
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya aku sampai di depan Kampus dengan selamat. Dari kejauhan ku lihat ada seorang Kakek yang hendak menyebrang jalan, karena aku merasa akan terjadi sesuatu bila Kakek tersebut tak ada yang bantu menyebrang akhirnya ku hampiri beliau untuk membantu menyebrang. Tiba-tiba saat aku sampai di sampingnya ada Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dengan refleks aku langsung menarik Kakek untuk menghindari Mobil tersebut. Meskipun lutut ini sakit, tapi tak masalah bila di banding melihat orang lain becucuran darah.
"Kakek, tidak apa-apa?" tanyaku dengan menatap Kakek harap-harap cemas dengan kondisinya.
"Tidak apa-apa, Nak ...," jawabnya dengan tersenyum. Aku pun langsung berdiri membersihkan pakaian yang kukenakan.
"Mari, Kek. Vio, bantu!" aku pun membantu Kakek tersebut untuk berdiri.
"Makasih ya, Nak." Ujarnya setelah beliau berdiri dengan sempurna.
"Iya Kek, sama-sama. Kakek serius nggak ada yang sakit?" jawabku dan memastikan kondisinya kembali.
"Tidak, Nak. Kalau boleh tau nama kamu siapa, Nak?" ujarnya dengan menatapku.
"Nama saya Viola, Kek. Bisa Kakek panggil Vio," jawabku dengan tersenyum manis beliau pun menganggukan kepalanya tanda paham.
"Oh ya kenalkan kalau Kakek namanya Samsudin," ucapnya dengan mengulurkan tangannya. Aku pun menerima uluran tangan beliau dan langsung mencium tangannya setelah menganggukan kepala sebab sudah tau namanya.
"Kek, Vio ke kelas dulu ya, soalnya sudah mau masuk takutnya nggak di bolehin masuk sama Dosennya," ujarku setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku.
"Iya, Nak. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu ya," ucapnya dengan mengelus kepalaku yang berbalut dengan hijab.
"Aaamiin ... Vio ke kelas dulu ya, Kek! Assalamualaikum ...," Ujarku dengan mengulurkan tanganku.
__ADS_1
"Iya, Nak. Wa'alaikummusalam Warahmatullahi Wabarakatuh ...," jawabnya dan membalas uluran tangan ku.
Aku pun langsung bergegas masuk ke Kampus selepas mencium tangan Kakek Samsudin. Menurutku orangnya sangat baik karena dari tutur katanya sangat lembut bak rambut Syahrini. Ya sudahlah, semoga kita bisa bertemu di lain waktu, Kek.
Sesampai di kelas aku pun langsung duduk di bangku kesayanganku saat ini. Hari ini hanya ada mata kuliah Pak Justin. Jadi ada rasa cemas gimana gitu, karena kemaren aku hampir nabrak beliau, pas beliau di Caffe tempatku mengais uang. Jadi nih jantung masih deg deg seerrr untuk bertemu beliau. Ya sudahlah kan nggak sengaja juga, kalau beliau marahin aku di sini berarti beliau sebagai Dosen nggak profesional dong, masa urusan pribadi di sangkutkan dengan urusan belajar kan nggak baik.
"Hallo, boleh kenalan nggak?" eits tiba-tiba ada yang ngajak kenalan guys.
"Oh, Hallo ...," Jawabku dengan tersenyum manis.
"Namuku Zahra, kalau nama kamu siapa?" ujarnya dengan mengulurkan tangannya.
"Namaku Viola. Panggil Vio aja," jawabku dengan membalas uluran tangannya.
"Kalau aku panggil Zahzah nggak boleh?" tanyaku dengan muka sok polos. Dia kaget aku tanya seperti itu.
"Canda, Ra. Jangan masukin ke hati masukin aja ke jantung," ucapku enteng bak mengangkat angin.
"Hehehe ...," dia malah ketawa kan aneh kek Mbak Kunti. Tiba-tiba ketawa padahal nggak ada yang lucu.
"Apanya yang lucu Ra?" tanyaku bingung, kan emang nggak ada yang lucu.
"Kamu yang lucu, Vi," jawabnya dengan tersenyum, sekarang aku yang bingung. Nih anak waras kagak ya, jadi ngeri sendiri akunya.
__ADS_1
"Terserah kamu, Ra," Ujarku mengakhiri obrolan gak jelas ini.
