Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 16


__ADS_3

Aku pun menghampiri Mbak Laura yang lagi nyemil cantik di meja deket kasir. Makin aduhay aja tuh body Ibu hamil. Kalau cantik mah jangan diragukan masih sama cantiknya.


"Mbak, tadi kata Mbak Lestari ada yang nyariin aku, siapa dan dimana orangnya?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Eh Bu ...," jawabnya yang langsung ku potong.


"Jangan macem-macem!" ucapku dan tak lupa tatapan mematikan sudah ancang-ancang alias siap-siap.


"Maaf ... orangnya di meja nomor sembilan belas," jawabnya dengan gugup. Baru mau di kasih tatapan tajam aja sudah takut apalagi tak kasih beneran. Mangkanya Mbak jangan cari laki yang mulutnya kek perempuan.


Aku pun pergi beranjak ke meja nomor sembilan belas, sesuai dengan informasi yang aku dapatkan. Disana terlihat satu pria paruh baya mungkin seumuran dengan laki-laki pensil warna. Males aku di suruh manggil Ayah, tak kan ada Ayah yang tega nyariin Ibu baru untuk anaknya padahal Istrinya masih hidup.


"Permisi ... apa benar Bapak yang mencari saya?" tanyaku dengan suara lembut dan tak lupa dengan tersenyum manis. Pencitraan guys sama orang yang baru di kenal.


"Oh, kamu yang buat chese cake kah?" tanyanya. "Silahkan duduk sebentar, saya mau nanya sesuatu," sambunya mempersilahkan diriku ini untuk duduk cantik.


"Oh ... iya, Pak. Ada perlu apa ya, Pak?" tanyaku tanpa basa-basi, kelamaan kalau harus basa-basi telebih dahulu.


"Nama kamu siapa, Nak?" tanyanya dengan lembut. Kok aku takut sendiri yak sama nih Bapak-bapak.


"Nama saya Viola, Pak ... panggil Vio aja," tetep tak jawab atuh, orang nanya baik-baik masa nggak aku jawab.

__ADS_1


"Apa nama lengkap kamu, Viola Putri Fernaldi?" wah nih orang pasti indigo.


"Kok Bapak tau nama lengkap saya? padahal saya nggak nyebutkan nama lepangkap, apa bapak mempunya indera keenam? kata lainnya indigo!" tanyaku dengan heboh.


"Hehe ... apa kamu putri dari Mala Ashania Brawijaya?" kok tau nama Ibuku juga.


"Pasti Bapak indigo beneran," ceplosku, bukan jawab malah nebak.


"Nggaklah Vi, saya tau tentang kalian berdua. Apa Ibu kamu baik-baik aja?" ujarnya dengan sendu, kok Bapaknya pengen mewek sih, what happen Pak?


"Alhamdulillah untuk sekarang masih baik-baik aja, nggak tau ke depannya seperti apa," jawabku dengan lirih. Aku tak tau apa yang akan terjadi ke depannya bila laki-laki pensil warna memilih Tante Seli.


"Saya akan usahakan kalian berdua akan baik-baik saja," ucapnya dengan tegas.


"Nanti kamu akan tau, Nak. Papa titip Ibu ya, jaga Ibu baik-baik!" aku pun semakin terkejut.


"Papa ...," ucapku dengan bingung.


"Papa titip salam ya buat Ibu, bilang dapat salam dari Papa Malik," tambah bingung akunya, aku hanya punya satu Papa yaitu Papa Rian.


"Baiklah akan saya sampaikan pesan, Bapak," jawabku. Lebih baik tak iya'in aja dari pada ribet.

__ADS_1


"Papa akan perjuangkan keluarga kita, Nak. Papa janji nggak akan melepaskan kalian lagi!" aduh Pak tambah bingung akunya.


Akhirnya kita berdua bicara ngalor-ngidul yang nggak aku paham sama sekali. Kenapa Bapak tadi nyuruh aku buat panggil beliau Papa, aku juga nggak tau alasannya. Ya sudahlah, aku ikutin kemauannya. Katanya beliau akan memperjuangkan aku dan Ibu untuk hidup bersama lagi. Aku pun bertanya, emang kita bertiga pernah hidup bersama, tapi kok aku nggak tau. Hanya Ibu yang bisa jawab semua apa yang ada di otakku. Okelah, nanti malam kita Introgasi si Ibu kalau si laki-laki pensil warna tidak pulang ke rumah.


