
Kini sudah dua minggu setelah pertemuanku dengan Pak Malik, dan selama itu hanya dua hari laki-laki hidung pensil warna pulang ke rumah. Biarlah dia mau berbuat apa, toh dosa yang nanggung dia sendiri. Aku sudah pasrah dia mau gimana, mau selingkuh dari Ibu silahkan aja. Toh Ibuku juga sudah ikhkas dan pasrah.
Hari ini aku berangkat ke Kampus naik ojek online. Di rumah tadi ada mobil baru tapi entah milik siapa, aku pun tak tau. Kemaren tiba-tiba pulang dari kerja itu mobil dah parkir cantik di garasi, padahal pas berangkat kuliah tuh mobil kagak ada. Berarti kan itu mobil baru kemaren siang di anterin ke rumah. Pas aku tanya ke Ibu itu mobil siapa, beliau juga nggak tau siapa yang beli. Kan membingungkan buat kita berdua. Ya sudahlah biarkan saja tuh mobil.
Hari ini mata kuliahku ada satu dan itu waktu pagi, jadi ya kira-kira pulang kuliah pukul 10.00. Aku mau mampir ke rumah yang di beri Bi Tati untukku. Aku sama sekali nggak ada niatan buat ngejual itu rumah. Meskipun suatu saat aku punya rumah sendiri, mungkin rumah peninggalan Bi Tati akan aku kontrakkan dari pada di jual. Toh kalau aku mau kabur bisa ke rumah itu, soalnya kagak ada yang tau itu rumah.
Kalau bahas soal Bi Tati, aku ingat uang yang aku pinjam ke Kakek Samsudin. Aku lupa menghubungi beliau dari kemaren. Karena terlalu banyak pikiran nih otak nggak bisa bekerja dengan normal seperti biasanya. Nanti ajalah setelah selesai dari rumah Bi Tati, aku pergi ke rumah Kakek Samsudin. Untung nih kartu nama beliau masih di dompet, kalau nggak ada gimana aku mau balas kebaikan beliau coba.
Mata kuliahku hari ini di bimbing oleh Pak Justin, Dosen yang sangat killer kalau ada Mahasiswanya yang tidak mengumpulkan tugas darinya. Hanya satu orang yang buat masalah, sembilan belas orang yang ikut dapat akibatnya. Memang tidak adil untuk kita, tapi adil untuk yang buat masalah.
Waktu pun tak terasa berjalan, entah mungkin karena aku bangak pikiran atau karena memang sudah waktunya Bumi berhenti dalam masa rotasinya. Entahlah hanya Tuhan yang tau.
Dan kini aku sudah sampai di dalam kelas. Aku duduk, aku diam, dan aku menanti. Tak berselang lama Pak Justin pun masuk ke kelas.
"Assalamu'alaikum ... selamat pagi semua ...," salamnya saat memasuki kelas.
"Wa'alaikummusalam Pak ...," jawab kita semua dan perlu kalian tau bahwa teman sekelasku muslim semua, jadi semua di biasakan untuk mengucapkan salam.
"Silahkan kalian kumpulkan tugas yang saya berikan minggu kemaren," tagihnya seperti rentenir. Untung semuanya pada ngerjain tugas, kalau nggak ya nggak jadi aku ke rumah Kakek Samsudin.
Pak Justin pun menerangkan materi selanjutnya setelah kita semua mengumpulkan tugas minggu kemarin. Aku pun mencatat pokok-pokok penting yang beliau terangkan. Soal teman di Kampus pun aku tak punya teman. Bukan karena tak ada yang mau berteman dengan aku, memang aku tak mau punya teman dan bukan berarti aku sombong, tapi aku nggak mau sakit hati lagi gara-gara teman. Cukup satu kali sakit hati gara-gara teman. Mungkin salahku yang tidak bisa membedakan mana teman berwajah lawan dan mana lawan yang berwajah teman. Aku sama sekali tidak bisa membedakan semua itu.