Aku pun fokus dengan tujuan utamaku datang ke Kampus, yaitu untuk mencari ilmu bukan mencari teman. Aku jarang sekali berteman karena kebanyakan teman buat aku sakit hati. Dulu ada anak yang aku anggap sahabat baik aku, tapi apalah daya dia hanya memanfaatkan ku untuk dekat dengan Bang Refan. Bang Refan sendiri Kakak kelas aku pas sekolah, dia juga tetangga aku, jadi wajar kalau aku dekat dengan dia.
Dari Bang Refan lah aku di manfaatin sama si Naura. Padahal kita sahabatan dari SMP sampai SMA. Pas waktu SMA kelas dua belas, dia tuh terus menerus jelekin aku di depan anak-anak padahal aku nggak seperti yang dia bilang ke anak-anak. Dia bilang aku anak haramlah, anak yang suka tidur sama Om Hidung Pensillah, masih banyak lagi. Kalau di ceritain sampai kiamat nggak bakal selesai. Aku mah tak ambil pusing, toh suatu saat dia juga dapat balasannya juga.
Dari situlah aku sudah nggak mau punya sahabat atau pun teman. Sahabat aja bisa jadi musuh apalagi teman. Aku sih nggak pernah di ajarin dendam sama Ibu, tapi rasanya gimana gitu. Tapi ya sudahlah biar suatu saat dia juga yang dapat balasannya atas apa yang dia perbuat karena fitnah aku. Bukankah fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. So, biarkan dia sesuka hatinya menjelekkan namaku yang terpenting aku tak pernah berbuat seperti apa yang ia ucapkan.
Memang aku tidak dendam tapi bukan berarti aku juga lupa. Aku perperinsip seperti Pak Abdurrahman Wahid atau bisa kita sapa dengan Gus Dur. Bahwa dendam tidak, lupa pun juga tidak. memaafkan iya, tapi untuk melupakan tidak.
Jadi manusia tegar tuh mudah saja asal kita lapang dada menerima cobaan hidup yang datang secara tiba-tiba. Tergantung iman tidakkah kita sama sang pencipta, besyukur tidakkah kita masih di beri napas oleh sang pemilik alam semesta. Kalau kejahatan di balas dengan kejahatan kapan baik di balas dengan kebaikan, kalau kejahatan terus meraja lela. Kunci utama jadi orang baik tuh cuman satu yaitu sabar itu menurutku, entah menurut kalian atau orang lain.
Sabar itu tidak akan ada habisnya, kalau habis, sudah dari dulu Nabi Muhammad membunuh orang-orang kafir yang selalu mengusik kehidupannya. So, kalau kalian pernah denger sabar itu ada batasnya, berarti orang tersebut bukan sabar, tetapi dia menunggu waktu yang tepat untuk membalas perlakuan kejahatan orang lain.
Kalau kalian pernah mendengar atau membaca tentang orang yang jahat, tetapi aslinya baik. Ada kata-kata seperti ini ORANG JAHAT TERCIPTA DARI ORANG BAIK YANG TERSAKITI itu tuh kata yang salah besar menurutku. Kalau orang baik tuh nggak akan jahat, mau di apain dia tetep aja baik. Bukankah kunci kebaikan dari diri seseorang adalah untuk selalu bersabar.
Kalau dia jahat berarti dia nggak baik harusnya kata-kata tersebut tuh di rubah seperti ini ORANG JAHAT TERCIPTA DARI ORANG YANG BALAS DENDAM. Orang baik mah baik-baik aja meski tersakiti, nggak ada orang baik berubah jadi jahat karena tersakiti. Karena itu namanya balas dendam, kalau orang balas dendam sudah dari awal memang ia tak baik. Buktinya dia balas dendam, karena balas dendam adalah satu sifat tak baik yang akan memicu orang untuk melakukan tindak kejahatan.
jadi untuk para pembaca jika kalian ada sifat dendam mari kita sama-sama menghilangkan sifat tersebut. Mari kita ikuti prinsip Gus Dur, Bapak Presiden ke empat kita. Dendam jangan, lupa tidak.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH TERUNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI KOMEN DAN DI VOTE ITUNG-ITUNG SEDEKAH. SATU LAGI MARI KITA HILANGKAN SIFAT DENDAM AGAR MENJADI ORANG BAIK SEUTUHNYA. SEKALI LAGI TERIMA KASIH, LOVE YOU ALL
__ADS_1