
Ceritaku mengenai Bi Tati pun telah usai. Tiga sepupuku pun langsung memelukku dengan erat. Mungkin mereka juga merasakan sedihnya di posisiku. Melihat Ayahnya menduakan Ibunya yang sangat setia dan melihat Ibu angkatnya yang pergi tanpa pamit maupun permisi. Tak ada kesedihan yang lebih sakit dari pada melihat Ibu kita yang tersakiti.
Air mata yang beliau keluarkan bagaikan pisau yang menusuk bagian perutku dan langsung mengenai hati. Tak bisa ku berbuat apa-apa untuk menghentikan penderitaannya. Duhai Ibu maafkanlah anakmu yang tak bisa membantumu.
Aku pun masih di peluk tiga pangeran yang sangatlah tampan-tampan. Bahkan pelukannya semakin erat memeluk tubuhku. Mereka tak tau apa makin sesek nih napas gara-gara hidung yang bercampur ingus.
"Kita berempat sudah kek Teletubies ya ... berpelukaaan ...," ceplos ku. Kalau tidak dengan begini suasananya pasti sedih melulu.
"Ah, kamu La ... hancurin suasana aja ...," ucap Kak Farhan sambil melepas pelukannya.
"Lala nggak mau sedih melulu, Kak. Bi Tati sudah di alamnya aku pun di alamku sendiri. Semakin hari aku menangisi kepergiannya semakin tersiksa pula beliau di alamnya. Lala, sudah ikhlas karena memang sudah garis takdir. Tugas Lala sekarang harus mendo'akan beliau untuk balas budi kebaikannya bukan malah menangisi kepergiannya," tuturku sesuai apa yang aku pikirkan.
"Makin dewasa aja cara berpikir kamu, La," puji Kak Julio.
"Memang itu kenyataannya, bukan?" tanyaku dan di angguki oleh Kak Julio.
"Berarti rumah Bi Tati jadi milik kamu dong, La?" tanya Kak Juan.
"Iya, Kak. Lala, sih sudah kasih ke saudaranya sebenarnya, tapi mereka menolak. Jadi ya Lala terima aja pemberiannya siapa tau suatu saat butuh uang jadi bisa Lala jual tuh rumah," jawabku dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Kita bertiga masih bisa kasih uang ke kamu, La. Jadi jangan sok miskin, napa?" ucap Kak Farhan.
"Hiliih ... baru pinjem uang satu juta aja udah Kak Farhan diemin, apalagi minta uang lebih. Bakal perang saudara yang kesekian kalinya. Pak Qobil dan Pak Habil aja perang gara-gara cewek, apalagi kita berdu'a yang beda lawan spesies." Jawabku dengan ketus.
"Ya maaf ... salah kamu sendiri minta uang di depan murid aku, kan akunya jadi malu," ujarnya membuat alesan.
"Dah lah ... Lala males debat, kek Calon Presiden aja pakai acara debat ... mengungkap visi-misi kagak mengungkap aib lawan iya ... makan tuh daging bangkai saudara Anda sendiri," ucapku menyudahi perdebatan yang pasti ujung-ujungnya bakal buka-bukaan aib saudara sendiri.
"Lala mau kerja lagi ... bye bye my Brother ... Assalamualaikum," ucapku.
Aku pun keluar dari ruangan Pak Darta dan akan mengais rezeki kembali. Bismillah sebelum bermula, Bismilah sebelum bertindak. Semoga di mudahkan apa yang akan kita kerjakan, dan semoga di hindarkan dari marabahaya maupun malapetaka.
Sesampainya di dapur aku pun langsung membantu Mas Reno memasak kue dan makan yang ada dalam menu pesanan. Alhamdulillah, hari ini Caffe-nya sangat ramai pengunjung. Jadi ya lumayanlah uang gaji kita nambah. Andai saja semua tempat kerja seperti ini di jamin rakyat makmur dan sentosa.