Aku juga takut salah megartikan niat orang, karena menurutku semua orang baik. Kalau dulu mereka baik terus jadi jahat ya berarti mereka punya dua sifat yaitu baik dan jahat. Tak ada istilah orang jahat tercipta karena orang baik yang tersakiti. Semua salah seperti yang pernah ku bilang, kalau baik mah baik aja, dan kalau jahat ya jahat aja. Kalau mau dua-duanya ya silahkan.
Dua jam berlalu dan Pak Justin selama dua jam hanya bicara sendiri. Nggak ada yang berani bertanya kalau belum beliau yang mulai buka sesi tanya jawab. Mungkin nggak ada anak yang mau tanya, soalnya waktu bimbingan beliau sudah selesai. Karena kita Mahasiswa dan Mahasiswi teladan, jadi kita budi dayakan tepat waktu. Kalau waktu belajar sudah selesai kita harus mengakhiri belajar tersebut meskipun sang Dosen masih ada. Kalau kalian berani sama Dosen kalian ya tak masalah.
Aku pun pesan ojek online kembali untuk ke rumah peninggalan Bi Tati. Aku pergi ke depan Kampus menunggu Abang Ojol pesananku. Biarlah teman-teman kelasku berteman dengan banyak teman semasih mereka muda, biarkan sesuka hatinya.
Kini aku sudah sampai di rumah yang akan aku tinggali bila ada masalah denganku. Meskipun tak terlalu luas, tapi menurutku ini sudah cukup dari pada mereka yang harus tinggal di pinggiran toko karena tak punya uang buat beli rumah, jangankan untuk beli sewa rumah saja mungkin mereka tak mampu. Kalau saja aku jadi Presiden, akan aku buatkan rumah untuk mereka huni. Tapi sayang seribu sayang, aku tak berniat untuk menjadi Presiden, apalagi ikut politik tidak ada dalam kamusku.
Aku pun mulai membersihkan rumah ini. Terkadang seminggu dua kali atau tiga kali aku membersihkan rumah ini, biar nggak ada yang huni kalau di bersihkan. Rumah ini lumayan untuk dihuni tiga orang, karena disini ada tiga kamar dan dua kamar mandi. Dapurnya juga lumayan bagus, ruang tamunya juga sama, menurutku rumah ini minimalis tapi terkesan mewah . Di ruang tamu aku pasang foto aku dan Bi Tati saat aku masih kecil. Tak lupa di dalamnya juga ada foto suami dan anak Bi Tati. Ku pandangi wajah mereka satu persatu secara bergantian, tak terasa air mata ini pun jatuh dengan sendirinya.
"Semoga kalian tenang di alam sana, Vio tidaklah tau bagaimana alam disana, yang pasti Vio akan selalu do'akan kalian di setiap do'a-do'a Vio. Semoga kalian hidup bersama di alam sana. Vio sangat sayang kalian bertiga." Ucapku dalam hati dan air mataku pun tak berhenti mengalir. "Aku tak boleh terus-turusan menangisi kepergian mereka, cayo Vio ... cayo ...," sambungku dan menyemangati hatiku pula.
Aku pun melanjutkan membereskan rumah kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, aku harus segera ke rumah Kakek Samsudin karena nanti pukul 13.30 aku harus sampai ke Caffe, biar nggak ada yang ngegosipin aku, gara-gara nggak biasanya berangkat lebih dari pukul tersebut.
Setelah selesai membereskan semuanya aku pun mengunci rumah tersebut. Kalau warga sini mah nggak akan mungkin ada yang mau maling, karena pemukiman disini rata-rata orang ahli ibadah. Mereka lebih takut sama Tuhan dari pada kelaparan. Tapi kan manusia nggak ada yang tau isi hati manusia lain. Dalamnya lautan bisa di ukur, tapi dalamnya hati manusia siapa yang bisa mengukur. Kata Author aja, dia diam dirumah masih ada yang fitnah apalagi keluar rumah, itulah hati manusia yang penuh kepalsuan. Kelihatannya dari luar baik tapi siapa yang bisa melihat dalamnya, kalau bukan sang pencipta saja. Ya sudahlah, biar mereka yang dapat balasan dari Tuhan atas tindakan mereka seperti itu.