Selepas Bapak Malik pamit aku pun langsung melakukan pekerjaanku yang tertunda gegara tamu-tamu yang mencariku. Sedikit cerita dari Pak Malik tadi, beliau mencari aku karena makan chese cake. Kata beliau chese cake yang aku buat rasa dan tekstur mirip banget dengan buatan seseorang, dan seseorang tersebut adalah Ibuku sendiri. Kata beliau juga, kue tersebut kesukaan beliau dan Ibu. Dulu mereka sering buat kue tersebut bersama, ketika aku dan Kak Alshad tidur. Entah siapa yang namanya Kak Alshad itu, tapi kata Pak Malik, Kak Alshad sekarang berada di Shanghai, China. Entah apa hubungannya denganku sampai beliau bicarain dia dengan aku, aku pun tak tau siapa dia.


"Siapa Bapak-bapak tadi, yang pengen ketemu lo, Vi?" duh nih Mbak LamTur kepo banget jadi orang.


"Orang yang boking gue, Mbak ... puas?" jawabku dengan jutek.


"Hah ... serius lo, Vi ... gue kira lo tuh pendiem ya, eh ternyata aslinya kok jadi cewek murahan," ini waktu yang pas buat dia diem, biar nggak semena-mena sama hidup orang. Sudah dari pertama masuk kerja nih orang sukanya gosip melulu dan semua pegawai disini di buka sama dia aib mereka. Padahal sudah ada larangan menggosip di Caffe ini tapi nih Mbak LamTur makin meraja lela aja ngegosipnya. Dia pegawai senior kagak tapi kelakuannya menguasai nih Caffe.


"Mbak Lestari tau apa tentang kehidupan pribadi saya, jangan sok-sok'an deh nilai hidup orang kalau hidup Mbak aja masih amburadul. Ngatain saya murahan lagi, saya aja bisa pecat Mbak sekarang dan nggak akan ada yang mau kasih kerjaan ke Mbak. Mbak belum tau siapa saya dan keluarga saya so jangan macem-macem sama saya. Satu lagi kalau sampai saya dengar Mbak ngegosip semua pegawai disini, Mbak siap-siap dapat balasan dari saya. Pegawai baru aja sudah mengusai nih Caffe padahal yang punya Caffe diem aja," cerocosku kek rumus persegi panjang yaitu panjang kali lebar.


Diem kan lo, anak baru aja sudah bikin ribut di Caffe. Dulu sebelum ada dia nih Caffe baik-baik aja pegawainya, tapi setelah dia masuk semua pegawai pada diem dan nggak ada yang bercada lagi. Hanya aku yang mulai duluan ngajak bercanda, padahal dulu semua pegawai pada lomba komedi.


Kalau berani lawan aku siap-siap aja dapat balasan. Belum tau siap aku dah ngatain orang Mbak Jal. Tadi sebelum ke Pak Malik aku nggak sengaja dengar tuh orang jelek-jelekin aku di depan semua pegawai, untung saja pegawai disini nggak suka juga sama tuh orang. Nyebar fitnahnya terlalu sering jadi ya nggak ada yang percaya. Mungkin fitnah dan adu domba dah jadi makanan dia sehari-hari kali ya, soalnya nggak ada takut-takutnya sama dosa. Heran juga sama nih orang, mungkin nggak sih kalau anaknya Haji Muhidin yang sesungguhnya, soalnya suka cari gara-gara sama orang lain, apalagi kalau tuh mulut dah mangap pasti kata-katanya nyakitin hati orang.


"Inget kata-kata ku tadi, kalau sampai aku denger Mbak Lestari jelek-jelekin aku di depan pegawai yang lain, Mbak siap-siap cari kerjaan baru, tapi kalau bisa," ancamanku untuk memperingatinya agar menghilangkan sifatnya yang buruk itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


TERIMA KASIH UNTUK SEMUA YANG BACA NOVEL UANG KOIN INI. AUTHORNYA MINTA LIKE DONG SEBAGAI DUKUKANGANNYA DI KOMEN JUGA SIAPA TAU AUTHORNYA DAPAT IDE DARI KALIAN. SEKALI LAGI TERIMA KASIH DAN JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE. LOVE YOU ALL.


__ADS_2