nggak sia-sia dia kuliah selama delapan tahun di Luar Negri. Tunggu-tunggu kalau Kak Farhan kuliah delapan tahun seharusnya dia baru lulus empat tahun lagi tapi ini kok dia disini? ada yang nggak beres ini, perlu di Introgasi Itu orang!.
Katanya tadi Pak Justin Dosen termuda di Kampus ini, tapi dari hasil penelitianku akan perbandingkan kelahiran mereka Kak Farhan lebih muda tiga tahun dari Pak Justin otomatis Kak Farhanlah yang paling muda. Itulah sebabnya aku tak percaya sama kata KATANYA yang terucap dari mulut orang-orang. Aku harus lebih hati-hati kedepannya terhadap kata KATANYA, belum tentu dia benar seperti gosip tadi. Seperti halnya orang lain menjelek-jelekkan orang yang dekat dengan kita dengan cara menumbalkan kata KATANYA padahal belum tentu dia buruk. Buruk di mata dia belum tentu buruk di mata orang lain dan yang lebih utama Buruk Di Mata Manusia Belum Tentu Buruk Di Mata Tuhan Begitu Juga Dengan Sebaliknya. So kita tak boleh menghakimi orang lain karena sudah ada yang lebih adil menghakimi manusia dari pada manusia. Siapa Dia? Tuhanlah jawabannya. Karena Tuhan, benar-benar Maha Adil seadil adilnya dari pada manusia yang jadi jadi Hakim tapi tidak adil. Godaan Uang jauh menggiurkan dari pada godaan Pahala, betul tidak? hati nurani Andalah yang tau.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terima kasih untuk yang sudah membaca novel uang koin ini. Jangan lupa di like, di coment dan di vote. Itung-itung sedekah buat AUT.