Aku pun sudah berada di depan rumah yang bernuansa khas Eropa. Sepertinya benar ini rumah Kakek Samsudin, kalau dilihat dari rumahnya uang yang beliau pinjamkan ke aku ya nggak ada apa-apanya. Ku coba pencet tombol bel rumah. Sekali belum ada yang keluar, dan ketiga kalinya baru pagar rumah tersebut terbuka.
"Assalamu'alaikum ... maaf Pak, apa betul ini rumah, Kakek Samsudin?" tanyaku kepada Pak Satpam yang membuka gerbang.
"Wa'alaikummusalam ... iya betu Mbak. Kalau boleh tau ada apa ya, Mbak?" jawabnya sekalian memberikan pertanyaan.
"Maaf, Pak ... perkenalkan nama saya Viola, apa saya boleh bertemu dengan Kakek Samsudinnya?" ujarku to the point.
__ADS_1
"Sebentar ya, Mbak ... saya konfirmasi dulu ...," ujarnya Pak Satpam.
"Silahkan, Pak ...," jawabku dengan tersenyum. Jangan norak Vi, di rumah Oppa dan Grandny juga kek gitu kalau ada tamu baru di kenal.
"Silahkan masuk, Mbak ... Tuan besar sudah menunggu Anda," ucap Pak Satpam setelah lima menit melaporkan tentang keberadaanku.
"Baik, Pak ... tolong antarkan saya kedalam, boleh?" jawabku dengan agak sungkan.
"Boleh, Mbak ... silahkan ikuti saya ...," ucap Pak Satpam. Aku pun mengikuti Pak Satpam dari belakang. Di depan pintu terlihat Kakek Samsudin dengan seorang laki-laki seumuran Kak Julio dengan wajah dingin.
"Assalamu'alaikum, Kek ...," salamku setelah aku berdiri di depan beliau dan langsung mencium tangan beliau.
"Wa'alaikummusalam, Nak ... mari kita ngobrol di dalam," jawab Kakek Samsudin. Aku pun menganggukan kepala setelah menjawab ajakannya masuk ke dalam rumah mewah yang bernuansa Eropa ini.
"Silahkan duduk dulu, Vio ...," ujarnya setelah kita bertiga sampai di ruang tamu.
"Baik, Kek ...," jawabku dengan sopan.
"Perkenalkan ini cucu Kakek, namanya Lindra," Kakek Samsudin mengenalkan sang laki-laki yang berada disampingnya.
"Perkenalkan, Kak ... nama saya Viola panggil Vio saja," ucapku memperkenalkan diri dan tak lupa mengatupkan kedua telapak tanganku.
"Hemmmmm ...," jawabnya. "sombong amat," ucapku dalam hati dengan tersenyum sinis.
"Kenapa kamu baru datang sekarang, Vi ... dari kemarin Kakek nungguin kamu datang," tanya Kakek Samsudin memulai pertanyaannya setelah terjadi jeda tiga menit.
"Ohh ... kedepannya kamu harus sering kesini ya, Nak ... biar Kakek ada temannya," pinta Kakek Samsudin.
"In syaa allah, akan Vio usahakan," jawabku.
Kami berdua pun bicara kesana kemari tanpa membawa alamat. Sedangkan laki-laki yang berstatus cucu Kakek Samsudin hanya diam sambil melihat layar ponselnya. Kalau aku mah masa bodoh, mau jungkir balik dari dunia Teletubies ya silahkan.
Amit-amit kalau sampai aku punya suami yang mukanya kek triplek gitu. Nggak ada sopan-sopannya jadi orang. Cakep mah cakep tapi nggak usah kek gitu, di kira dia sendiri yang tampan. Noh, Kakak gue pada tampan semua, lebih tampan mereka dari pada lo.
"Lindra ke dalam dulu, Kek," pergi dah dari pada ngerusak nih mata.
"Iya ...," jawab Kakek Samsudin dengan acuh. Kakeknya aja muak lihat tingkahnya apalagi aku.
Kami berdua pun melanjutkan pembicaraan kami lagi. Ternyata Kakek Samsudin orang yang sangat baik. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.45. Aku lupa belum sholat dhuhur karena keasikan bicara sama Kakek Samsudin.
