
Ki sudah hari ke empat aku berada di Shanghai. Kemarin lusa Ibuku dan Papa Malik kembali menikah atas izinku. Aku pun bahagia atas bersatunya kedua orang tuaku. Mereka berpisah selama kurang lebih dua puluh satu tahun, dan kini mereka bersatu di sisa usia masa tua mereka. Perceraian Ibuku dan Hans berjalan dengan lancar, karena uang Papa Malik yang bertindak.
Tak salah bila keluarga hancur karena uang. Saudara saling bermusuhan dan membunuh satu sama lain karena uang. Orang tua dan para Anaknya sering kali adu mulut juga karena uang. Sungguh sangat besar sekali dampat dari uang untuk kehidupan manusia. Dengan uang yang tidak bisa terjadi dengan mudah, semua akan terjadi dengan mudah karena uang yang bertindak. Uang, uang aku juga butuh uang.
Apakah aku ini manusia tamak dalam mencari uang. Kartu yang di beri Papa Malik untuk membeli sepuluh pulau aja sisanya masih lebih banyak. Tapi kenapa aku malah suka jadi pelayan. Punya usaha pun aku serahkan kepada orang untuk mengelolanya. Sedangkan diri sendiri memilih lelah menjadi pelayan dari pada duduk manis menikmati kerja keras orang. Sungguh aneh sekali diriku ini.
Hari ini aku di janjikan Papa Malik akan pergi jalan-jalan. Aku pun sekarang sedang bersiap-siap untuk pergi berlibur dengan keluargaku ini. Aku memaikai celana yang aku desain sendiri, baju yang aku pakai pun sama. Dimana celana yang aku desain seperti menggunakan rok padahal ini celana. Sedangkan bajunya aku desain polos tapi terkesan mewah. Baju yang aku pakai, aku masukan ke dalam celana, ya kalian pikir saja seperti cara berpakaian anak sekolah bagaimana.
Aku pun terun menuju ruang keluarga karena disana Ibu dan Papa sedang menunggu. "Kak Alshad mana? kok belum keliatan," tanyaku setelah sampai di ruang keluarga.
"Masih siap-siap, tadi ada pekerjaan yang harus di urus dulu, jadi dia siap-siapnya paling akhir," jawab Papa menerangkan.
"Dari mana kamu dapat baju ini, Vi. Perasaan Ibu nggak pernah kita beli baju itu deh," tanya Ibuku heran melihat pakaianku.
"Hehehe ... ini baju dari toko Vio, Bu. Mau Vio jual tapi sayang, jadi Vio pakai sendiri," jawabku dengan tertawa sungkan.
"Kamu pesannya dimana? kok bagus banget disainnya," tanya Ibu kembali.
"Vio, desain sendiri, Bu," jawabku dengan tersenyum manis.
"Kenapa Ibu nggak di buatin juga?" tanyanya dengan wajah cemberut, yang membuat Papa Malik tetawa.
"Kamu kok masih sama seperti dulu sih, Bu," ujar Papa Malik dengan tertawa, yang membuat wajah Ibu semakin cemberut.
__ADS_1
"Ayo ke kamar Vio kalau gitu, biar kita kembaran bajunya." Ucapku dan mengandeng Ibu untuk pergi ke kamarku.
"Kalian mau kemana? kok balik lagi," tanya Kak Alshad saat bersimpangan dengan kita berdua.
"Bentar Kak, tunggu dulu sebentar. Ibu mau ganti baju dulu," selesai menjawab aku pun langsung pergi biar nggak di tanya lebih jauh lagi oleh Kak Alshad.
Aku pun memberikan baju dan celana yang sama seperti yang aku pakai ke Ibu, hanya beda warna saja milikku dan milik Ibu. Tak lupa aku pasangkan dengan pashmina pula baju yang Ibu pakai, sepertiku. Dan kini sudah selesai, sungguh cantik sekali jalan surgaku ini. Meskipun sudah memasuki usia kepala empat, tapi kecantikan yang beliau miliki tak pudar sama sekali.