Alhamdulillah pula Caffe ini tidak pakai penglaris atau pelaris sama sekali. Pemilik Caffe ini ternyata si Kak Juan dan Kan Julio, jadi ya aku tau bahwa mereka tak bergantung pada makhluk ALLAH sebab mereka taat ajaran agama yang telah diterapkan di keluarga kita dari dulu. Tak ada namanya Jin pelaris di dalam kamus keluargaku untuk membuka suatu usaha. Bila rezeki kita, pasti rezeki kita bakal datang dengan sendirinya, bila tak rezeki mau kita paksa juga nggak akan ke rekening kita. Lagian aku juga bisa membedakan mana usaha yang pakai pelaris dan mana yang enggak. Bila kita ke suatu tempat rumah makan atau tempat usaha lain, terus ketika kita makan di tempat tersebut dan makanannya sangatlah enak menurut lidah, tapi hambar ketika kita bawa pulang, itu adalah tanda bahwa tempat makan tersebut pakai pelaris.
Aku pun kadang di buat heran, bukankah rezeki, jodoh, maut ALLAH yang ngatur. Kenapa kita harus minta makhluk ALLAH yang tiada bandinganya dengan ALLAH. Bukankah kita sama saja berbuat zalim karena tidak mempercayai keberadaan ALLAH.
ALLAH tidak ada dimana-mana, tapi ada di mana-mana. Itulah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan manusia yang menanyakan keberadaan ALLAH. Tuhanku tidaklah memiliki tempat tapi bisa di semua tempat. Memang Tuhanku tidak memiliki tempat tapi bisa di semua tempat karena kita umatnya. Kita umatnya selalu menyebut namanya di semua tempat, bukan sama saja kita percaya bahwa disemua tempat yang setiap kita berpijak pasti ada Tuhan kita. Jika tidak, kenapa kita memanggil namanya?.
__ADS_1
Terkadang aku tuh melihat orang kaya yang tidak seberapa menghina orang lain. Apa mereka tidak tau bahwa di kaya dari mana. Padahal sebagian harta yang kita peroleh dua puluh lima persen itu harta orang lain. Tapi kenapa masih aja orang sudah makan hak orang lain tapi masih kurang sehingga mengakibatkan Korupsi. Itulah manusia yang kurang rasa bersyukur dalam hidup. Hidup tak didunia saja tapi masih ada akherat yang menanti kita.
zaman semakin tua, semakin pula para petinggi negara semena-mena, padahal semena-mena aja di larang agama, apalagi terus semena-mena. Sudahlah pusing juga kepala ini memikirkan negara yang sudah menyita banyak pikiran rakyat kecil.
"Tadi kamu ngapain aja di ruangan Pak Darta, padahal orangnya keluar?" tanya Mbak Lestari si ratu gosip.
"Nemuin Bos yang punya Caffe, Mbak." Jawabku jujur apa adanya.
"Serius kamu, Vi?" tanyanya seakan tak percaya.
"Iya, Mbak. Vio, sudah kenal yang punya Caffe ini dari dulu, malah dari Kakek Moyang kita!" jawabku santai dengan membuat adona kue.
"Hah, kok bisa?" tanyanya yang belum percaya
"Ya bisalah ... Mbak Tari aja yang nggak tau siapa aku sebenernya," jawabku. Ya, nggak taulah bahwa aku cucu sang Grandny dan Oppa, orang terkaya nomor tiga di negri ini. Itu pun aku taunya baru-baru ini. Aku aja cucunya yang dari dulu baru tau sekarang apalagi orang lain.
Jadi, si manusia yang biasa aku panggil Ayah itu hanya memanfaatkan kekayaan keluarga Ibuku saja. Tak ada kata cinta tulus yang ia berikan pedaku dan Ibuku, hanya ada cinta modus yang mempelancar jalannya fulus. Manusia-manusia serakah sekali Anda. Makin benci aja aku sama tuh lelaki.
BERSAMBUNG
__ADS_1
TERIMAKSIH YANG SUDAH MAU BACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE ATUH BIAR AUTNYA SEMANGAT. DAN SEMANGATIN VIO BIAR BAHAGIA, DENGAN CARA VOTE. SEKIAN TERIMA KASIH SEMUA. LOVE YOU ALL.