"Di rumah ini ada Musholanya, Kek?" tanyaku agak sungkan.
"Ada Nak ... Vio, belum sholat kah?" tanyanya dengan tersenyum.
"Hehehehe ... belum Kek, tadi Vio langsung kesini jadi lupa belum sholat," jawabku dengan cekikikan.
__ADS_1
"Baiklah, kamu sholat dulu ... Kakek tunggu kamu disini aja, biar kamu di antar sama pelayan disini," ucap Kakek Samsudin.
Aku pun menganggukan kepala dan tersenyum sebagai jawaban. Kakek Samsudin pun langsung memanggil pelayan disini untuk membawaku ke Mushola. Aku pun mengikuti pelayan tersebut.
"Terima kasih ya, Bu ...," ucapku dengan sopan setelah sampai di depan Mushola.
"Sama-sama, Non ...," jawab pelayan tersebut.
"Panggil Vio aja, Bu ...," ucapku dengan tersenyum manis.
"Baiklah, Nak Vio. Bibi tunggu di depan sini ya?" ujar Ibu tersebut.
Aku pun masuk ke Mushola setelah menjawab perkataan Ibu pelayan tersebut. Manusia ya begini sering lupa soal akherat. Padahal dunia hanya sementara, tapi masih aja di kejar. Akherat yang pasti aja tidaklah di pikirkan, mau di bawa kemana ini hidup kalau kita tak memikirkan akherat. Biarkanlah, mereka yang hanya memikirkan dunia sesuka hatinya bertindak. Yang penting diriku pribadi jangan sampai seperti itu.
Aku terlahir dari keluarga yang kaya tidaklah membuatku untuk menjadi orang sombong apalagi songong kek cucu Kakek Samsudin tadi. Apasih yang mau kita sombongkan, sang pencipta yang punya dunia ini aja kagak sombong, tapi kita yang dititipkan kekayaan sombongnya Naudzubillah. Semuanya dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan pula, Bukan.
"Mari, Bu. Vio, sudah selesai ...," ujarku setelah keluar dari Mushola.
"Mari, Nak ...," jawab Ibu pelayan tersebut.
"Kalau boleh tau, nama Ibu siapa?" tanyaku dengan sopan.
"Nama Bibi, Sumi Nak ...," jawabnya dengan tersenyum.
"Baiklah, Bu Sumi ... semoga suatu hari kita bisa bertemu kembali," ucapku dengan tersenyum.
Aku pun kembali menemui Kakek Samsudin di ruang tamu. Aku harus segera pamit buat kerja, sebelum telat pada jam yang aku tentukan.
"Kek, Vio pamit kerja dulu ya," pamitku setelah sampai di ruang tamu.
"Kok cuman sebentar main kesininya," jawab Kakek Samsudin tak rela bila ku pergi.
"Besok-besok kalau ada waktu Vio bakal kesini lagi, Kek. Tapi Vio nggak janji ya," ucapku dengan tersenyum.
"Baiklah, Kakek akan tunggu kedatangan kamu," jawab Kakes Samsudin dengan tersenyum.
Aku pun di antar Kakek Samsudin langsung ke depan. Ternyata di depan ada si cucu Kakek Samsudin dengan seorang perempuan sexy. Cantik mah cantik Mbak, tapi ya nggak usah tebar aurat napa. Sepertinya aku pernah lihat dia, tapi entah dimana.
"Oh ini ya Bie ... Jal***nya Kakek kamu ...," Mbak sexy nunjuk aku sambil ngatain aku perempuan bayaran.
"Astagfirullah Mbak ... orang tua kok Mbak katain kek gitu, kalau mau ngatain orang tuh ngaca dulu ... ngatain saya perempuan murahan tapi situ yang terlihat lebih murahan." ujarku tak terima karena aku di katain perempuan murahan.
"Kalau nggak murahan apa namanya ... masa ada Kakek-kakek yang ngasih uang percuma ke kamu," jawabnya sambil nunjuk aku.
BERSAMBUNG
__ADS_1
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE YA. TERIMA KASIH, LOVE YOU ALL.