"Ayo kita berangkat jalan-jalan sekarang," ujarku setelah aku dan Ibu sampai di ruang keluarga.
"Wow, kedua bidadariku cantik banget hari ini," ucap Papa Malik saat melihat aku dan Ibu.
"Emang kemaren-kemaren kita nggak cantik?" tanya dengan nada agak ketus.
"Cantik, tapi hari ini jauh lebih cantik," jawabnya dengan gugup.
Aku pun duduk di belakang dengan Kak Alshad, sedangkan Papa yang bawa mobilnya dan di temani Ibu yang duduk di sampingnya. "Kakak udah kenal sama Kak Juan?" tanya kepada Kak Alshad.
"Ya kenal lah, dia juga sering kesini sama Julio dan Farhan juga, kamu aja Saudara yang baru aku kenal," jawabnya dengan senyum mengejek.
"Hah, awas saja mereka ...," geramku. Kenapa nggak ada yang cerita setidaknya kan aku di kenalkan gitu, nggak usah bilang kalau Kak Alshad saudaraku kan bisa. Aku pun langsung Video call mereka bertiga. Dan secara bersamaan mereka menjawab Video call dariku.
"Assalamu'alaikum ...," salamku terlebih dahulu.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam ...," jawab mereka bersamaan.
"Kalian pernah sering kesini, tapi kenapa nggak pernah kasih tau aku? Kalian juga kenal Kak Alshad kenapa nggak kenalin ke aku?" tanyaku dengan menggebu-gebu, dan tak lupa menatap tajam mereka.
"Maaf ...," ucap mereka bersamaan dan menundukan kepala mereka. Mereka menundukan kepala karena taku melihat mataku yang menatap mereka tajam.
"Ha ha ha ... kalian takut sama, Lala?" ujar Kak Alshad dengan tertawa terbahak-bahak.
Aku pun langung menatapnya dengan tajam. Dia masih tertawa terbahak dan tidak menyadari tatapanku. "Maaf, La ...," ucapnya ketika melihat tatapanku yang sedari tadi menatapnya tanpa berpaling.
"Kalian keterlaluan banget sama aku, kalau keluar negeri tuh mbok ya ngajak aku. Uang kalian lebih banyak dari aku, tapi pelitnya minta maaf," omelku dengan menggebu-gebu pula.
"Lain kali kita libur berlima, kalau kita ada waktu luang bersamaan," jawab Kak Juan yang masih menundukkan.
"Baik, minggu depan kita berlima harus jalan-jalan ke Paris, nggak ada penolakan atau bantahan," ujarku dengan nada tegas. Mereka pun menganggukan kepala, tak berani mengeluarkan suara sama sekali.
Aku pun mematikan sambungan Video call kita berempat. Dan melanjutkan pembicaraan kita melalui game online. Karena hari ini bertepatan hari minggu, jadi kita bisa main di pagi hari. Kak Fito nggak bisa ikut main, karena jadwal prakteknya pagi hari. Ya, Kak Fito adalah seorang Dokter di Rumah Sakit milik Papa Malik. Sebab itulah dia berpura-pura menjadi jenazah Ibuku. Kalau ingat bantuan dia kemaren rasanya terharu dan pengen ketawa melulu, tapi ya sudahlah kalau nggak ada dia, kita bakal kesulitan cari orang yang mau di sholatkan sebelum waktunya.
Papa dan Ibu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku. Emosiku mudah redam dan mudah meluap juga. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu, entah aku kurang sabar atau memang hatiku mudah tersakiti dan memaafkan.
Kita pun bicara dengan main game. Ternyata eh ternyata Kak Alshad juga sering main bareng dengan sepupuku kalau aku tak bisa ikut main, tapi ya gitu kalahnya lebih banyak ketimbang menangnya. Main game ini kalau nggak sama aku nggak akan menang karena aku sudah hafal bagaimana caranya melawan musuh kita.
BERSAMBUNG
__ADS_1
TERIMA KASIH TERUNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE DAN COMEN ATUH, KALAU BISA MAH DI VOTE JUGA.
LOVE YOU ALL.